Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 25


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Sakya membelah padatnya jalanan ibukota. Setelah berhasil meyakinkan Fio, Sakya segera memilih kembali pulang meskipun keadaan Fio masih kurang sehat. Saat itu tujuan Sakya adalah menemui kedua orang tuanya Fio. Mungkin dengan cara seperti ini ibunya Sarah akan berhenti ikut campur dengan kehidupannya meskipun Sakya harus mengorbankan Fio.


Sepanjang perjalanan tidak ada sebuah percakapan, karena Fio memilih untuk memejamkan mata, ditambah lagi Nesya yang juga memilih tidur di pangkuan Fio.


Perjalanan panjang telah berhasil Sakya tempuh dan saat ini mobil Sakya telah berada di depan rumah Fio.


"Fi, bangun! Udah sampai!"


Fio mulai mengerjap pelan dengan mata yang masih berkunang-kunang. Kepalanya berata serta perut yang sudah mual ingin muntah.


"Lho ... kok di rumah ibu?" Fio terkejut.


Belum juga Sakya menjawab pertanyaannya, ibu Fio sudah tergopoh menuju mobil Sakya. Dengan senyum yang memerkah, bu Laila sudah tak sabar untuk menunggu Sakya dan Fio keluar dari mobil.


"Ya ampun ... mimpi apa aku. Pak, anak kita pulang!" seru ibu Fio dengan penuh bahagia saat Fio membuka pintu mobilnya. Namun, saat Fio hendak turun, Sakya langsung mencegahnya. "Tunggu!" Sakya segera turun dari mobil kemudian meminta bu Laila untuk menggendong Nesya yang masih tertidur.


"Hati-hati," kata bu Laila saat Sakya berusaha untuk membantu Fio keluar dari mobil.


"Kalian dari mana? Apakah Fio sakit?"


"Kita kedalam dulu saja ya, Bu."


Bukan hanya bu Laila yang merasa terkejut dengan keadaan Fio yang lemah seperti tak berdaya. Pak Mail pun merasakan hal yang sama dengan sang istri. "Fio kenapa?" tanyanya saat melihat Sakya telah membopong Fio menuju kamarnya.


"Nanti saya jelaskan, Pak," kata Sakya.

__ADS_1


Setelah mengantarkan Fio ke kamar, Sakya segera keluar dan menemui pak Mail, bapaknya Fio. "Bu, sepertinya Fio mabuk darat. Kemarin saya membawanya ke puncak," ucap Sakya.


Bu Laila yang sedang memangku Nesya di sofa tersentak. "Itu anak memang gak bisa diajak main jauh-jauh," ujarnya. "Ya sudah, biar ibu lihat dulu dia," lanjut bu Laila lagi. Karena Nesya sudah bangun, maka Sakya mengambil alih Nesya dari pangkuan bu Laila.


Karena Sakya tidak bisa berbasa-basi, dia langsung mengutarakan niatnya datang ke rumah Fio. Pak Mail yang mendengarkan penuturan Sakya merasa sangat terkejut bukan main. "Apakah kamu serius, Nak?"tanya pak Mail tak percaya.


"Saya serius, Pak. Saya serius ingin menikahi Fio," ucap Sakya.


Bu Laila yang baru saja mulai bergabung lagi tak kalah terkejutnya, berharap ini bukanlah sebuah mimpi. "Tunggu! Kenapa pak Sakya tiba-tiba ingin menikahi Fio? Apakah disana kalian ...." Ibu Fio menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Tidak! Kami dan Fio tidak melakukan apa-apa, Bu. Semua ini demi Nesya yang membutuhkan seorang ibu yang tulus. Dan itu semua ada pada Fio," sanggah Sakya.


Kedua orang tua Fio masih tidak percaya dengan pengakuan Sakya. Orang tua mana yang akan percaya begitu saja jika tidak ada sebuah kecelakaan. Ditambah lagi saat ini kondisi Fio sedang tidak sehat. Mungkin saat ini Fio sedang hamil?


"Hamil?" cicit pak Mail kaget.


Sakya langsung membulatkan kedua matanya. "Fio tidak hamil, karena saya tidak berbuat apa-apa," tepis Sakya dengan wajahnya yang sudah pucat. Bagaimana bisa kedua orang tua Fio menganggap jika anaknya sedang hamil lantaran Sakya mengutarakan niatnya untuk menikahi Fio.


"Jadi kalau tidak sedang hamil, mengapa kamu tiba-tiba ingin menikahi Nesya? Kalau benar Fio sedang hamil, bapak sangat kecewa dengan mu, nak Sakya!"


"Apa Fio hamil?" suara seorang wanita yang entah sejak kapan berada diambang pintu.


Semua mata menoleh. Tak disangka ternyata ada wak Yeni yang berdiri diambang pintu.


"Wak, sejak kapan wak Yeni ada disitu?" seru ibunya Fio.

__ADS_1


Wak Yeni segera masuk untuk memberikan sebuah undangan pernikahan anaknya kepada ibu Fio. Namun, siapa yang menyangka jika dia akan mendengar kabar cetar membahana, jika Fio sedang hamil.


"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" bantah Sakya.


Namun, semuanya harus dibuat terbelalak saat mendengar suara Fio muntah-muntah dari dalam kamarnya.


***


Ternyata niat baik Sakya tak semulus yang dia pikirkan. Bahkan saat ini semua orang mengira jika saat ini Fio memang sedang hamil. Karena Sakya tidak bisa menyakinkan mereka, akhirnya Sakya memilih untuk pulang dan membiarkan Fio untuk beristirahat di rumahnya. Namun, siapa yang akan menyangka jika kabar itu akan secepat kilat tersebar ke telinga para tetangga.


"Namanya laki-laki dan perempuan yang tinggal satu atap itu pasti akan ada setannya," ujar teh Mala.


"Apalagi laki-laki duren. Siapa sih yang gak mau dihamili sama dia," celetuk teh Nining.


Pagi ini berita kehamilan Fio telah menyebar luas dibawa oleh angin. Apalagi ada pihak yang memang sedang iri kepada Fio.


"Ini gak bisa dibiarkan! Wanita seperti itu tidak bisa tinggal di kampung kita." Sebagai ketua duta Jamu, teh Mala sangat tidak terima jika Fio hamil anak duren, incaran hatinya.


"Tapi pak duren kan udah bertanggung jawab untuk menikahi Fio, Teh. Lalu kita harus bagaimana?" ujar teh Shanti.


"Kita harus usir keluarga Fio dari sini," jelas teh Mala.


"Eh, jangan dibawa-bawa keluarga yang gak bersalah. Kasihan, dia gak tahu apa-apa," ujar teh Nining.


"Nah, benar itu," sahut teh Shanti.

__ADS_1


__ADS_2