
"Maaf." Satu kata yang keluar dari bibir Luna saat Sakya menyidangnya.
Sakya sudah berhasil menenangkan Nesya dan saat ini anaknya sedang tidur.
"Maaf," cicit Sakya.
Jangan beri kendor, pak! hajar aja! batin Fio yang turut ikut dalam penyidangan Luna.
"Aku benar-benar tidak tahu jika kamu masih merahasiakan kepergian Sarah. Lagian ini sudah empat bulan, sampai kapan kamu akan menyembunyikan semua dari Nesya, Mas?"
"Luna, kamu tidak akan tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada Nesya yang sangat dengan ibunya. Apalagi saat kepergian ibunya, Nesya sedang sakit dan dia tidak turut hadir dalam pemakaman ibunya. Sampai saat ini Nesya masih menganggap jika ibunya masih berada di rumah sakit. Lalu bagaimana aku akan menjelaskan kepada Nesya?"
Luna tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jika eia mengetahui jalan ceritanya seperti apa, tidak mungkin Luna akan mengambil jalan lain.
"Mas, aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh tidak tahu jika kepergian Sarah masih kalian sembunyikan. Terlebih Fio juga tidak mengatakan apa-apa." Kini Luna melirik kearah Fio yang sedang terbelalak akibat namanya juga ikut terseret.
"Lho ... kok aku dibawa-bawa! Mbak Luna aja gak tanya apa-apa, jadi apa yang harus katakan kepada mbak Luna?"
__ADS_1
"Seenggaknya kamu bilang kek kalau ternyata Nesya belum mengetahui kalau ibunya udah gak ada," sahut Luna dengan kesal.
"Gimana aku mau kasih tahu sama mbak Luna, kalau mbak Luna aja gak tanya?" Fio bersikukuh dengan pembelaannya. Bagaimana mungkin Fio bisa terseret dalam masalah yang sedang bergulir sedangkan dia tidak tahu apa-apa.
"Sudah-sudah! Kalian hanya menambah sakit kepalaku saja. Luna untuk hari ini, tolong kamu pulang saja. Aku sedang tidak ingin membahas masalah ini, tetapi bukan berarti kamu tidak bertanggung jawab ya!" pesan Sakya.
Fio tertawa dalam kemenangannya saat melihat Luna telah meninggal rumah Sakya. Namun, bukan berarti Fio bisa berbangga hati karena saat ini dia juga mendapatkan getahnya.
Akibat kecerobohan Luna, Fio juga harus menanggung akibatnya karena Nesya tidak lagi mempercayai Fio dan malah menjauhinya. Bahkan Nesya juga masih mogok berbicara dengan Fio.
"Pak, Ines belum juga mau makan," kata Fio yang telah membawa nampan berisi menu makan siang, padahal sekarang sudah pukul 3 sore.
"Ya sudah biar saya yang membujuknya," kata Sakya yang mengambil alih nampan yang ada di tangan Fio. "Kamu beristirahat saja, biar aku yang memberikan penjelasan kepada Ines," lanjut Sakya lagi.
Fio mengangguk pelan karena Fio juga tidak tahu bagaimana cara menghadapi anak yang sedang ngambek karena selama ini Nesya baik-baik saja.
***
__ADS_1
Hingga malam, Nesya masih enggan untuk berbicara kepada Fio. Bahkan kepada Sakya saja Nesya juga tidak mau berbicara. Nesya merasa sangat kecewa mengapa ayah dan Fio menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Mengapa mereka tidak mengatakan jika bundanya sudah meninggal.
"Ines, udah malam bobok ya," kata Fio saat Nesya masih berada di depan televisi.
"Iya, Sayang. Besok Ines kan harus sekolah," timpal ayahnya.
Nesya acuh, tetapi anak itu segera beranjak dari sofa dan berjalan menaiki tangga tanpa kata.
"Jangan lupa minum susunya ya! Aunty udah letakkan diatas meja. Dan jangan lupa gosok gigi sebelum bobok. Satu lagi ... jangan lupa baca doa sebelum bobok," pesan Fio dengan lembut.
"Iya Aunty cerewet," lirih Nesya.
Bibir Fio langsung tertarik keatas. Sekilas dia mendengar jika Nesya menyahuti ucapannya. Itu tandanya Nesya tidak marah dengannya.
"Kamu kenapa?" tanya Sakya yang melihat Fio tersenyum puas.
"Pak Sakya gak dengar kalau Ines mau menyahuti ucapan ku? Itu tandanya Ines gak marah sama aku. Dia hanya marah sama pak Sakya." Setelah mengucapkan kata tersebut, Fio segera berlari untuk mengejar Nesya.
__ADS_1
Sakya hanya membuang napas beratnya. Memang butuh waktu untuk membuat Nesya bisa menerima kenyataan yang ada. Namun, satu sisi lain dia merasa sedikit lega karena setidaknya Nesya tidak larut dalam kekecewaannya.