
Tari menatap wajah suaminya dengan perasaan was-was. Jantungnya semakin berderbar kala mulut Tama mulai terbuka.
"Dari mana kau tau? Bukankah kita tidak ada di sana saat kejadian?" tanya Tama.
Wanita itu dapat bernapas dengan lega, setidaknya Tama tidak membentak dirinya.
Tari memilin ujung bajunya. "Ayah yang mengatakannya," cicit wanita itu dengan menatap sepatu Sang Suami.
Tama menghela napas dalam, pria itu mulai merogoh sakunya. Tari memperhatikan gerakan Sang Suami yang mengeluarkan sebuah ponsel genggam.
"Eh ... Pak Tama mau apa?" tanya Tari.
"Memastikan ucapanmu," jawab Tama.
Wanita itu hanya mampu menggelengkan kepalanya, ternyata Tama masih saja lebih mempercayai Mami Sun.
Tari memperhatikan Tama yang sedang berbicara dengan Mami Sun lewat benda pipih berteknologi canggih. Ia mendengar semua jawaban dari Mami Sun yang tanpa sungkan mengakui perbuatannya.
Mata Tama melirik ke arah Tari yang masih setia mendengarkan semua percakapan keduanya.
Tari dapat mendengar, bahwa Mami Sun sungguh sangat membencinya. Tangan Tari mengepal kuat ketika mendengar ucapan Mami Sun yang merendahkan ayahnya.
Panggilan pun berakhir dengan perkataan Mami Sun yang penuh dengan racun, semua yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu adalah peringatan untuk Tama agar tidak termakan dengan wajah sok polos yang ia panggil dengan sebutan gadis miskin.
"See! Apa yang Tari katakan benar kan," ucap Tari dengan mengangkat sedikit kepalanya agar dapat menatap mata Sang Suami.
"Aku minta maaf atas nama ibunya Manda."
Tari tersenyum kecut, tangannya yang masih mengepal itu, kini semakin mengepal kuat hingga kuku-kuku yang belum ia potong meninggalkan jejak pada telapak tangannya.
"Kalau tuhan memberikan Pak Tama satu kesempatan untuk menghidupkan Mbak Manda kembali. Tapi Tari yang harus pergi, apa Pak Tama bersedia menukar Tari dengan Mbak Manda?" tanya wanita itu, mengunci tatapan mata suaminya.
Tama terdiam seribu bahasa, pria bertubuh tegap itu tidak dapat menjawab pertanyaan istrinya.
"Hehehe, jangan tegang gitu dong mukanya. Tari cuma bercanda tau." Tari menangkup wajah Tama dengan cengengesan.
Pria itu terpaku pada wajah Tari yang terlihat menggemaskan karena mata dan hidung istrinya yang memerah.
Tari melambai-lambaikan tangan di depan wajah Tama. "Helo ... kok melamun? Udah jangan dipikirin, Tari gak akan membuat Pak Tama berada di antara pilihan yang serba salah."
Tangan Tama mengacak rambut pendek milik Tari, membuat wanita itu menggembungkan pipinya.
***
__ADS_1
Malam telah tiba, namun sepasang suami istri itu masih setia berjaga di rumah sakit. Tama sudah mengabari keluarganya di rumah, mendengar kabar dari Tama, Mama Widi serta Papa Adam berniat menyusul.
Tapi hal itu urung karena pasutri Tama dan Tari takut Una akan kesepian di rumah. Dan kalaupun bocah gembil itu ikut ke rumah sakit, Tari khawatir Una tidak mau pulang dan memilih ikut berjaga di rumah sakit bersama mereka.
"Pak Tama pulang aja, biar Tari yang jaga ayah di sini," ucap Tari.
Tama yang sedang bersandar di kursi rumah sakit menoleh ke arah istrinya. Ia dapat melihat wajah lelah Tari. Mata sayu tanda mengantuk begitu kentara, apa lagi Tari yang kurang tidur karena digempur oleh Tama semalaman, ditambah paginya mereka kembali bermain di atas ranjang.
"Lebih baik kau yang pulang, biar—"
"Gak ada apa panggilan yang so sweet untuk Tari?" tanya Tari, memogong ucapan suaminya.
Tama menjungkitkan alis tebal miliknya, netra setajam elang itu menatap Tari dengan penuh tanya.
"Contohnya?" Tama balik bertanya.
"His! Dasar gak kreatif! Masa harus Tari yang mikir," cebik Tari.
"Yasudah, bocah sableng. Kurasa itu cocok," sahut Tama.
Wajah Tari tertekuk ke dalam, mendengar panggilan untuknya yang sangat-sangat jauh dari kata 'so sweet'.
"Ck-ck-ck, bener-bener deh. Panggil yang lain dong," decak sebal Tari.
"Apa itu pookie? Kedengerannya lucu. Tari suka."
"Panggilan yang cocok untuk pasangan yang lucu, menggemaskan, dan agak manja," jawab Tama dengan memalingkan wajahnya dari Tari.
Wanita itu mengulum senyumnya, ia senang dengan Tama yang menyebutkan kata 'pasangan' itu artinya Tama sudah menganggapnya sebagai istri bukan? Apa lagi mereka sudah beberapa kali melebur bersama dalam sebuah kegiatan yang dilakukan oleh pasangan suami-istri.
"Pookie ke dalam dulu ya, mau lihat ayah." Tari meninggalkan Tama yang sedang merenungi ucapannya barusan.
'Sialll! Kenapa aku memanggilnya dengan sebutan yang sama dengan Manda. Sayang ... maafkan aku,' ucap Tama dalam hati.
Pria itu menyugar rambutnya ke belakang, akhir-akhir ini ia sudah melangkah terlalu jauh. Termasuk menjadikan Tari sebagai istri seutuhnya.
Tama tidak tahu, kenapa ia begitu kecanduan dengan tubuh Tari. Ia bahkan mudah terpancing hanya karena melihat belahan bukit istrinya.
Pria itu takut dia semakin terjatuh dalam pesona Tari, rencanannya hanya untuk menahan Tari agar tidak meminta cerai dan Una tidak harus kehilangan sosok ibu lagi.
Tapi, Tama merasa semakin susah mengendalikan dirinya sendiri. Seperti tadi, ia bahkan tidak suka melihat air mata Tari turun. Ada perasaan marah yang tertahan ketika Mami Sun menyebut Tari dengan sebutan gadis miskin.
Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tama berusaha kembali pada jalur utamanya. Pria itu tidak akan melupakan Manda yang meninggal karena dirinya.
__ADS_1
Di lain tempat, Tari duduk memperhatikan ayahnya yang sedang terlelap. Ia mengenggam tangan yang sudah membesarkannya.
"Ayah, suami Tari sudah berubah. Ayah gak usah khawatir, lihat! Buktinya Pak Tama mau menunggui Tari di sini. Dialah yang menguatkan Tari disaat ayah tidak sadarkan diri," ucap Tari yang berbicara pada ayahnya yang masih memejamkan mata.
"Tari ...."
Wanita itu terkejut, ternyata sedari tadi Pak Wahyu mendengar semua yang diucapkan oleh Tari.
"Benar suami mu telah berubah?" tanya Pak Wahyu dengan suara yang serak.
Tari mengangguk dengan mantap. "Iya Ayah," jawab Tari dengan mengulas senyum.
"Syukurlah, ayah lega mendengarnya. Ayah merasa tidak akan lama lagi di sini, ibu mu tadi datang ke mimpi ayah—"
"Ayah jangan ngomong gitu, Tari jadi takut ...," lirih Tari.
Pak Wahyu mengangkat tangannya. Ia mengusap pipi putri sematawayangnya dengan penuh kelembutan.
"Kamu adalah anugerah terindah yang pernah Ayah dan ibu miliki, Nak."
Tari menahan tangan Ayahnya, ia tersenyum penuh haru. "Tari bersyukur bisa menjadi anak ayah, kalau tuhan memberi kesempatan hidup sekali lagi ... Tari tetap ingin menjdi anak Ayah dan ibu." Wanita itu membawa tangan Ayahnya dalam genggaman erat.
"Tari, boleh panggilkan suami mu? Ayah ingin berbicara dengannya," pinta Ayah Tari.
"Sebentar, Tari panggilkan."
Tari melangkah keluar, ia melihat suaminya yang sedang bersender dengan memejamkan mata.
"Pak Tama! Ayah mau bicara."
Tama membuka kedua matanya, pria itu mengangguk. Mereka masuk bersamaan ke ruangan tempat ayah Tari di rawat.
Pak Wahyu tersenyum pada Tama. Pria paruh baya itu beralih menatap putrinya. "Tari, ayah ingin bicara empat mata dengan Nak Tama."
Tari yang mendengar itu langsung meninggalkan kedua pria beda generasi yang ingin bicara berdua.
"Kira-kira ayah mau bicara apa sama Pak Tama?" tanya Tari pada dirinya sendiri.
`
`
`
__ADS_1
Bersambung