
Kepala Tari mengangguk tanpa curiga. Ia beralih menatap danau buatan dengan mata berbinar. Wanita itu seketika lupa dengan masalah yang baru menimpanya.
Ia berlarian seperti burung yang bebas, badannya berputar bersama dengan angin yang menyapu lembut surai hitamnya.
Tama menghampiri istrinya yang kegirangan, ia berjalan dengan tangan yang dimasukan ke saku celananya. Pria itu menggelengkan kepala seraya tersenyum melihat Tari bak anak kecil yang menemukan tempat baru.
Ia memotret Tari dengan ponsel pintarnya tanpa disadari oleh wanita bertubuh mungil itu. Tama memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Tari berlari menghampiri suaminya, ia menarik tangan Tama ke tepi danau.
Dari kejauhan, orang kepercayaan Fajar menghubunginya. "Tuan, nona Tari terlihat bahagia. Sekarang mereka berada di danau."
"Kau pulanglah! Tugasmu hari ini selesai," ucap Fajar dengan suara datar.
"Baik, Tuan."
Fajar yang sedang berada di ruang kerjanya tertawa keras. "HA-HA-HA, skenario macam apa ini tuhan? Kau membuat aku jatuh cinta pada wanita yang mencintai pria lain. Sekarang pria itu sepertinya mencintai balik wanitaku. HARGH!!!" Fajar menarik rambutnya frustasi.
Pria itu kembali tertawa keras, tubuhnya bersandar pada meja kerjanya yang sudah berantakan.
Fajar memejamkan matanya kuat, bayangan wajah Tari ketika tersenyum terlintas begitu saja di kepalanya. Dua sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Aku ingin memaksakan kehendakku. Tapi bahagia mu lebih penting dari apa pun." Fajar mengusap wajahnya kasar.
Ia membuka ponselnya, sebuah foto yang dikirim oleh orang kepercayaannya semakin membuat hatinya berenyut nyeri. Tampak Tari yang menggenggam tangan Tama seraya tersenyum lebar.
"HARGH!!!" Fajar mencampakan hp-nya ke lantai dengan kuat.
Layar pipih itu terbelah menjadi dua, serpihan kacanya berserakan di sekitar kaki Fajar.
Ia berusaha melepaskan Tari, namun egonya menolak. Hatinya tidak mampu mengeluarkan nama Tari dari tempat spesial itu.
Fajar berusaha meneralkan napasnya. Pria itu bertekad akan merelakan Tari untuk bahagia, walaupun bukan bersamanya. Namun, ia tidak akan berhenti mengawasi wanita pujaannya.
"Aku akan benar-benar melepas mu. Saat pria itu sudah berubah sepenuhnya." Tangan Fajar mencengkram sudut meja dengan emosi yang berkecamuk di hatinya.
***
Tari dan Tama duduk di atas tanah yang ditubumbuhi dengan rerumputan hijau. Wanita itu menjulurkan kakinya ke depan, Tama pun melakukan hal yang sama dengan sang istri.
Kepala Tari bersandar di pundak suaminya. "Enak ya jadi burung, bisa terbang bebas di udara. Tari ingin menjadi seperti burung yang bebas terbang ke mana pun tanpa beban."
"Burung masih harus melawan angin untuk bisa terbang jauh," sahut Tama.
Mereka berdua sama-sama menatap ke arah langit dengan tatapan kagum akan ciptaan tuhan yang begitu indah dan sempurna.
"Kalau jadi bebek juga seru. Seperti itu!" Jari Tari menunjuk ke arah sekumpulan bebek yang sedang berenang di atas permukaan air danau. "Mereka seperti keluarga harmonis ya," ucap Tari tersenyum lembut.
__ADS_1
"Hmm ...." Tama menjawab ucapan sang istri dengan deheman.
Tari menegakkan tubuhnya, wanita itu menepuk-nepuk pahanya. "Sini!" seru Tari pada Tama.
Pria itu menoleh ke samping, tempat di mana Tari sedang tersenyum padanya. Tama mengikuti kemauan sang istri. Ia merebahkan kepalanya dengan berbantalkan paha Tari.
Tangan Tari mengusap surai hitam sang suami dengan gerakan naik turun. Mata Tama terpejam menikmati usapan lembut di kepalanya.
"My Lion ...."
"Hmm." Tama menjawab panggilan istrinya dengan berdeham. Pria itu masih memejamkan matanya.
"Tari jadi penasaran deh, kalau suatu hari nanti Tari menghilang selamanya dari dunia ini. Pak Tama bakal cariin Tari gak ya?" Wanita itu menunduk, menatap wajah suaminya yang tiba-tiba mengernyit.
Mata Tama terbuka dengan perlahan, ia menarik kepala Tari. Pria itu membungkam mulut sang istri dengan peraduan benda kenyal yang selalu memabukkan.
Tari membalas ciuman suaminya dengan lembut. Ia menuangkan semua perasaanya lewat pergulatan benda tak bertulang itu.
Hah ... hah ....
Napas keduanya tersenggal-senggal, mereka saling melepaskan peraduan itu, Mata keduanya saling menatap.
"Jangan bicara seperti itu lagi!" ucap Tama tak ingin dibantah.
Kepala Tari mengangguk, tangannya kembali mengusap lembut surai hitam sang suami. Dan detik itu pula Tama kembali merasa nyaman dan tenang.
"Kenapa?" tanya Tama.
Kepala Tari menunduk begitu mendengar sang suami buka suara. "Tari teringat saat kita pertama kali menikah," ucap Tari seraya tersenyum.
Tama diam tak menjawab, pria itu merasa heran. Kenapa sang istri tersenyum saat mengingat hari di mana ia begitu menolak Tari dalam hidupnya.
"Astaga! Tari lupa, ayah ...." Tari menepuk keningnya. "Aw!!!" aduh wanita itu.
Tari lupa jika keningnya masih terasa sakit bekas terhantuk diding tadi. Tama kembali duduk, pria itu menangkup kedua pipi sang istri.
Cup!
Benda kenyal yang sedikit basah itu mengecup bagian kening Tari yang memerah. Tari memejamkan matanya, ia menikmati sensasi dingin yang ada di keningnya.
Mata wanita itu kembali terbuka ketika sang suami menari bibirnya kembali.
"Ayah sudah baik-baik saja, tadi Ardi sudah mengabari," ujar Tama.
Tari menarik napasnya lega. "Tari kagum sama bang Ardi, baik banget orangnya. Padahal— euhm...." Tangan Tama membungkam bibir istrinya.
"Jangan puji laki-laki lain, atau ... bibir ini akan kuhukum!" ancam Tama.
__ADS_1
Mata Tari mengerjap, ia meganggukkan kepalanya. Barulah Tama melepaskan tangan kokoh itu dari mulutnya.
"Tapi memang bang Ardi itu baik banget. Kabur!!!" Tari langsung lari menghindari suaminya yang memasang wajah garang.
"Hei bocah nakal, kemari kau!"
Pria itu ikut berlari, mengejar sang istri yang langkahnya lebih pendek.
Hap!
Tari tertangkap oleh sang suami, tangan kokoh itu menangkap pinggang ramping istrinya.
"Mau lari ke mana kelinci nakal? Aku sudah menangkapmu." Tangan Tama semakin menarik pinggang sang istri, membuat tak ada jarak di antara keduanya.
"Kelinci nakal harus mendapat hukuman."
Dan detik berikutnya gelak tawa Tari pecah.
"Ha-ha-ha, le-lepas! Geli Pak." Tari menggeliat menahan geli akibat ulah tangan suaminya yang menggelitiki perutnya.
Wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena satu tangan Tama menahan pingganganya. "Ha-ha-ha, ampun! Ampun!"
Kaki Tari terasa lemas, hampir saja dirinya terjatuh. Untung saja Tama dengan sigap menahan tubuhnya.
"Makanya jangan nakal!" Tama mencubit hidung mini malis sang istri.
"Hi! Sakit tau!" Tari menepis tangan suaminya.
"Sepertinya kelinci ini perlu hukuman lebih." Bibir Tama menyeringai.
Pria itu mengangkat tubuh sang istri ala bridal style, ia masuk ke dalam mobil. Tama sudah tau hukuman apa yang cocok untuk istrinya.
Tama duduk di kursi kemudi bersama Tari dengan posisi yang sama seperti mereka berangkat tadi.
Glek!
Tari menelan salivanya dengan susah payah. Ia bergidik ngeri melihat tatapan suaminya yang terlihat aneh.
`
`
`
Bersambung ....
Besok updatenya malam ya readers😘
__ADS_1