Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Lelah Mengejar, Lebih Baik Berhenti


__ADS_3

Bulan yang indah di gelapnya langit malam tergantikan oleh terangnya sinar matahari di pagi hari. Tama yang baru terbangun dari tidurnya melirik ke sisi kiri, tempat di mana Tari tidur dengan memunggunginya.


Pria itu menatap punggung sang istri, dirinya merasa Tari menjauh. Bahkan ketika ia ingin menyentuh kepala wanita itu, Tari lebih dulu menghindar dan tak urung menepis tangan Tama.


"Kamu kenapa?" tanya Tama dalam hati.


Tiba-tiba Tama melihat punggung istrinya bergerak. Tari membalik badannya tepat ke hadapan sang suami yang sedang menatap ke arahnya.


Deg!


Tari yang sedari tadi sudah terbangun segera membalik tubuhnya kembali begitu netranya dengan netra sang suami bersitatap walau hanya sebentar.


Tama semakin merasa ada yang tidak beres dengan istrinya, pria itu mencoba untuk mengajak Tari bicara, ia menggapai pundak sang istri.


"Tari—"


"Tari mandi dulu," potong Tari.


Wanita itu menyibak selimut yang ia kenakan, dirinya langsung berdiri dan meninggalkan Tama tanpa menatap wajah pria itu.


Tari tak tau apa yang terjadi dengan hatinya, sakit bila ia melihat wajah pria yang menjadi suaminya. Sepanjang kegiatan membersihkan diri Tari terus melampiaskan rasa perih dan luka batinnya lewat air mata. Tiada lagi cinta yang harus ia gapai, jika mencintai Tama adalah sebuah luka ... maka Tari memilih untuk berhenti mencintai pria itu.


Tangan Tari menggapai handuk putih, ia segera keluar dari kamar mandi begitu aktivitas membersihkan tubuhnya selesai. Ketika ia hampir sampai di walk in closet, terdengar suara Tama yang memanggil namanya.


"Tari!"


Wanita yang hanya menggunakan handuk putih itu tak menoleh sedikit pun. Tama yang tak mendapat jawaban segera turun dari ranjang.


Baru saja ia ingin menghampiri istrinya, namun suara Tari sudah lebih dulu menghentikan dirinya.


"Stop! Tari mau pakai baju, Pak Tama jangan ganggu Tari," ucap Tari lalu masuk begitu saja ke walk in closet, meninggalkan Tama yang mematung di tempatnya.


Tama dengan setia menunggu istrinya keluar. Dan yang ia tunggu-tunggu pun muncul. Kening Tama membentuk garis-garis halus, matanya menyorot ke tubuh Tari dari atas hingga ke bawah.


"Mau ke mana?" tanya Tama melihat istrinya yang sudah rapi, lengkap dengan tas berbahan canvas yang ada di sisi kiri Tari.


Tama tak mendapat jawaban, dengan sabar pria itu kembali bertanya ke pada istrinya. "Tari—"


"Ke kampus," potong Tari.

__ADS_1


Lalu wanita itu pergi begitu saja dari hadapan suaminya. Ia turun ke bawah untuk meminta Pak Jaka mengantarkan dirinya ke kampus.


Tama mengikuti langkah Tari, pria itu heran kenapa istrinya ingin pergi ke kampus tiba-tiba begini? Apa lagi masis suasana berduka.


"Aku antar ya, tunggu sebentar saja. Aku mandi 5 menit, tunggu di sini ya," ucap Tama.


Pria itu buru-buru naik lagi ke atas untuk mandi secepat kilat. Tari yang tak meng-iyakan ucapan sang suami mengahmpiri Mama, Papa mertua serta Una yang sedang duduk di ruang tv.


"Loh Tari mau ngampus sayang?" tanya Mama Widi memastikan.


Kepala Tari mengangguk dengan tersenyum kecil, wanita itu beralih ke anak sambungnya. Ia menciumi seluruh wajah Una hingga anak berusia lima tahun itu kerkikik geli.


"Anak syantik jangan nakal ya, harus nurut apa kata oma, opa. Oke? Mama mau belajar dulu," ucap Tari pada Una yang hanya mengangguk-ngangguk saja.


"Ma, Pa. Tari pamit ya, Pak Jaka udah nubggu di depan." Tari menyalim kedua orang tua Tama.


Wanita itu tak mengindahkan ucapan suaminya, ia langsung pergi begitu mendapat izin dari Mama dan Papa Tama. Sepanjang perjalanan ia hanya diam menantap jalanan yang ramai dengan kendaraan umum.


Tari mengusap perutnya, ia berharap langkah yang ia ambil sudah benar. Wanita itu akan mengurus semuanya mulai hari ini.


Di kediaman Batara, Tama yang baru saja turun ke lantai bawah tak melihat keberadaan istrinya di mana pun. Ia segera menghampiri Mamanya.


"Lah Tari udah pergi ke kampus, Mama juga heran kenapa perginya gak bareng kamu." Mama Widi memperhatikan wajah prustasi putranya.


"Bukannya Mama ingin ikut campur, apa kalian ada masalah?" tanya Mama Widi dengan hati-hati.


Tama lekas menjawab 'tidak' karena ia merasa hubungannya dengan Tari baik-baik saja, tidak ada masalah sama sekali.


"Mungkin Tari ingin mengalihkan pikirannya lewat kesibukan kampus," ujar Mama Widi.


Pria itu mengangguj setuju, ia ikut menyusul istrinya ke kampus tempat ia mengajar. Setibanya di kampus, ia dapat melihat istrinya yang baru saja keluar dari Biro.


Ia ingin menyusul istrinya, namun sungkan dengan yang lain. Jadi ia mengurungkan niatnya dan berniat menjumpai sang istri saat kelas wanita itu selesai.


Tari dirundung banyak pertanyaan oleh kedua sahabatnya. "Tar, lo yakin? Sayang banget loh," ucap Nadia.


"Tar, gue tau lo sedih. Tapi tidak dengan cara seperti ini juga," timpal Raihan.


"Yakin, keputusan gue udah bulat. Thanks yaudah jadi sahabat terbaikkkk gue." Tari membentangkan kedua tangannya dan memeluk kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


"Tar, lo cuma cuti kan?" tanya Nadia memastikan.


Kepala Tari mengangguk, wanita itu menatap lama kedua wajah sahabatnya. Mungkin ini hari terakhir ia bisa bersama dengan dua orang yang selalu membuatnya jengkel serta tertawa.


"Oh iya, gue ke sini cuma mau ngomongin itu aja. Kalian semangat ya mendegarkan Bu Cindy menjelaskan."


"Loh, lo gak masuk?" tanya Nadia.


"Enggak, oh iya ... gue mau balik duluan, ini tolong kasih ke Pak Tama ya. Soalnya buru-buru banget ini." Tari menyodorkan sebuah paper bag, yang di dalamnya ada kotak kecil berbungkuskan kertas berwarna hitam doff.


"Kenapa gak lo kasih langsung aja?" celetuk Raihan.


"Pak Tama lagi ngajar, gak mungkin gue ganggu cuma karna mau ngasih ini," balas Tari.


"Ya udah, nanti gue kasih ke suami lo," ucap Nadia.


Tari tersenyum ke pada kedua sahabatnya, ia pamit dengan Nadia dan Raihan sembari memeluk mereka satu per satu.


Wanita bertubuh mungil itu memesan sebuah taxi. Raihan dan Nadia merasa aneh dengan tingkah sahabatnya hari ini.


"Kayak mau pergi jauh aja tuh bocah," ucap Raihan.


"Iya betul lo, Rai." Nadia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Hari sudah siang, ini waktunya kelas Tari selesai. Tama segera menjumpai istrinya, saat ia tiba di sana, bukannya bertemu sang istri. Dirinya malah mendapat titipan dari Tari lewat sahabat istrinya.


"Tari nya ke mana?" tanya pria itu pada Nadia.


Nadia yang memang tak tau sahabatnya pergi ke mana hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tama mengusap wajahnya prustasi.


Pria itu berusaha berpikiran positif. Mungkin saja istrinya sudah berada di rumah, pikir Tama.


`


`


`


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2