
Nadia dan Raihan kembali menatap sahabatnya yang sedang menjadi trending topik di jurusan tata boga.
"Tar, lo serius gak mau publish hubungan lo sama Pak Tama? tanya Nadia.
Tari mendengakkan kepalanya, ia menatap kedua sahabatnya secara bergantian. Wanita itu tidak menjawab pertanyaan Nadia dan malah balik bertanya.
"Mereka kenapa bisa berpikir gitu ya?"
Terlihat Nadia dan Raihan yang menarik napas dalam berbarengan, kedua sejoli itu memilih duduk di sebelah Tari. Nadia di sisi kanan, sedangkan Raihan di sisi kiri.
"Kata salah satu anak kelas, dia lihat lo sama Pak Tama lagi di toko baju couple gitu. Memangnya ada ya yang mau ke toko baju alay begitu?" ujar Raihan yang dihadiahi geplakan tangan oleh Tari.
"Aw! Sakit monyet! Nih anak dikira punggung gue tilam apa," cebik Raihan mengusap bahunya yang terasa panas.
Tepukan Tari mengandung power yang super duper kuat, perempuan itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melampiaskan kekesalannya, untung saja ada Raihan duduk di sebelahnya jadi ia bisa menyalurkan kekesalan itu lewat Raihan, karena tidak mungkin ia menggeplak Nadia.
"Itu bukan alay, tapi so sweet," ucap Tari dengan santai.
"Ha? S-so sweet?" tanya kedua sahabat Tari dengan mulut tercengang.
Tari menyahuti pertanyaan sahabatnya dengan anggukkan kepala sambil memejamkan mata dan tersenyum bangga.
"Hmm, gak heran sih kalau orangnya itu lo," gumam Raihan yang masih bisa didengar oleh Tari.
"Eits! Jangan zolimi tubuh gue lagi, Tar." Spontan Raihan berdiri dari duduknya.
Melihat itu Tari tertawa lebar, reaksi Raihan seakan perbuatan jenaka yang menggelitik pertunya. Sementara Nadia dapat tersenyum lega karena melihat sahabatnya yang tidak mudah terguncang oleh cibiran orang.
"Tari, jadi beneran ya kalau lo sama Pak Tama ke sana?" tanya Nadia.
"Iya, lagian aneh banget mereka. Suka banget ngurusin hidup orang, ck-ck-ck." Tari berdecak dengan menggelengan kepalanya.
"Ya namanya juga deterjen, Tar," sahut Nadia.
Raihan memutar bola matanya malas mendengar ucapan Nadia yang salah. Tapi pria itu memilih tidak mengoreksi demi keamaanan dan kesejahteraan pundak dan kepalanya.
"Gak jadi kelas nih, mending kita nongkrong. Gimana?" Raihan menaik turunkan alisnya.
Kedua wanita itu menggeleng secara bersamaan, keduanya punya alasan yang berbeda. Tari yang merencanakan untuk pergi menjenguk sang ayah. Dan Nadia yang memilih untuk bekerja lebih awal.
Raihan mengangguk maklum, ia tau kondisi ekonomi Nadia. Serta status Tari yang sudah berbeda.
"Jadi, ayah lo kondisinya sekarang gimana, Tar?" tanya Nadia.
"Sudah baikan," jawab Tari.
__ADS_1
"Maaf ya, Tar. Gue belum bisa jenguk ayah lo." Nadia tampak sungkan dengan Tari.
"His! Woles aja, yang penting doa terbaiknya." Tari merangkul bahu sahabatnya seraya tersenyum.
Akhirnya ketiga sahabat itu memilih untuk kembali ke dalam kelas untuk mengambil tas mereka. Sepanjang perjalanan, tatapan sinis menghunus ke arah Tari.
Beberapa lontaran kata tidak sopan di tujukan pada wanita bertubuh mungil itu.
"Dasar perempuan gak betul, mukanya aja kelihatan polos, aslinya liar," ucap salah satu mahasiswa yang duduk dibangku kelas.
"He! Memangnya yang betul itu kayak apa? Kayak lo yang setiap hari nongkrongnya di club malam sambil ditemeni om-om perut buncit?! Ngaca!" Berang Raihan, dari tadi ia sudah tidak tahan untuk memaki semua orang yang menyudutkan Tari.
Mahasiswa berjenis kelamin perempuan itu bungkam dengan tangan mengepal, jangan tanya Raihan tau dari mana. Tentu pria itu sering mengunjungi tempat yang menjadi favoritnya, namun Raihan tidak pernah mempengaruhi kedua sahabat wanitanya dengan kebiasaan buruknya itu.
Ketiga orang itu melanjutkan langkahnya, dengan tegas Raihan menjadi tameng untuk Tari ketika ada yang mulai buka suara.
Begitu mereka sudah mengambil tasnya, Tari dan kedua sahabat baiknya keluar dari kelas yang masih berisi dengan orang-orang julid.
"Tar, lo yakin gak mau kita tunggui? Nanti digangguin lagi sama hama dan gulma kayak mereka," ucap Raihan.
"Iya, Tari. Mending pulang bareng Raihan aja, dari pada lo kenapa-kenapa," sahut Nadia yang juga khawatir.
"Aman ... lagian gue mau nunggu Pak Tama di cafe sebrang noh! Jari Tari menunjuk cafetaria yang memang dekat dari kampus mereka.
"Siap! Putri Mentari," jawab Raihan dengan tangan membentuk hormat.
Kini Tari tinggal sendiri, ia memilih berjalan ke seberang untuk pergi ke cafetaria yang belum begitu ramai, mengingat jam segini banyak mahasiswa yang masih memiliki kelas.
Dari kejauhan terlihat seorang pria berbaju hitam memperhatikan setiap gerakkan Tari.
"Halo, tuan. Nona Tari sedang menyebrang menuju cafe yang berada di depan kampusnya," ucap pria itu memberi tau segala info seputar Tari.
"Oke, lanjutkan tugasmu! Aku akan segera ke sana. Jangan sampai orang suruhan nenek sihir itu melukainya!"
"Baik, Tuan."
Tari memilih duduk di dalam, lebih tepatnya di dekat dinding kaca, sehingga matanya dapat melihat kendaraan yang berlalulalang.
Seorang pelayan cafe seumuran Tari memberi menu card. Karena perut yang masih kenyang, Tari hanya membeli segelas matcha dingin.
Sambil menunggu pesanannya datang, Tari mengeluarkan ponsel genggamnya untuk menghubungi sang suami. Begitu panggilan tersambung, wanita itu segera menyapa Tama.
"Halo my Lion, jadikan ke rumah sakitnya?"
"Jadi, tapi sebentar lagi. Masih ada kelas yang harus diisi," ucap Tama.
__ADS_1
"Yaudah deh, Tari ada di cafetaria sebrang kampus ya. Nanti langsung ke sini aja," ujar Tari memberi tau suaminya.
"Oke," sahut Tama singkat.
Tari meletakkan ponsel genggamnya ke atas meja, ia memilih untuk menikmati segelas Matcha yang disajikan secara dingin. Wanita itu memainkan sedotan yang ada di jarinya.
Ia terus meliuk-liukkan sedotan itu, bosan sekali rasanya menunggu tanpa ada yang bisa dirinya ajak bicara.
Tapi, tiba-tiba sebuah suara yang sangat familiar mengagetkan Tari.
"Cantik sendirian aja."
"Astaga! Kak Fajar ...."
Tanpa disuruh, Fajar dengan cool-nya menarik kursi dan duduk di hadapan Tari. Pria itu menatap wajah Tari dengan intens, membuat Tari menjadi kurang nyaman.
"Tari ... will you marry me?" ucap Fajar melamar perempuan yang sudah menjadi penghuni di hatinya.
Tari menutup mulutnya, ia tidak percaya jika pria di depannya sedang mengajak dirinya untuk menikah tanpa basa-basi.
"Kak Fajar pasti bercanda kan? Ha-ha-ha Kakak ada-ada aja." Tari mencoba memastikan jika apa yang dikatakan Fajar hanyalah guyonan semata.
"Kakak tidak bercanda. Jadi, maukah Tari—"
"Stop! Tari udah menikah, Kak Fajar," ucap Tari memotong perkataan pria di hadapannya.
"I don't care, buka mata kamu, Tari! Pria kurang ajar itu hanya memanfaatkan kamu," ucap Fajar yang tetap pada keinginannya.
Tangan pria itu menggenggam tangan Tari yang berada di atas meja.
"Sorry, Kak. Biarlah itu jadi urusan Tari." Wanita itu menarik tangannya.
Terlihat wajah kecewa Fajar, tapi pria itu sama sekali tidak putus asa. Jika cara satu gagal, ia masih memilik seribu cara untuk mendapatkan Tari dari pria yang hanya memanfaatkan perempuan pujaan hatinya.
"Kakak akan tetap mengejar kamu," ucap Fajar sebelum pergi meninggalkan Tari.
`
`
`
Bersambung ....
Hmm ... Fajar mengejar Tari, sedangkan Tari mengejar cinta suaminya. Othor jadi bingung.
__ADS_1