
Kelopak mata kecil itu perlahan mulai membuka, terdiam untuk beberapa saat, Nesya mulai menoleh ke kanan-kiri melihat suasana disekitarnya. Sakya dan Fio belum menyapa Nesya karena saat ini Nesya masih dalam pemeriksaan dokter untuk memastikan apakah ada cidera lainnya.
"Ayah." Suara yang telah dirindukan selama dua Minggu lebih itu kini menggema, di pendengaran Sakya.
Dengan mata yang berkaca, Sakya langsung menghampiri Nesya. "Ines, kamu sudah bangun, Nak?"
Layaknya seseorang yang baru saja dari lelapnya, Nesya merasa bingung mengapa dia ada di rumah sakit. "Kenapa Ines ada disini, Yah?"
Sakya tak menjawab pertanyaan Nesya, dengan rasa haru dia segera memeluk tubuh mungil anaknya. Hampir saja dia putus asa karena Nesya tak kunjung bangun, tetapi kini semangat Sakya sudah kembali seperti semula.
Mata Nesya masih terfokus pada sosok perempuan yang sedang berdiri dibelakang ayahnya, namun Nesya tidak tahu siapa dia mengapa bisa bersama dengan ayahnya.
"Dia siap Yah?" Tunjuk Nesya pada Fio yang sudah tak sabar juga ingin memeluknya. Namun, seketika angannya luntur dengan pertanyaan Nesya yang menanyakan siapa dirinya.
"Ines gak tahu siapa dia?" tanya Sakya dengan jari telunjuk mengarah ke wajah Fio.
Saat itu juga Nesya menggeleng kepalanya pelan. "Dia teman ayah?" Nesya benar-benar tidak mengingat siapa Fio.
"Dok, kenapa dengannya, Dok? Mengapa Ines tak mengenali saya, Dok?" tanya Fio pada dokter yang masih berdiri disampingnya.
"Mungkin itu hanya efek dari komanya. Kami akan melanjutkan pemeriksaan lanjutan apakah Nesya memang mengalami cidera yang serius atau tidak. Tapi kemungkinan besar Nesya mengalami amnesia Anterograde, dimana pasien tidak mampu mengingat suatu informasi baru, tetapi masih masih mengingat informasi lama. Jenis amnesia pendek ini akan kembali seiring berjalannya waktu," jelas sang dokter yang membuat dada Fio terasa sesak. Bagian bisa Fio bisa melupakan dirinya yang selama beberapa bulan ini selalu bersama siang dan malam.
Sakya yang mendengar langsung menghampiri dokter untuk memperjelas keadaan Nesya saat ini.
"Jadi Ines mengalami amnesia, Dok?"
"Setelah ini, silahkan ke ruangan saya. Saya akan jelaskan hasil pemeriksaan putri anda."
Sakya dan Fio saling berpandangan. "Pak," lirih Sakya.
"Percayalah, semua akan baik-baik saja."
__ADS_1
Baru saja Fio ingin terbang, kini sayap Fio di patahkan dengan kenyataan Nesya tak mengingat dirinya. Lalu apakah Nesya bisa menerima dirinya sebagai ibu sambungnya. Hati Fio diselimuti rasa kegundahan, tetapi Sakya memberikan kekuatan untuk Fio.
"Ines beneran gak inget aunty?" Fio berusaha untuk mendekat. Namun, hasilnya tetap sama. Nesya tak bisa mengingat dirinya. Dengan anggukan kecil serta senyum tipis, Fio mengulurkan tangannya. "Kenalin, aunty Fio." Fio mengulurkan tangannya seakan mengajak Nesya untuk berkenalan. Tangan itu disambut hangat oleh Nesya. "Nesya," lirihnya. "Aunty temanya ayah?"
"Iya. Aunty Fio temennya ayah, Sayang. Berhubung aunty adalah teman ayah, maukah Ines juga temenan sama aunty?"
Mata kecil itu menatap sang ayah, seolah ingin meminta pendapatnya. Kepala Sakya mengangguk pelan sebagai isyarat setuju.
"Iya, Ines mau. Tapi … mengapa Ines tidak melihat nenek?" Mata kecil itu kembali meneliti ke setiap sudut untuk mencari neneknya.
Bibir Sakya kaku saat mendengarkan pertanyaan dari Nesya. Bahkan sampai saat ini Sakya tidak tahu keberadaan mantan mertuanya itu. Setelah Nesya pindah ke ruang rawat, Sakya sudah tidak melihat batang hidung wanita yang di panggil nenek oleh Fio. Sakya hanya menduga mantan mertuanya itu memilih pulang karena telah merasa bersalah terhadap Nesya.
"Nenek di rumah, Sayang. Nanti setelah keluar dari rumah sakit, kita ke rumah nenek ya." Terpaksa Sakya harus berbohong demi membuat Nesya tidak panik. "Sekarang Ines sama aunty dulu ya. Ayah mau ke tempat pak dokter tadi. Semoga Ines sudah boleh pulang." Lagi-lagi Sakya harus berbohong.
Sepeninggal Sakya, Fio berusaha menenangkan diri dan berpura-pura menjadi orang baru yang Nesya kenal. Bahkan Fio mencoba saat Nesya juga menanyakan keberadaan Luna.
***
Halo-Halo, kali ini aku mau merekomendasikan sebuah novel dari my beauty. Novel yang gak kalah serunya. Singgah dan ramaikan ya ♥️
Author : Weny Hida
CUPLIKAN:
Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.
"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.
"Sudah," jawab Luna singkat.
__ADS_1
"Ayo kuantar pulang!"
Luna menganggukan kepalanya, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.
Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.
"Terima kasih, Luna."
Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.
'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.
"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."
****
Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.
Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.
CLUP
Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.
"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.
"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.
Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.
"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."
__ADS_1
Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak Devano sedang tersenyum setelah menyematkan cincin pada seorang wanita cantik yang ada di hadapannya diiringi riuh dan tepuk tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.
'Cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, karena sesungguhnya laki-laki tidak butuh cinta. Just sexxx no love!' batin Devano.