Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 31


__ADS_3

Hening untuk beberapa saat, Fio hanya memandangi wajah Daniel dan Karina secara bergantian. Dadanya sesak saat mencerna ucapan Karina yang mengatakan bahwa dia hamil, sedangkan dia masih duduk di bangku SMA.


Fio kembali menatap Daniel yang terdiam seribu bahasa. Bagaimana bisa Daniel yang dia anggap lugu ternyata suhu. Bahkan dengan cepat Daniel sudah memiliki bibir kecebong di rahim pacarnya. Sedangkan dirinya yang tinggal satu atap dengan duren, tak pernah sekalipun saling lirik-melirik. Lalu, dimana Daniel melakukan penyatuan mengingat keduanya tidak memiliki banyak waktu untuk bertemu.


"Bagaimana kalian bisa melakukan hubungan badan, sementara kalian belum menikah? Kalian gak mikirin apa akibatnya?"


Karina tertunduk malu menyesali perbuatannya. Nasi telah menjadi bubur, hanya tinggal diberi ayam goreng agar bisa dimakan. Begitu juga tidak ada cara lain selain mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Keduanya pernah sama-sama saling menikmati, maka saat ini kedua pun juga harus sama-sama menanggung konsekuensinya. Daniel yang sangat mencintai Karina sudah siap mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Sorry. Harusnya gue keluarin di luar biar Karina gak bunting."


Mata Fio terbelalak. Ucapan macam apa itu?


"Ya Allah Kudanil!" bentak Fio kesal. " Bener-bener niat nanam kecebong kamu ya!"


"Kak." Kini giliran Karina yang buka suara. "Aku takut kalau orang tuaku mengetahui hal ini," ucapnya nada takut.


"Heh? Emang pas kamu gituan gak mikirin apa akibatnya?"


Dengan kepolosannya Karina menggeleng pelan. "Karena selama ini aman," ujarnya kemudian.


Fio harus shock untuk berkali-kali dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui. Bahkan Karina menyebutkan selama ini aman, berati keduanya memang sudah sering melakukan seperti itu?


"Astaghfirullahaladzim." Fio hampir pingsan saat membayangkan sang adik melakukan hubungan terlarang bersama dengan pujaan hatinya. "Apakah kalian sudah lama melakukan hubungan terlarang itu?"


Anggukan pelan dari Fio membuktikan jika mereka memang sudah malam melakukan hubungan terlarang. "Udah mulai dari kelas dua, Kak."

__ADS_1


Jantung Fio hampir loncat. Saat dirinya masih polos, adiknya ternyata sudah terkontaminasi dengan perbuatan yang terlarang. "Gila! Kalian gila!" seru Fio.


"Itu semua karena Daniel yang selalu membujukku, Kak."


"Dan kamu tidak berusaha untuk menolaknya?"


Lagi-lagi Karina menggeleng pelan. "Awalnya aku hanya penasaran, Kak. Setelah aku tahu bagaimana rasanya, aku tidak pernah menolak saat Daniel mengajak. Terlebih aku sangat mencintai Daniel. Kak, tolong! Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau menggugurkan bayi ini dan aku juga tidak mau kehilangan Daniel."


Fio membuang kasar napas. Saat mereka mendapatkan kenikmatan, seakan dunia hanya milik mereka berdua, tetapi saat mendapatkan masalah, orang lain harus ikut menyelesaikan masalah mereka. Gaya pacaran anak SMA udah ngalahin gaya pacaran suami-istri.


"Duh ... aku tuh lagi pusing, mikirin idupku sendiri yang gak dinikahi-nikahi sama pak Sakya dan sekarang aku harus mikirin masalah kalian. Kalian pikir aku gak punya masalah?" Fio mendengus dengan kesal.


"Ya lu tinggal ikuti aja cara kita. Buntinglah biar dinikahin sama pak Sakya!"


***


Sudah pukul delapan malam Fio masih termenung di atas sofa. Beban pikirannya semakin bertambah. Selain menunggu kesadaran Nesya, kini dia harus memikirkan jalan baginya caranya meyakinkan kedua orangtuanya agar Daniel bisa menikah diusia dini. Sudah pasti kedua orangtuanya tidak pernah akan setuju, karena Daniel masih sekolah. Jika tidak segera menikahi Karina, maka cepat lambat perut Karina akan membesar. Keduanya sama-sama saling mencintai tetapi tidak bisa menjaga cinta mereka hingga sah menjadi suami-istri yang sesungguhnya.


"Dasar merepotkan!" umpat Fio sambil mengusap kasar wajahnya. Namun, siapa yang menyangka jika Sakya sudah ada didepannya dan mendengarkan ucapan Fio.


"Apakah Nesya terlalu merepotkan?"


"Pak Sakya."


Tatapan Sakya sudah hambar. Tak ada kata sambutan selamat malam dan sudah makan atau belum. Sakya mengira jika Fio sedang mengeluh karena telah menunggu Nesya untuk beberapa waktu ini.

__ADS_1


"Jika kamu lelah, pulanglah! Aku tidak pernah memaksamu untuk menunggu Nesya. Aku masih mampu!"


"Ya Allah pak Sakya ... jangan buat pikiranku tambah runyam deh! Aku lagi banyak pikiran!" Entah keberanian darimana Fio mengeluarkan nada tinggi kepada Sakya. Mungkin karena Fio tidak bisa mengontrol dirinya.


"Maaf Pak udah kelepasan. Aku tuh lagi mikirin masalahnya kudanil yang mengalami pacarnya, Pak? Dan mereka gak tau harus gimana," jelas Fio, yang membuat Sakya menautkan alisnya dengan serius.


"Maksud kami Daniel menghamili pacarnya? Wah ... hebat sekali pacaran anak jaman sekarang. Masih pacaran aja mainnya udah diatas ranjang, gimana kalau udah nikah."


Fio malah terkejut dengan respon Sakya yang diluar dugaannya. Bisa-bisanya dia malah heboh dengan kabar tersebut.


"Ya udah tinggal nikahkan mereka, kelar urusan," lanjut Sakya lagi.


"Masalahnya bapak sama ibu pasti gak akan setuju kalau kudanil nikah duluan, Pak. Apalagi dia masih sekolah."


"Yah ... itu udah resiko. Lagian siapa suruh gituan. Udah gede masa gak tahu konsekuensinya!"


Fio tidak bisa berkata apa-apa lagi. Menceritakan masalahnya kepada Sakya hanya malah membuatnya sakit kepala. "Pak Sakya kalau gak bisa kasih solusi mending diem deh," kesal Fio.


"Kan udah aku kasih solusi, nikahkan mereka!"


"Tapi bapak sama ibu gak akan setuju Pak, kalau Kudanil nikah duluan. Pamali katanya kalau adik yang nikah duluan."


"Kata siapa?"


"Ya Allah, pak Sakya!" geram Fio karena Sakya terus saja menjawab ucapan.

__ADS_1


__ADS_2