Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 08


__ADS_3

Sepertinya memang ada benarnya ucapan Luna yang mengatakan jika Sakya harus pindah rumah. Bayangan dan kenangan bersama dengan Sarah hanya akan membuatnya semakin tersiksa. Terlebih dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Apalagi saat ini dia juga harus merawat Nesya seorang diri. Menjadi single parents bukanlah hal yang mudah untuk seorang laki-laki yang harus proporsional dalam bekerja. Namun, jika Sakya pindah, bagaimana dengan Nesya. Pasti Sakya harus mencari pengasuh baru untuk Nesya di tempat barunya nanti.


Mata sendu itu menatap bocah yang sedang tertidur pulas disampingnya. Wajahnya selalu membuat dirinya terus mengingat mendiang istrinya. Dengan lembut Sakya membeli rambut Nesya. "Maafkan ayah ya, Nes," ucapannya pelan.


Sakya kemudian membenahkan selimut untuk menutupi tubuh anaknya.


***


Hari memang masih menunjukkan pukul 20.30. Sakya ragu apakah dia akan bertandang ke rumah Fio atau tidak. Sakya takut jika kedatangan akan memancing kegaduhan yang tidak dia inginkan. Hidup bertetangga kadang ada saja pihak yang tidak suka dan menjatuhkan agar seseorang itu menderita.


"Kesana gak ya?" Sakya terlihat sangat bimbingan antara ingin menyambangi rumah Fio atau tidak.


Akhirnya dengan keyakinan yang kuat Sakya memilih mendatangi rumah Fio untuk membicarakan sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya sejak tadi pagi. Dengan disambut oleh pak Mail dan Daniel yang sedang duduk di teras, Sakya pun disuruh menunggu sebentar.


"Pak Sakya tumben nyariin Fio, ada apa, Pak?" tanya Daniel heran. Karena ini adalah pertama kalinya Sakya mencari Fio tanpa membawa Nesya.


"Tidak ada. Hanya masalah Nesya saja," jelas Sakya.


Daniel lupa jika saat ini sang kakak adalah pengasuhnya anak pak Sakya, jadi wajar saja jika pak Sakya mencari Fio. Pasti ada sesuatu hal yang ingin di bahas dengan Fio.


Tak lama Fio menyembul dari balik pintu dengan dada yang berdebar. Untuk kali pertama Sakya mencari dirinya. Fio menjadi takut karena dia sudah menduga Sakya akan membahas masalah Nesya.


"Ada apa, Pak?" tanya Fio dengan gugup.


"Gak sopan sambil berdiri. Duduk napa!" tegur Daniel.


"Geser sana!" Fio menggeser tubuh tubuh Daniel yang sedang memainkan ponselnya.


"Apaan sih rusuh luh!" sewot Daniel karena Fio mengganggu permainannya. "Dah ah, gak enak-enaki orang main games." Kesal Daniel yang memilih pindah ke anak tangga.

__ADS_1


Fio merasa sangat gugup. Bahkan jantungnya tidak bisa diam. Fio hanya bisa berharap jika Sakya tidak mendengar degup jantungnya yang sedang berdisco.


"Fi, saya tidak bisa lama-lama karena Nesya sedang tidak di rumah. Jadi sebenarnya ada hal penting yang harus aku bicara denganmu mengingat Nesya sudah sangat nyaman berada dalam asuhanmu. Ada beberapa hal yang tidak bisa saja jelas saat ini, tapi aku saya hanya akan mengatakan jika dalam waktu yang dekat saya akan pindah. Selain karena pekerjaan yang menuntut saya untuk profesional, sebentar lagi Nesya juga akan masuk sekolah. Jadi saya ingin mencari tempat yang lebih dekat dengan kantor dan juga tempat sekolah Nesya. Untuk itu saya berharap kamu bisa ikut mengasuh Nesya saat saya pindah nanti," jelas Sakya panjang lebar.


Fio yang mendengar penjelasan Sakya hanya bisa tertegun. Pikirannya langsung melayang saat membayangkan dia akan tinggal satu atap dengan Sakya dan Nesya, layaknya sebuah keluarga.


"Pak Sakya tidak pernah khawatir, Fio pasti akan turut ikut bersama pak Sakya untuk menjaga dan mengasuh Nesya dengan baik," jawab Fio dengan penuh semangat.


Bagaimana mungkin Fio akan menyia-nyiakan sebuah kesempatan emas. Belum tentu kesempatan itu akan datang dua kali.


"Tapi apakah kamu diberi izin oleh bapak dan ibumu?" tanya Sakya ragu.


"Bawa aja Pak. Jelas dapat izin dari ibu. Yah ... itung-itung ngurangin biaya makan di rumah. Mana dia pengangguran lagi," sela Daniel dari bawah.


Sontak Fio langsung membulatkan matanya kepada Daniel dengan kesal. "Mulut luh ya! Gue udah gak pengangguran lagi karena gue kan udah jadi pengasuh anaknya pak Sakya!" protes Fio dengan bangga.


Setelah dirasa cukup dan Fio tidak merasa keberatan ikut dengannya nanti, Sakya akhirnya langsung pulang dengan perasaan lega. Sepertinya tidak ada masalah, berarti Sakya hanya tinggal mencari tempat tinggal yang lebih strategis.


***


Sudah menjadi rutinitas setiap hari, Fio pasti akan mengajak Nesya untuk turut membantu ibunya membersihkan halaman rumah. Nesya yang aktif pun dengan senang hati mengikuti setiap langkah gerakan ibunya Fio.


"Fi, tadi malam ibu dengar suara pak Sakya di depan rumah. Ada apa?" tanya ibunya yang merasa penasaran.


"Oh itu ... salam waktu dekat pak Sakya mau pindah rumah dan dia meminta Fio untuk tetap menjaga anaknya," jelas Fio.


"Wah ...bagus dong Fi! Pepet terus jangan kasih kendor orang lain masuk," kata ibunya dengan rasa bangga.


Fio menautkan alisnya merasa aneh, mengapa ibunya sangat ngebet ingin Fio mendapatkan duren satu anak itu. Sebagai orang tua seharusnya ibu Fio menenteng hubungan Fio dengan pak duren karena mereka itu berbeda. Selain duda, pak Sakya juga telah memiliki anak. Sedangkan Fio masih gadis kinyis-kinyis.

__ADS_1


"Ibu gak keberatan gitu kalau Fio tinggal satu atap dengan pak duren?"


"Kenapa keberatan? Itu kan bagus jika kamu bisa tinggal satu atap dengan pak duren. Kamu bisa dekat dengan dia. Ibu itu sangat berharap kamu menjadi istrinya pak Sakya, Fi."


"Kenapa begitu, Bu?" tanya Fio heran.


"Meskipun dia duda, tapi setidaknya dia itu mempunyai hidup yang mapan. Ibu yakin jika kamu menikah dengan pak duren hidup kamu pasti akan terjamin. Apalagi dengan pekerjaannya sebagai pengacara. Kamu tidak akan kekurangan uang," jelas ibunya lagi.


Fio hanya mengangguk pelan. Mungkin benar kata ibunya dengan pekerjaan pak duren saat ini, hidup Fio pasti tidak akan kekurangan.


Baru saja Fio ingin mengajak Nesya untuk cuci tangan, tiba-tiba para duta janda muda memanggili nama Fio dengan serentak.


"Fio sini kamu!" teriak teh Nining.


"Sini atau kami yang kesana!" teriak teh Mala yang sudah tidak sabar untuk menggiling Fio.


Menurut kabar dari teh Shanti, tadi malam pak Sakya datang untuk ngapelin Fio. Padahal sebelumnya Fio sudah diperingatkan untuk menjauhi pak duren, tapi sepertinya Fio tidak mendengarkannya.


"Kamu ini gadis kecentilan banget sih! Sudah dibilang jangan deketin pak duren masih aja keganjalan. Kamu sengaja kan ngerayu pak duren? Mentang-mentang kamu momong anaknya?" timpal teh Mala lagi.


Nesya merasa tidak asing lagi dengan ketiga orang yang berada di depan pintu gerbang sana. Mereka adalah orang yang saat itu memarahi aunty-nya.


"Aunty, mereka siapa sih? kok merahin aunty lagi? Mereka jahat sekali," celoteh Nesya dengan kepolosannya.


"Sudah abaikan saja. Mereka memang seperti itu karena gak punya pekerjaan lain. Dah ah, kita masuk aja ya."


Tanpa ingin memperdulikan para duta jamu, Nesya memilih masuk kedalam rumah. Begitu juga dengan ibunya Fio yang memilih mengabaikan kehadiran duta jamu. Beruntung saja pintu gerbang sudah dikunci, jadi tidak ada celah untuk para jamu masuk kedalam rumahnya.


"Dah sana urusin diri sendiri, gak usah ngurusin orang lain. Ngaca sana!" usir ibu Fio sambil meninggalkan para jamu yang hanya bisa melongo karena mereka dikacangin.

__ADS_1


__ADS_2