Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Tama dan Tari


__ADS_3

Tari menunggu dengan gusar, wanita yang sedang berbadan dua itu duduk di kursi rumah sakit bersama Bik Arum.


Pria yang menolong Tama sudah pulang begitu mendengar kondisi suami Tari.


Tari memberikan sejumlah uang tanda terima kasih ke pada pria itu, namun ditolak dengan halus oleh si penolong.


"Bik," panggil Tari dengan suara yang serak.


"Suami kamu pasti baik-baik saja," ucap Bik Arum menenangkan.


Tari dan Bik Arum dengan setia menunggu Tari bisa masuk menemui suaminya.


Kaki wanita itu melangkah masuk, tangannya membuka pintu kamar rawat inap sang suami dengan perlahan. Sementara Bik Arum memilih menunggu di luar.


Air mata Tari kembali menetes begitu melihat kepala Tama yang diperban serta luka-luka yang ada di tubuh suaminya.


"Hiks, Pak Tama ...."


Tari menggenggam tangan suaminya dengan lembut, ia memperhatikan wajah pucat Tama dengan mata berkaca . Wanita bertubuh mungil itu merasa takut karena sang suami tak kunjung siuman.


"Pak Tama bangun."


Tama masih saja setia memejamkan matanya. Tari mengangkat tangan suaminya lerlahan dan meletakkan tangan itu ke atas perutnya.


"Jagoan kita, dia anak Pak Tama ... Hahua bangun."


"Ayo nak, suruh Papa bangun."


Tari mengenggam tangan sang suami, lalu meletakkannya tepat di pipinya yang tembam.


"Tari janji kalau Pak Tama bangun ... Tari akan kembali, Tari—"


"Aku pegang janjimu sayang."


Deg!


Tari mengangkat kepalanya yang tertunduk begitu mendengar suara lirih Tama.


"Maafkan aku membuatmu kembali menangis," ucap Tama dengan suara yang lemah.

__ADS_1


"Pak Tama ...."


Tama mengulas senyum di wajah pucatnya, pria itu sedari tadi sudah sadar sejak Tari masuk ke dalam ruangannya, hanya saja pria itu tetap memejamkan matanya dan ingin mengetahui apakah Tari masih mencintainya atau tidak.


"Kau janjikan ingin kembali pulang bersamaku." Tama menatap wajah istrinya dengan mata yang sayu.


Tari mengusap air matanya dengan lengan baju yang ia kenakan, lalu kepala wanita itu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Tama, sang suami.


Cukup lama mereka terdiam sembari saling memandang.


"Kau pasti lelah, ke marilah!" Tama menggeser tubuhnya, memberikan ruang ke pada Tari agar bisa berbaring di sebelahnya.


"Eumm ... Tari keluar sebentar, kasihan Bik Arum menunggu di luar sendirian," ucap Tari lalu melenggang pergi.


Tari dapat melihat raut wajah kecewa suaminya, namun pria itu tetap mengulas senyumnya di depan sang istri. Sungguh sangat berbeda dengam Tama yang dulu.


"Bagaimana keadaan suami kamu?" tanya Bik Arum.


"Sudah sedikit membaik, Bik. Bik Arum kembali duluan saja. Pasti Bik Arum kelelahan menunggu di sini dari tadi," ucap Tari.


Diusia Bik Arum yang tak lagi muda memang membuat wanita tua itu cepat lelah. Untuk duduk lama saja dia sudah merasa tidak nyaman.


"Tari menunggu suami Tari baikan Bik," jawab Tari.


"Apa kalian sudah berbaikan?" tanya Bik Arum dengan tersenyum. Wanita itu dapat melihat wajah Tari yang berbeda dari sebelumnya.


Tari mengangguk malu. Bik Arum tersenyum lega dan ikut merasa senang. Wanita tua itu memutuskan untuk kembali ke rumahnya bersama supir.


Begitu Tari mengantarkan Bik Arum ke parkiran rumah sakit, ia kembali menghampiri suaminya.


Pria yang berbaring di atas brankar rumah sakit itu langsung menggeser tubuhnya seraya menepuk-nepuk sisi yang kosong.


"Tapi ... Tari kan berat, nanti kalau jatuh gimana?"


Tama terkekeh pelan, pria itu meyakinkan ke pada istrinya jika brankar ini aman. Apa lahi melihay sebenarnya tubuh Tari sama saja, hanya perutnya yang buncit.


Akhirnya wanita itu mau, dan ikut bergabung bersama suaminya di atas brankar.


Tangan Tama merengkuh tubuh Tari dengan posesif. Pria itu berulang kali mengecupi puncak kepala sang istri.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menerimaku kembali, i love you so much." Tama sedikit melonggarkan pelukannya seraya mengusap perut sang istri.


Tari tak tau harus berkata apa, ia hanya bisa diam menikmati semua takdir yang sedang ia jalani.


"Saat kamu pergi, kedua sahabtmu selalu mererorku dengan pertanyaan yang sama 'Tari di mana? Kenapa bisa Bapak tidak tahu? Apa Bapak menyakiti Tari?' dan Ardi juga menanyakan di mana kamu berada," ucap Tama.


Tari jadi merasa bersalah ke pada orang terdekatnya karena ia pergi begitu saja tanoa berpamitan pada kedua sahabat serta Bang Ardi.


Wanita itu jadi tidak sabar ingin bertemu dengan Una, serta orang-orang yang disayanginya.


"Ada hal yang harus kamu tau Tari," ucap Tama terjeda.


"Hm? Apa itu?" tanya Tari.


"Em, soal Mami Sun ... Dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal, semua bukti cctv membuatnya berada di balik jeruji besi."


"Siapa yang melaporkan Mami Sun?" tanya Tari penasaran.


"Suamimu," jawab Tama.


"Suami Tari? Pak Tama dong berarti," ucap Tari dengan wajah polosnya.


"Memangnya siapa suamimu selain aku, kau hanya milikku seorang."


"His! Pak Tama baru aja siuman sehabis kecelakaan loh!"


Tari heran dengan suaminya yang baru saja mengalami kecelakaan tapi sudah bisa banyak bicara dan malah tampak bahagia.


"Hanya kecelakaan kecil, menabrak pohon di pinggir jalan," jawab Tama dengan enteng.


Tama membalik tubuh Tari dengan perlahan agar berhadapan dengan dirinya.


Pria itu mengusap pipi Tari dengan lembut sebelum akhirnya bibir mereka saling berpangutan dalam perasaan yang tidak dapat dijelaskan.


Mereka memutuskan untuk kembali bersama, dan memulai semuanya dari awal.


-TAMAT-


TERIMA KASIH KE PADA PARA READERS YANG SUDAH MEMBACA CERITA INI HINGGA AKHIR😍

__ADS_1


LOPE-LOPE SEKEBON ALL


__ADS_2