Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 33


__ADS_3

Fio dengan sabar menunggu kedua orang tuanya siap melakukan ritual mencangkok, meskipun membutuhkan waktu lumayan lama. Setelah Fio mendengar suara televisi menyala, Fio yakin jika kedua orang tuanya sudah selesai melakukan ritualnya khususnya. Fio pun segera memberanikan diri untuk bergabung bersama dengan bapaknya yang hanya mengenakan kaos oblong dan sarung yang dililitkan di pinggangnya. Begitu juga sang ibu yang hanya mengenakan sebuah daster rumahan dengan handuk yang melilit rambutnya.


Pak Mail merasa sangat terkejut saat melihat Fio berjalan menghampirinya. "Lho, sejak kapan kamu pulang?" tanya bapaknya dengan raut penuh keterkejutan.


Fio tersenyum tipis sambil menjatuhkan kasar tubuhnya disamping sang bapak. "Baru setengah jam yang lalu," kata Fio biasa saja.


Sang ibu yang sedang membawa satu cangkir kopi untuk suaminya juga tak kalah terkejutnya saat melihat anaknya telah berada disamping suaminya. "Sejak kapan anak ini disini?"


"Ya ampun ... gak bapak, gak ibu, kenapa pertanyaan kalain itu sama sih? Ini kan juga rumah Fio, jadi kapan aja Fio pulang kalian tak perlu khawatir." Fio mendengus kesal, seolah jika Fio memang tidak mendengarkan suara apa yang baru saja mereka ciptakan.


"Kamu pulang gak bilang-bilang. Ada apa?" tanya ibunya sambil meletakkan secangkir kopi di depan bapaknya.


"Fio tuh lelah jagain Ines yang belum juga sadar, akhirnya saat pak Sakya ada waktu Fio gunakan untuk beristirahat di rumah," jelas Fio dalam keadaan berdusta. Tidak mungkin Fio jujur lebih awal, bisa-bisa kedua orang tuanya sangat murka besar-besaran.


Bapak dan bapaknya saling melempar pandangan membuat suasana terlihat canggung. Bahkan ibu Fio tak banyak bertanya kepada Fio mengapa dia tidak pulang saja ke rumah Sakya.


"Bu, gimana gosip kemarin udah kelar?" Fio berusaha untuk mencari topik yang tepat sebelum menuju pada masalah inti. Bahkan Fio sudah pikir dengan matang langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya.

__ADS_1


"Tenang aja, semua udah kelar. Ibu udah bungkam mulut para janda-janda muda itu," balas ibunya.


Fio mengangguk pelan. Detik kemudian. "Bu, Fio dan pak Sakya ingin segera menikah," kata Fio dengan mata terpejam. Dia tau apa yang baru saja dia katakan akan menjadi boomerang untuk dirinya jika ternyata Sakya tak bersedia untuk menikahi dirinya. Namun, semua ini adalah salah satu cara agar Daniel dan kekasih bisa menikah.


Kedua pasangan mata saling melebar dengan penuh keterkejutan, meskipun sebelumnya Sakya memang sudah meminta izin untuk menikah anaknya. Namun, saat ini keadaan Sakya sedang rapuh karena sang anak sedang jatuh koma.


"Kamu serius, Fi. Tapi Nesya belum juga sadar. Masa iya kalian mau nikah?"


"Ya, namanya juga udah cinta, Bu. Siapa tau aja dengan pernikahan ini, Ines bisa bangun dari komanya. Siapa tahu dia memang sangat mengharapkan sosok ibu disampingnya. Fio udah ikhlas lahir batin untuk menjadi ibu untuk Nesya, Bu." Meskipun hanya sebuah karangan cerita, tetapi Fio berharap jika memang seperti itu yang akan terjadi kelak.


"Dua ruis, Pak."


"Baiklah, untuk langkah selanjutnya bapak ingin berbicara dengan Sakya."


"Iya. Nanti Fio sampaikan kepada pak Sakya. Jadi intinya bapak sama ibu setuju kan?"


Ibu Fio yang sangat mengharapkan momen ini langsung segera mengiyakan. "Jelas setuju lah, Fi. Gak sia-sia ibu berharap."

__ADS_1


Mungkin ini saat yang tepat buat mengatakan intinya. Semoga mereka tidak curiga dan banyak bertanya. Jika sampai gagal, habislah hidup kudanil.


Fio menatap kedua orang tuanya saling bergantian. Hatinya ragu, tetapi harus segera diungkapkan. Sudah berapa jam Fio mengulur waktu. Percuma jika sampai terlewatkan.


"Tapi ...." Fio menjeda ucapnya sambil menatap kedua orangtuanya. "Tapi Fio juga ingin Daniel menikah juga. Fio kita menikah di waktu yang sama, Pak, Bu."


Detik itu juga kedua orang tua Fio tersentak. Bagaimana bisa Daniel yang masih sekolah ingin diajak menikah? begitulah kira-kira yang sedang dipikirkan oleh orang tuanya.


"Kamu jangan gila, Fi. Adik kamu itu masih sekolah," kata bapaknya tidak terima.


"Tapi sebentar lagi dia lulus, Pak. Bapak gak kasihan kalau pacarnya dibawa keluar Negeri oleh keluarga dan Daniel gila?"


"Memang perempuan cuma satu," sahut ibunya.


"Tapi si Kudanil itu cinta mati sama pacarnya, Bu. Dan sebagai kakak yang menyayangi adiknya, Fio ingin mengajak Kudanil untuk menikah di waktu yang sama. Ayolah Pak, Bu. Fio dan Kudanil udah pernah ngikat janji ingin menikah secara bersamaan sebagai tanda kita adalah saudara yang saling berbagi suka dan duka," jelas Fio dengan rengekan.


Fio masih menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh kedua orang tuanya. Terlihat sang ibu sedang membisikkan sesuatu di telinga bapaknya. Berharap saat ini sang ibu juga sedang berpihak kepada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2