
Kedua wanita itu berlari menghampiri Tama. Nadia memegang gagang sapu guna mengusir kawanan angsa yang masih berada di sekitaran pria yang tersungkur di atas tanah berlumpur.
"Syuh! Syuh!" Nadia mengayunkan gagang sapu yang ia pegang, segerombolan angsa nakal pun pergi dari tempat itu.
"Pak Tama! Sini Tari bantu." Tari membantu sang suami untuk berdiri.
Tama menegakkan tubuhnya, ia melihat baju serta tangannya yang penuh dengan lumpur. Pria yang sudah kepalang malu itu langsung masuk ke dalam mobil.
"Nad, besok aja deh bukunya. Gue balik ya," pamit Tari.
Nadia menatap sahabat serta dosen kewirausahaanya dengan mata yang tidak berkedip. Baru kali ini ia menyaksikan seorang dosen tersungkur serta disosori oleh kawanan angsa. Kalau dia yang berada di posisi Pak Tama, mungkin saja ia tidak berani menampakkan wajahnya pada orang yang menyaksikan kejadian tersebut.
"P-pak, masih bisa menyetir?" tanya Tari hati-hati.
"Bocah sableng, ini semua gara-gara kau!"
Merasa tak terima disalahkan, Tari melayangkan protesnya.
"Salah sendiri disosori angsa kok diam aja," cicit Tari dengan mulut yang maju seperti bebek.
Nadia memperhatikan mobil suami sahabatnya yang masih berada di pekarangan kontrakannya.
"Kok masih di sini? Au ah, mending aku nyuci piring." Nadia masuk ke dalam kontrakannya.
Tama semakin meradang kala mendengar jawaban sang istri yang tak mau disalahkan. Ia baru saja ingin menyambar tangan Tari, namun gerakkan itu terhenti karena bumpernya yang berdenyut nyeri.
"Pak Tama kenapa!?" panik Tari mendengar ringisan yang keluar dari mulut suaminya.
"Kau bisa menyetir tidak?" tanya Tama.
Kepala Tari menggeleng, ia tidak pandai mengendarai mobil. Kalau sepeda motor barulah wanita itu bisa.
"Hah, sial sekali aku hari ini." Tama memukul stirnya dengan emosi. Pria itu langsung menyalakan mobil dan pergi dari tempat terkutuk yang membuatnya malu bukan main.
Tari terus memperhatikan sang suami yang menyetir dengan tidak nyaman. Kerut-kerutan wajah Tama begitu kentara, persis seperti orang yang sedang menahan sakit.
Tidak butuh waktu lama, mobil mereka sudah tiba di depan gerbang. Satpam di kediaman keluarga Batara membukakan akses masuk.
"Aw! Aku benci angsa! Bedebah kurang ajar!" maki Tama, ketika ia merasakan sakit dibumpernya saat bergerak keluar dari mobil.
Tari mengikuti langkah suaminya dari belakang, wanita itu tidak berani mengganggu Tama yang sedang dalam mode singa.
Begitu mereka masuk, Mama Widi menyambut Tama dan Tari dengan berbagai pertanyaan. Bagaimana tidak, kondisi putranya saat ini sungguh kacau. Tubuh berlumpur, serta jalan sambil mengusap-ngusap bumper belakang.
"Tama! Kenapa badanmu kotor begini?"
Pria itu melewati Mamanya begitu saja tanpa menjawab, Tama menaiki tangga dengan wajah tertekuk kesal.
__ADS_1
"Suami mu kenapa, Tar?" tanya Mama Widi yang masih penasaran.
"Disosor angsa, Ma," jawab Tari seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Buahahaha, kok bisa?" Mama Widi tergelak. Wanita paruh baya itu mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa berlebihan.
"Panjang ceritanya, Ma. Tari ke atas dulu ya, mau ngobati anak Mama." Tari menyengir, lalu wanita itu pergi menyusul sang suami yang sudah berada di dalam kamar.
Begitu Tari masuk ke dalam kamarnya, ia tidak melihat keberadaan Tama. Namun, terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi, itu artinya Tama sedang membersihkan diri.
Tari memilih untuk menyiapkan pakaian suaminya terlebih dahulu. Saat tugasnya selesai, ia memilih duduk di atas ranjang menunggu sang suami selesai mandi.
Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari. Sebuah obat salep pereda beram.
"Ini pakaiannya," ucap Tari menyodorkan beberapa helai kain yang terlipat rapi ke pada suaminya.
Tama mengambil satu set pakaian tidur yang sudah disiapkan oleh Tari. Ia pergi ke ruang ganti untuk mengenakannya.
"Sini! Biar Tari obati." Tari menepuk-nepuk ranjangnya.
Pria yang sedang pusing itu pelan-pelan membaringkan tubuhnya.
"Telungkup, My Lion!" seru Tari.
"Hei! Kau jangan memerintahku!"
Mau tak mau Tama membalik badannya menjadi terlungkup. Pria itu mengikuti arahan wanita yang sering dipanggilnya dengan sebutan bocah sableng.
"Apa yang kau lakukan!?" pekik Tama dengan suara beratnya.
"Kalau mau disalepi ya harus dibuka celananya, gimana sih! Ck-ck-ck. Kalau protes lagi, Tari tinggal loh!" Tari berdecak sebal, sebab suaminya selalu saja protes.
'Sialan!!! Aku jadi harus diperlakukan seperti ini, awas saja kau angsa! Akan kubeli kalian, lalu kujadikan makanan.' batin Tama.
Tangan Tari menarik celana serta kain berbentuk segitiga itu ke bawah. Dengan hati-hati ia mengoleskan bekas cubitan angsa yang belum begitu hitam.
"Satu, dua, tiga, empat. Wow! Banyak juga bekas ciuman angsanya." Tari berdecak kagum, wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau benar-benar sableng! Bisa tidak selesaikan dengan cepat?!" Lagi-lagi Tama kembali protes. Pria itu kesal, kenapa ada spesies langka seperti Tari. Disaat dia menahan malu, Tari malah menghitung jumlah bekas sosoran angsa.
Tari mencebikkan bibirnya, wanita itu kembali mengolesi salep pereda ruam ke bagian yang belum diobati.
"Fuhhh ... fuhhh ... fuhhh." Tari memajukan bibirnya, wanita itu memberi tiupan pada beram Tama dengan harap agar bekas sosoran angsa itu lekas sembuh.
"Shittt!!! Kenapa kau meniup-niup bokon9ku! Are you crazy!" teriak Tama.
Tari spontan menegakkan badannya karena terkejud oleh suara Tama yang menggelegar seperti gemuruh petir.
__ADS_1
"His! Tari kaget tau! Untung jantung Tari gak melorot ke perut." Tangan Tari memegangi dad4nya yang terasa berdebar.
Tama tidak memperdulikan Tari yang kaget akan teriakannya. Ia menarik kembali pinggang celana yang tadi diturunkan oleh sang istri, lalu pria itu mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang.
"T-tari mandi dulu deh." Wanita itu kabur meninggalkan suaminya yang sedang marah. Ia berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Tuhan, kenapa kau datangkan wanita aneh seperti dia dihidupku?" gumam Tama.
***
Tari sedang berada di dapur untuk membantu Bik Atik memasak menu makan malam.
Tadi, begitu Tari selesai mandi. Ia melihat Tama sudah terlelap, wanita itu sempat menyentuh wajah suaminya. Dan ternyata sang suami terserang demam. Mungkin saja karena kejadian tadi sore.
"Nak Tari, biar Bik Atik aja yang masak."
"Tidak apa, Bik. Tari sekalian mau buat sup hangat untuk suami Tari," ucap wanita itu sambil menyiapkan bahan masakan.
"Dari tadi Bibik nggak lihat Nak Tama. Apa belum pulang?" tanya Bik Atik sambil merajangi bawang-bawangan.
"Udah, Bik. Lagi istirahat di atas."
Bik Atik mengangguk paham, wanita paruh baya itu tidak lagi bertanya dan memilih menyuci sayur-sayur yang akan digunakan tari untuk membuat mushroom soup.
"Ini rotinya untuk apa, Nak Tari?" tanya Bik Atik mengangkat roti baguette.
Yaitu roti Prancis berbentuk memanjang yang memiliki tekstur garing di bagian luar dan airy.
"Oh itu untuk membuat garlic bread, Bik. Cocok banget dicocol sama mushroom soup."
Tari tak asal memilih menu untuk suaminya, ia melihat hari yang mendung serta dingin. Jadilah ia memutuskan untuk memasak sup jamur.
"Wih keren ya, Bibik nggak paham sama makanan yang begini."
"Hehe, ini Tari juga tau nya karena pernah praktek di kampus, Bik."
Tari menghabiskan waktu cukup lama di dapur. Di kamar, Tama masih terlelap. Sementara Una kini ikut bergabung bersama Tari.
Bocah gembil itu menanyakan berbagai hal yang membuatnya penasaran. Seperti apa yang sedang dimasak oleh Tari, apa nama alat yang pakai Tari untuk melepaskan jagung dari bonggolnya dan masih banyak lagi pertanyaan dari bocah berusia lima tahun itu.
`
`
`
Bersambung ....
__ADS_1