Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 29


__ADS_3

Fio dan kedua orang tuanya segera mencari kamar dimana Nesya dirawat. Setelah mendapatkan pesan dari Sakya Fio yang panik segera mengajak kedua orang tuanya untuk langsung ke rumah sakit.


Sesampainya di kamar Nesya, Fio segera menghampiri Sakya seorang diri. "Pak Sakya." Isak tangis Fio pecah. Matanya tak sanggup melihat Nesya yang masih menggunakan alat bantu pernapasan. Begitu juga dengan kedua orang tua Fio yang merasa sangat kasihan kepada Nesya. Namun, karena ada batasan jumlah penjenguk untuk saat ini, terpaksa kedua orang tua Fio mengalah untuk keluar dan membiarkan Fio untuk menenangkan hati Sakya.


"Pak ... maafin Fio yang tidak bisa menjaga Ines. Coba saja kalau Fio gak sakit, mungkin Nesya tidak akan pernah mengalami kecelakaan seperti ini," sesal Fio.


Mata Sakya menatap Fio yang menyalahkan dirinya sendiri. Ketulusan Fio terlihat sangat jelas jika dia memang menyayangi Nesya dengan sepenuh hatinya.


"Semua itu sudah takdir. Apakah kamu bisa mengubah takdir?" Meskipun dalam keadaaan sedih, tetapi Sakya tetaplah Sakya yang selalu datar. "Meskipun kamu berada disisi Ines, jika itu adalah takdir dari sang pencipta, apakah kamu bisa melawannya?"


Dengan bibir yang mengerucut, Fio memprotes ucapan Sakya. "Tapi setidaknya kita bisa mengelak dengan cara menghindar. Ines itu masih kecil dan butuh pengawasan dari orang dewasa, Pak. Lagian gimana ceritanya Ines bisa sampai ditabrak lari sih?" Tanpa sadar Fio malah mengomel. Saat itu juga Sakya baru menyadari keberadaan ibu mertuanya yang tak kunjung terlihat. "Fi, apakah di luar ada mertuaku?" tanya Sakya.


Fio menggeleng pelan. "Ralat, Pak! Mantan ibu mertua," ketus Fio.


Bagi Sakya Nadine tetap saja mertuanya, meskipun Sarah sudah tiada. Jikalau kelak Sakya menikah lagi, Nadine tetaplah akan menjadi ibu mertua untuknya.

__ADS_1


***


Fio ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Sakya. Meskipun Nesya bukan siapa-siapa, tetapi kebersamaannya bersama dengan Nesya bagaikan kakak dan adik.


Fio juga merasa sangat shock saat Sakya mengatakan jika saat ini Nesya tidak bisa berjalan lagi dan kecil kemungkinan untuk Nesya bisa sembuh seperti sedia kala.


"Pak, makan dulu. Jangan sampai pak Sakya ikut sakit. Kalau pak Sakya sakit siapa yang akan ngurusin?" omel Fio sambil mengeluarkan nasi bungkus yang dia beli di warung depan rumah sakit.


"Kamu aja yang makan. Aku masih kenyang," tolak Sakya.


Mata Sakya membulat. Baru dua hari tidak bertemu dengan Fio, perempuan itu sudah pandai menggoda.


Sakya berdecak pelan. Dengan rasa malas, Sakya mengambil nasi bungkus dari tangan Fio. "Kamu gak pulang?"


Fio menggeleng pelan. "Kata bapak sama ibu, Fio di suruh nungguin Nesya sama jagain pak Sakya," ujarnya. Sakya acuh dan memilih menyuapkan nasi kedalam mulutnya. "Aku sudah biasa seperti ini, jadi kamu pulang aja. Nanti kalau sakit lagi siapa yang repot? Siapa yang mau jagain Ines?"

__ADS_1


"Kan ada pak Sakya. Nanti kalau aku sakit, pak Sakya yang ngurusin aku." Tawa Fio lepas saat melihat senyum tipis di wajah Sakya. "Nah, gitu dong senyum," ujar Fio lagi.


Malam ini hanya Sakya dan Fio yang menunggu Nesya. Entah sampai kapan anak itu akan siuman. Sudah hampir 10 jam dari masa operasi, tetapi belum ada tanda-tanda Nesya siuman.


Untuk memecahkan keheningan, Fio menceritakan bahwa dirinya sempat didemo oleh warga gara-gara kesalahan pahaman. Warga mengira jika Fio beneran hamil, bahkan kedua orang tuanya juga sempat menuding jika Fio tengah hamil. Mendengar cerita Fio membuat Sakya kembali tertawa kecil.


"Pak Sakya enak gak ngerasain gimana di hakimin sama bapak ibu. Belum lagi para duta jamu yang mendemo rumah. Untung aja ada kudanil yang otaknya encer," cerita Fio tanpa ada yang terlewatkan.


"Kudanil?" kening Sakya melipat karena tidak tahu siapa kudanil yang dimaksud oleh Fio.


"Daniel, Pak," ralat Fio.


Fio asik bercerita, hingga tanpa sadar jarum jam sudah menunjukkan angka 10. Biasanya Fio sudah lelap dalam alam mimpi, tetapi karena disampingnya ada duren, matanya masih jernih untuk berjaga. Namun, tiba-tiba Fio teringat pada Nadine yang sejak tadi tak ada batang hidungnya.


"Oh iya,dari tadi Fio kok gak liat bu Nadine ya?"

__ADS_1


Saat itu juga Sakya baru menyadari jika dia tak melihat mertuanya sejak tadi. Tidak mungkin jika sang mertua pulang tanpa berpamitan dahulu. "Iya. Kemana dia?"


__ADS_2