Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Ingin Kembali Bersama


__ADS_3

Tari tidak menyadari jika Tama terus mengikutinya hingga ke parkiran super market. Pria itu sedikit mengambil jarak. Ia bersembunyi di balik dinding ketika Tari masuk ke dalam mobil.


"Loh tidak jadi belanja Nak?" tanya Bik Arum.


Wanita tua itu mengusap bahu Tari, ia kebingungan akan Tari yang terlihat panik dan tiba-tiba ....


"Aw!" aduh Tari pelan


"Kenapa Nak?" Bik Arum tetlihat panik saat Tari memegangi perutnya.


Kepala Tari menggeleng. Dalam hati ia berbicara pada anaknya, Apa kamu ingin bertemu papa nak? Maafkan Mama.


Tangan Tari terus mengelus perutnya yang tadi sempat merasakan keram. Ia juga merasakan anaknya yang bergerak aktif.


"Pak kita kembali ke rumah ya," ucap Tari.


Pak supir pun menyalakan mobilnya dan membawa kedua wanita beda generasi itu menuju tempat tinggal mereka yang jauh dari kebisingan kota.


Sementara itu, Tama langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya untuk mengikuti kemana Tari pergi.


"Aku akan membawamu dan anak kita kembali ke rumah," ucap Tama bermonolog dengan penuh tekad yang tinggi.


Pria itu mengerutkan alisnya, ternyata istrinya tinggal di tempat ini. Tapi kenapa ia tidak dapat menemukan istrinya? Kenapa orang yang ia sewa juga tak dapat menemukan keberadaan Tari. Batin Tama.


Di tempat yang jauh, Fajar mendapatkan telfon dari orang yang selama ini menjaga Tari dari jarak jauh atas perintah Fajar.


"Ya?" Fajar berdiri di depan kaca yang menyajikan pemandangan gedung-gedung tinggi.


"Tuan, dia sudah tau keberadaan Nona Tari."


Fajar menghempaskan napasnya dengan kasar, ia tau hari ini akan datang. "Berikan akses untuknya, tapi jangan sampai dia membawa Tari pergi dengan mudah."


"Baik, Tuan."


Pria itu memijit keningnya yang terasa berdenyut. "Hehh ... jatuh cinta memang rumit dan menyakitkan."


***


Tama berhenti agak jauh dari sebuah rumah yang dimasuki oleh Tari dan seorang wanita tua yang tidak ia kenal.


Pria itu merogoh saku celananya ketika suara ponsel miliknya berbunyi. "Halo—"

__ADS_1


"Tama! Orang yang mau bergabung dengan resto kita menghubungi Papa, katanya kamu tidak ada di sana!" Papa Adam mengusap wajahnya dengan kasar.


"Maaf, Pa. Tapi ada yang lebih penting dari itu."


"Tapi kamu harus profesional, Tam. Memangnya apa yang lebih penting?" tanya Papa Adam.


"Istriku!" jawab Tama dengan singkat.


"M-maksudmu Tari? Apa dia sudah ketemu. Bagaimana keadaannya? Sekarang kamu ada dimana? Papa dan Mama akan segera menyusul." Papa Adam begitu semangat, akhirnya ia mendapat kabar tetang menantunya.


Tangan Tama mencengkram kemudi. "Untuk saat ini biar Tama berjuang untuk membawa Tari kembali."


"Baiklah, kalau ada apa-apa kabarin Papa."


Pria itu menjawab singkat ucapan Papa nya. Tiba-tiba ia mendengar suara Mama Widi yang bertanya ke pada Papa Adam. Dan detik berikutnya suara gembira Mama Widi memekakkan telinga Tama.


"Tama kau harus berjanji pada Mama untuk membawa menantu kesayangan kami pulang!"


"Ya," sahut Tama.


"Tam, Tama ... astaga anak ini malah dimatiin. Dasar anak kamu Pa." Mama Widi menyodorkan ponsel itu ke suaminya.


"Anak kamu juga, Ma. Kan kita buatnya berdua."


"Aw! Apa hubungannya dengan umur sih Ma? Kita masih muda kok." Papa Adam megusap-ngusap pinggangnya yang terasa perih.


Mama Widi yang malas meladeni suaminya meninggalkan pria paruh baya itu, ia lebih memilih naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu, Tama masih setia menunggu dari kejauhan. Pria itu berharap bisa melihat wajah istrinya lebih lama, begitu berat ia menanggung rindu semenjak kepergian Tari. Tidak ada lagi suara berisik wanita mungil itu. Tari pergi membawa cahaya hidup Tama beserta Una.


"Akan kubuktikan jika aku benar-benar mencintaimu." Tama menyugar rambut hitam legamnya.


Sementara Tari sedang merebahkan dirinya di atas kasur, wanita bertubuh mungil itu mengusap-ngusap kakinya yang terasa pegal. Tiba-tiba pikiran Tari melayang saat bertemu dengan Tama tadi.


Ia seperti melihat Tama yang berbeda, suaminya itu terlihat tidak rapi. Wajah yang terlihat seperti kurang tidur, bulu-bulu halus disekitar rahang kokoh Tama yang semakin lebat dari waktu terakhir Tari melihat sang suami.


Tak hanya itu, tubuh Tama terlihat lebih kurus. Tari jadi merasa kasihan melihat kondisi fisik suaminya yang sekarang.


Tari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gak boleh mikirin Pak Tama lagi Tar. Ingat! Pak Tama itu gak cinta sama kamu," ucap Tari memperingati dirinya sendiri.


Wanita itu mencoba memejamkan matanya. Ia berpikir, mungkin dengam tidur sejenak dirinya bisa melupakan kejadian tadi.

__ADS_1


Tama dengan setia menunggu istrinya keluar dari rumah, ia sangat ingin melihat wajah Tari. Pria itu merasa wajah Tari tampak lebih bersinar dengan perut buncitnya.


Ada rasa ketidak PD-an mengingat umur Tari yang lebih muda dan terlihat sangat cantik, berbeda dengan dirinya yang terlihat lebih tua ditambah tampilannya kurang rapi semenjak Tari meninggalkan dirinya, membuat kepercayaan diri pria itu menguap entah kemana.


"Aku memang suami bodoh yang menyia-nyiakan istri sesempurna kamu." Tama menyangga kepalanya dengan setir mobil.


Pria itu jadi teringat saat-saat bersama dengan Tari. Saat dimana wanita bertubuh mungil itu menjahilinya, merawatnya ketika sakit, bahkan membersihkan segi tiga kuningnya yang ternodai dengan kotoran.


Padahal perlakuannya pada saat itu sangat tidak baik pada Tari, ia benar-benar merasa berdosa pada istrinya.


Apa lagi ketika ia membaca surat yang mewakili rasa kecewa Tari terhadapnya, saat itu pula Tama merasa hatinya seperti tertikam benda tajam.


"Aku harap kita bisa kembali bersama." Tama menangkat kepalanya dari setir mobil.


Mata Tama berbinar begitu melihat sang istri keluar dari rumah, ia memperhatikan Tari yang berjalan ke halaman depan rumah. Rupanya wanita bertubuh mungil itu duduk di tepian sawah.


"Huh ... ini lebih baik dari pada mencoba tidur," ucap Tari bermonolog.


Tari menikmati angin yang menerpa wajahnya dengan memejamkan mata, rambutnya yang pendek bergerak ke belakang karena terkena hembusan angin.


Tama memperhatikan Tari dengan seksama, bahkan pria itu rasanya enggan untuk berkedip.


Mata Tari kembali terbuka, ia menoleh ke kiri. Mimik wajah Tari langsung berubah begitu ia melihat mobil yang sangat dirinya kenali.


Tama dapat melihat wajah kaget Tari, pria itu mulai khawatir saat istrinya bergerak untuk berdiri dengan terburu-buru.


"Aw!!!" pekik Tari.


Wanita itu terjatuh ke atas tanah karena kakinya yang terpelekok akibat kepanikan yang melanda dirinya.


Tama langsung keluar dari mobilnya, pria itu berlari menghampiri Tari yang kesakitan.


`


`


`


Bersambung ....


Hai hai readers, cerita ini akan TAMAT pada tanggal 30-April-2023.

__ADS_1


Besok othor double up🐸💕


__ADS_2