
Tama pergi ke luar dari kamar Tari, pria itu berpapasan dengan Bik Arum yang menunggu di ruang tamu, tepatnya wanita tua itu duduk dibangku yang terbuat dari kayu jati.
"Mau ke mana, Nak?" tanya Bik Arum.
Tama menjawab pertanyaan bik Arum dengan senyum kecil. Bik Arum dapat meilhat kesedihan di mata Tama.
"Saya titip Tari dan anak saya ya, Bik. Ini kartu nomor saya, jika ada apa sesuatu tolong beri tahu saya," ucap Tama dengan sopan.
Pria itu memberikan kartu namanya ke pada Bik Arum dan disambut baik dengan Bik Arum.
"Semoga kalian lekas kembali bersama," ujar Bik Arum dari hatinya yang terdalam.
Wanita tua itu tahu betul jika Tari masih mencintai suaminya. Hanya saja luka yang dirasakan oleh Tari masih terasa, ditambah kondisi Tari yang sedang mengandung membuat wanita bertubuh mungil itu menjadi lebih sensitif.
Tama mengaminkan doa baik Bik Arum. Ia pun menginginkan hal itu terjadi. Bik Arum menatap punggung Tama yang semakin jauh dan lama-lama semakin sulit terlihat karena pria itu berjalan ke tempat di mana mobilnya berada.
Tama masuk ke dalam mobilnya, ia menyalakan kuda besi itu lalu menancap gas untuk kembali pulang.
Tangan pria itu mencengram kemudi dengan kuat, ia melampiaskan rasa sakitnya dengan menambah kecepatan mobilnya.
"Hargh!!!" Teriak Tama prustasi.
Ia terus menambah kecepatannya hingga pandangannya kabur karena air mata dengan lancang mengembun di mata setajam elangnya.
Tama mulai kehilangan kendali, saat sebuah mobil melaju ke arahnya.
Brak!
***
"Nak Tari, boleh Bibik masuk?" tanya Bik Arum yang berdiri diambang pintu kamar Tari.
__ADS_1
"Ih Bik Arum kayak sama siapa aja deh, boleh dong. Masa mau masuk ke kamar Tari izin dulu," rajuk Tari.
Bik Arum terkekeh melihat ekspresi Tari. Semenjak ada Tari di sini, dirinya tidak lagi merasakan kesepian. Apa lagi semenjak Fajar remaja, pria tidak lagi tinggal bersamanya, membuat hari-hari wanita itu terasa sepi dan menyedihkan.
Bik Arum duduk di pinggir termpat tidur Tari. Ia mengelus kepala wanita bertubuh gembil itu seraya tersenyum.
"Bibik ingin bicara sama Nak Tari," ucap Bik Arum.
"Apa itu Bik?" tanya Tari penasaran.
"Sebelumnya Bibik mau bilang kalau Bibik tidak bermaksud untuk ikut campur urusan rumah tangga Tari." Bik Arum menarik napasnya sebelum melanjutkan apa yang ingin diucapkannya.
"Bibik berbicara seperti ini sebagai ibu yang menyayangi anaknya," lanjut Bik Arum sembari memegang punggung tangan Tari.
Tari diam menunggu kelanjutan apa yang ingin diucapkan oleh Bik Arum, wajah wanita yang tak lagi muda itu tanpa serius.
"Emm, Bibik dapat melihat penyesalan di mata suami kamu dan pria itu terlihat sangat mencintai kamu, Nak ... apa Tari tidak ingin memberikan kesempatan?" tanya Bik Arum dengan hati-hati.
Bik Arum mengangguk paham. "Coba ikhlaskan semua yang mengganjal di hati kamu, Nak. Ketika rasa benci itu menguap, luka hatimu perlahan terobati."
"Si jagoan juga membutuhkan sosok Papa," lanjut Bik Arum.
Kini tangan Bik Arum berpindah ke atas perut Tari.
Tari terdiam, pikirannya yang kacau perlahan mulai menerima apa yang diucapkan oleh Bik Arum.
"Apa kembali dengan Pak Tama jalan terbaik, Bik? Hiks ...."
Bik Arum mengangguk. "Kamu pasti melihat suamimu yang berbeda dari sebelumnya. Ia terlihat tulus, Nak. Tari berhak bahagia bersama keluarga kecil Tari."
"Cucu nenek ingin tinggal sama Papa kan, Nak?" Bik Arum mengajak bicara bayi yang ada dikandung Tari.
__ADS_1
Tari tersenyum melihat Bik Arum yang selama ini sudah membantunya, merawat dirinya seperti anak sendiri.
"Dia menjawab iya, Nak," ucap Bik Arum dengan mata berbinar saat Bayi Tari bergerak.
"Baiklah Bik, Tari mau memberikan Pak Tama kesempatan kedua. Tapi ...."
"Tapi kenapa, Nak Tari?" tanya Bik Arum saat ucapan Tari terjeda.
"Tari sudah mengusir Pak Tama pergi." Kepala Tari tertunduk.
"Ini nomor ponsel suami kamu, Nak. Pakailah ponsel Bibik untuk mengbubunginya." Bik Arum mengulurkan kartu nama milik Tama dan ponsel jadulnya.
"Terima kasih, Bik." Tari memeluk tubuh Bik Arum setelah menerima uluran dua benda persegi itu.
Tari memencet tombol berwarna hijau begitu ia selesai memasukkan nomor ponsel suaminya.
Saat panggilan suara tersambung, Tari merasa heran. Siapa yanga mengangkat telfon suaminya? Kenapa suara seorang wanita yang terdengar.
"Halo, apakah ibu saudara atau kerabat Pak Tama?"
"I-iya," sahut Tari.
Bik Arum yang masih setia duduk di samping Tari ikut menunggu apa yang akan diucapkan oleh wanita di seberang sana.
`
`
`
Bersambung ....
__ADS_1