Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Benar-Benar Pergi


__ADS_3

Sebelum membaca novel ini, othor ingin memberi tau bahwa othor baru saja membuat karya baru yang berjudul "SEBATAS STATUS" yang berkenan boleh nih intip-intip💃


Selamat membaca.


Pria itu menyusuri seluruh sudut rumahnya, dengan napas yang memburu ia menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar mama nya.


"Ada apa Tama?" tanya Mama Widi.


"Mama lihat Tari?" Tama balik bertanya.


Wajah wanita Paruh baya itu berubah bingung, bukannya sang menantu pergi ke kampus? Pikir Mama Widi.


"Nggak, mungkin masih ngampus."


"Tama udah ke kelas Tari, tapi dia tidak ada," jawab pria itu dengan wajah panik.


Kepanikan Tama tertular pada Mama Widi, mereka menghubungi ponsel Tari tapi hasilnya nihil. Ponsel wanita itu dinonaktifkan.


Hari berubah menjadi malam, namun Tama tak kunjung menemukan istrinya. Semua orang menjadi panik, sebab Tari belum pulang juga.


"Kita lapor polisi saja," ucap Mama Widi.


"Belum 24 jam, Ma. Kemana perginya Tari? Ponselnya dari tadi tidak bisa dihubungi, bahkan sahabatnya tidak tau dia pergi kemana," ucap Tama dengan prustasi.


Tiba-tiba terdengar langkah ringan dari kaki Una. Bocah berusia lima tahun itu menarik pelan ujung kemeja Tama yang tidak lagi rapi.


"Papa, Mama dimana?" tanya bocah gembil itu sembari mengucek-ngucek matanya.


Tama bingung harus menjawab pertanyaan anaknya karena ia sendiri tak tau dimana saat ini Tari berada.


Mama Widi mengusap pipi cucunya dengan lembut. "Mama masih sekolah, Una tidur ya sayang ... sudah malam."


"Tapi Una mau tidul sama Mama," sahut Una.


Mama Widi memanggil Mbak Ijah, wanita paruh baya itu menyuruh Mbak Ijah untuk mengajak cucunya tidur.


Una sempat menolak dan bertekad untuk menunggu hingga Mama nya pulang. Namun, berkat bujukan Mbak Ijah yang mengatakan Mama Tari akan sedih jika Una tidur larut malam. Jadilah bocah berusia lima tahun itu menuruti karna ia tidak ingin membuat Mama nya bersedih.


Tama menyugar surai hitamnya dengan kasar. Pria itu menyewa beberapa orang dari kenalan temannya untuk mencari keberadaan sang istri.


Tiba-tiba ia teringat akan titipan Tari yang diberikan oleh kedua sahabat istrinya ketika ia mendatangi sang istri ke kelasnya.


Mama dan Papa Tama menatap putranya bingung, sebab pria bertubuh tegap itu tiba-tiba berlalri ke lantai atas.


Tama menyambar paper bag yang ia letakkan di atas ranjang, buru-buru pria itu mengeluarkan sebuah kotak dari paper bag yang ia pegang.


Mata Tama mengeryit ketika membuka kotak yang dibungkus dengan kertas berwarna hitam doff.

__ADS_1


Pertama kali yang ia lihat ketika membuka kotak itu adalah sebuah ponsel, Tama mengeluarkan ponsel tersebut dan meletakkannya di atas ranjang. Pria itu menemukan sebuah amplop di bawah ponsel tadi.


Dengan segera Tama membuka amplop berwarna putih itu.


Deg!


Tespack?


Tama menatap tespack yang ada di atas telapak tangannya, mata pria itu mengerjap beberapa kali. Dua garis merah!


Perasaan Tama semakin tak menentu, jatungnya berdebar. Perasaannya tak enak kala ia menemukan sebuah surat di dalam amplop itu.


Dengan perasaan was-was ia membuka lipatan kertas berwarna putih tersebut. Mata Tama bergerak mengikuti deretan tulisan sang istri.


Seketika dunia Tama seperti berhenti berjalan. Pria itu berteriak melampiaskan kebodohannya, ia menjambak rambutnya kuat.


Dear, Pak Tama.


Tari izin melepaskan semua rasa sesak yang selama ini terus menghantui Tari dengan cara berhenti, berhenti mencintai pak Tama.


Terima kasih atas semua luka yang bapak berikan. Benar yang bapak katakan saat awal kita menikah, bahwa pernikahan ini tidak akan bertahan lama.


Tari sudah mencoba untuk menggapai cinta suami Tari. Tapi ada tembok besar yang menjadi benteng sehingga tak ada kesempatan untuk kita saling menerima.


Hati Tari rasanya perih saat tau alasan kenapa Tari harus meminum pil penunda kehamilan. Tari mau minta maaf, karena Tari tidak meminum pil-pil itu.


Semua berkas pernikahan kita Tari tinggalkan di dalam lemari. Jadi bapak bisa menceraikan Tari. Terima kasih pernah baik sama Tari walaupun itu bentuk usaha bapak agar Tari tetap berada di sini.


Dan untuk Una, Mama sayang sekali sama kamu. Tapi Mama harus pergi bersama adik. Semoga Una tumbuh menjadi anak yang baik dan semakin syantik hehehe.


Emm ... teruntuk pak Tama, semoga bapak bahagia bersama semua kenangan Mbak Manda.


Selamat tinggal, My Lion.


"Bodoh! Bodoh!" Tama memukuli kepalanya, merutuki segala kebodohan yang ia perbuat.


Tama menggapai ponsel yang diberikan oleh Tari, pria itu menemukan file rekaman dan memutarnya. Perasaan Tama semakin kalut, ia telah melukai hati Tari.


"Kembali Tari, aku menginginkan kalian. Jangan pergi. Hargh!!! Kau bodoh Tama! Bodoh!" teriak Tama.


Untung saja Una sudah terlelap sehingga tak mendengar teriakan papa nya. Mama dan Papa Tama yang melintas di depan kamar putranya langsung masuk ke dalam begitu mendengar jeritan sang anak.


"Tama ada apa?" tanya Mama panik melihat putranya yang menangis.


Papa Adam dan Mama Widi mendekat pada anaknya, begitu Mama Widi berada tepat di samping sang putra, Tama langsung memeluk kuat ibunya.


"Ma dia pergi, semua karena kesalahan Tama."

__ADS_1


Mata Mama Widi menangkap tespack yang berada di atas ranjang putranya. "Ada apa ini Tama?" Mama Widi mengurai pelukannya dari sang putra.


Papa Adam yang tak sabar langsung mengambil surat yang tergeletak di atas lantai. Rahang pria paruh baya itu mengetat, tangannya mengepal kuat.


Bug!


"Papa!" teriak Mama Widi.


Papa Adam menumbuk pipi sebelah kanan putranya. "Brengs3k kamu Tama! Apa yang kau lakukan HAH!" berang Papa Adam dengan menarik kerah kemeja anaknya.


Tama tidak melawan, ia sadar dirinya memang suami yang brengs3k untuk wanita sebaik Tari.


Mama Widi segera menahan lengan suaminya ketika kepalan itu kembali ingin menghantam putranya.


"Cukup Pa!" pekik Mama Widi.


"Anak ini sudah keterlaluan, Ma. Menantu dan cucu kita pergi karena dia!" Papa Adam menunjuk wajah putranya.


Mata Mama Widi mendelik. "C-cucu? Jadi tespack itu ...." Wanita paruh baya itu menutup mulutnya tak meyangka.


Kepala Papa Adam mengangguk. Mama Widi menatap nanar ke arah ranjang putranya, tempat dimana benda dengan 2 garis merah itu berada.


"Ayo Ma! Kita biarkan saja dia sendiri. Biarkan dia bersama degan penyesalannya."


"Tapi Pa, bagaimana dengan Tari hiks." Mama Widi terisak, ia memikirkan bagaimana keadaan Tari di luar sana, apa lagi wanita itu sedang berbadan dua.


Papa Adam merangkul pundak istrinya dan membiarkan Tama tergelung oleh ombak penyesalan.


Di tempat lain, wanita bertubuh mungil sedang berada di tempat yang jauh dari hiru pikuk kebisingan kota.


Tari duduk menatap sawah yang terbentang luas tepat di depan rumah yang ia tempati sekarang.


"Tari, ayo masuk! Tidak baik ibu hamil duduk di luar malam-malam begini."


"Iya Kak, sebenta lagi," sahut Tari.


Wanita itu diam-diam menangis, mulutnya berkata akan berhenti mencintai Tama, namun hatinya malah berkhianat. Sulit sekali menghapus nama pria itu dari hatinya. Tapi ia akan tetap berusaha melupakan Tama.


`


`


`


Bersambung ....


Siapakah pria yang memanggil Tari?

__ADS_1


__ADS_2