Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 19


__ADS_3

Fio ternganga saat melihat kedatangan Luna yang hampir saja Fio lupakan. Dan yang membuat Fio lebih tak percaya kini Luna sedang bercengkrama akrab dengan Nadine. Keduanya saling tertawa kecil saat melihat kedatangan Fio.


"Kamu itu wanita yang cerdas dan mandiri. Selain itu aura keibuan mu sudah sangat terlihat dengan jelas. Pasti Nesya akan sangat beruntung memiliki ibu sambung seperti kamu, Lun."


Suara itu terdengar sangat jelas dan terlalu di menusuk hati Fio. Jika dibandingkan dengan Luna, Fio tidak ada apa-apanya. Bahkan seujung kukunya pun tak ada.


"Ah, Ibu sangat berlebihan untuk memujiku."


"Tapi itu kenyataan. Kamu sangat cocok untuk menjadi ibu untuk Nesya. Apalagi dulu kamu sama Sakya pernah membina sebuah hubungan, meskipun harus putus ditengah jalan. Ibu akan mendukung jika kamu menjadi ibu sambung untuk Nesya."


Telinga Fio sangat panas. Entah apa yang sedang di lakukan oleh Nadine. Namun, sepertinya Nadine masih ingin memancing ikan di air keruh.


"Sabar Fio! Dia hanya orang tua yang tak punya pekerjaan. Kamu waras, kamu harus bisa menahan amarah." Hati Fio mencoba untuk tenang. Tak ada gunanya Fio meladeni Nadine yang terlihat sangat membenci dirinya.


"Eh Fio, sini!" Luna memanggil.

__ADS_1


Fio yang hendak menapaki anak tangga segera menoleh kearah Luna dan Nadine yang sedang bercengkrama. Padahal Fio sudah berusaha tidak menganggap keberadaan kedua orang tersebut.


"Oh ada mbak Luna."


"Kamu ngapain buru-buru? Baru juga jam 8, masa iya udah mau tidur?"


"Tapi Ines belum tidur, Mbak. Dan pak Sakya masih berada di ruang kerjanya."


Luna ingin sekali pergi menemui Nesya, tetapi dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Nesya memperlakukan dirinya dengan tidak baik setelah inside hari itu.


Sebenarnya saat ini Sakya sedang berada di kamarnya Nesya. Hanya karena Fio enggan bergabung bersama dengan Nadine, Fio pun berbohong.


"Aku gak tahu apa yang sedang di rencanakan oleh nenek sihir itu, tapi sepertinya dia memiliki niat yang tidak baik. Aku harus cari tahu apa itu." Fio bermonolog seraya menapaki anak tangga.


Di dalam kamar, terlihat Sakya sedang menidurkan Nesya, karena siang tadi Nesya tak sempat untuk tidur siang. Itu semua karena sang nenek yang mengganggunya.

__ADS_1


"Ines kok udah tidur, Pak?" tanya Fio dengan alis yang menaut.


"Mungkin dia kelelahan. Semua ini gara-gara ibu. Saya minta maaf jika perkataan ibu tidak enak ya."


Fio menarik kedua garis simpul bibirnya dengan perasaan yang berbunga. "Meskipun tidak masalah, tapi tetep aja masih kesel sih, Pak." Fio mencebikkan bibir. "Eh, dibawah ada mbak Luna sama ibu Nadine. Sepertinya mereka sangat akrab, ya," lanjut Fio lagi.


Sakya membuang napas beratnya. "Mereka memang akrab karena Sarah dan Luna, mereka bersahabat," ujar Sakya.


Fio menganggukkan kepalanya pelan. Dia memang tidak tahu-menahu kisah masa lalu milik Sakya. Namun, saat mendengar nama Luna disebut oleh Sakya, hatinya terasa sakit. Apalagi saat Fio mengetahui jika Sakya dan Luna pernah menjalin sebuah hubungan tetapi kandas di tengah jalan.


"Pak, apakah pak Sakya masih memiliki rasa kepada mbak Luna?"


Sakya yang masih menyenderkan tubuhnya di tempat tidur sang anak merasa terkejut dengan pertanyaan Fio. "Sampai kapanpun saya tidak akan pernah bisa menggantikan peran Sarah di hati ini. Rasa itu tidak akan pernah tergantikan," ujar Sakya.


"Apakah termasuk aku juga?" batin Fio.

__ADS_1


__ADS_2