
Tari dan Tama yang masih berada di dalam toko baju. Mereka sedang melakukan transaksi jual beli, setelah melewati beberapa perdebatan.
Tidak jauh dari tempat mereka berada, terlihat ada seseorang yang memantau setiap pergerakkan pasangan suami-istri itu.
Seorang pria di balik manekin beraksi dengan ponsel pintarnya. Ia menangkap gambar setiap pergerakkan Tari dan Tama.
Melihat pasutri itu keluar dari toko, si penguntit pun mengikuti langkah keduanya. Tiba-tiba ponsel pria penguntit itu berdering. Segera ia mengangkatnya agar pergerakkannya tidak diketahui.
"Halo bos."
"Kamu sudah melakukan tugas yang saya perintahkan?" tanya wanita di seberang sana.
"Sudah bos, sekarang pria dan gadis itu sedang berada di gerai makanan cepat saji."
"Bagus! Kamu ikuti mereka sampai orang itu kembali ke rumah."
"Baik, Bos. Untuk semua kegiatan mereka akan saya kirimkan beserta dengan fotonya lewat email." Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku begitu panggilan selesai.
Empat puluh menit kemudian, Tama dan Tari sudah menyelesaikan makannya. Kedua insan itu memutuskan untuk kembali pulang karena hari mulai sore.
Jalanan yang lumayan macat, membuat perjalanan mereka menuju rumah menjadi sedikit tersendat. Hingga butuh waktu yang lebih lama dari biasanya untuk tiba di kediaman Batara.
Kuda besi milik Tama masuk ke dalam halaman rumah, karena gerbang sudah di buka oleh satpam mereka.
Terlihat sebuah mobil hitam melaju meninggalkan kediaman Batara begitu Tama dan Tari tiba di rumahnya.
Di tempat lain Fajar sedang mendengarkan penjelasan Tio tentang seseorang yang juga sedang mengikuti pasangan suami istri itu.
"Apa kau tahu siapa yang sedang membuntuti gadisku?" tanya Fajar.
"Ya saya tahu, Tuan. Dia adalah ibu mertua Tama dari mendiang istrinya yang bernama Manda."
"Bedebah!!! Apa dia berniat jahat?" Fajar menggebrak meja kerjanya.
"Dari beberapa informasi yang saya dapatkan dari pembantu di rumah itu, Ibunya Manda pernah menampar dan menghina nona, Tuan," jelas Tio.
"Sialan! Berani sekali dia melukai gadisku. Tio, sewa seseorang untuk melindungi Tari. Jangan sampai ia terluka barang sedikit pun, atau kau tahu akibatnya."
"Baik, Tuan." Tio menunduk hormat.
***
Tama dan Tari masuk ke dalam rumah, terlihat Una tengah bermain bersama Mbak Ijah. Sedangkan Mama dan Papa Tama sedang menikmati makan malamnya.
"Kalian gak makan?" tanya Papa Adam.
__ADS_1
"Enggak, Pa. Tadi Tari sama— em sama Tama udah makan di luar," jawab Tari. Gadis itu teringat dengan ucapan suaminya ketika dalam perjalanan pulang tadi. Bahwa, ia tidak perlu memanggil 'Pak'. Cukup panggil nama. Dan Tari akan memanggil suaminya dengan sebutan 'my lion' hanya ketika mereka sedang berdua.
"Oh iya, Tam. Mama ada beli jamu untuk kamu, sebelum tidur diminum ya."
Tama yang sudah merasa lelah hanya menjawab ucapan Mamanya dengan anggukan kepala.
Tiba-tiba pria itu teringat akan benda yang ia beli ketika di mall tadi. Tama segera menghampiri anaknya yang sedang bermain di ruang tv.
"Una, Papa bawa sesuatu yang kamu mau." Tama memberikan paper bag yang berisi barang pilihannya.
Tari memperhatikan Una yang membuka bingkisan mainan itu dengan antusias.
"Apa ini, Pa? Una tidak minta boneka balu."
"Itu baby girl, sayang," jawab Tama.
Tari yang melihat itu menepuk jidatnya. Dalam hati Tari bertanya, Pak Tama gak tau atau memang mengalihkannya dengan barang itu.
"No! Ini bukan baby gill. Ini boneka, baby gill itu bisa belgelak dan bicala." Bocah gembil itu menggembungkan pipinya.
"Siapa bilang tidak bisa bicara, sini Papa tunjukkan." Tama berjongkok dan menekan tombol pada tubuh boneka itu.
Boneka bayi itu tertawa dan bergerak seperti bayi sungguhan.
Mbak Ijah yang berada di samping Una hanya bisa menahan senyumnya. Wanita itu tahu apa yang diinginkan anak majikannya.
"Una sayang, jangan merajuk dong. Nanti gak syantik lagi loh," bujuk Tari.
"Tapi ... Una kan mau adik yang syantik kayak Una." Wajah bocah itu tampak murung.
"Percaya deh. Kalau Una rajin berdoa, Tuhan pasti akan memberikan dedek yang syantik untuk Una."
Mata Aruna yang tadinya menatap penuh kecewa, kini menjadi berbinar. Tama yang menyaksikan pemandangan di depannya hanya bisa menghela napas panjang.
"Ijah, kamu temani Una tidur ya, hari ini jangan tidur bareng sama Papa dan Mamanya," ucap Mama Widi menghampiri cucunya.
"Kenapa Oma?" tanya Si Bocah Gembil.
"Gak apa, sayangnya Oma." Mama Widi mengusap puncak rambut cucunya dengan lembut.
"Ini jangan lupa diminum, sana kalian ke kamar, isitirahat!" seru Mama Widi memberikan botol berisikan jamu pada Sang Putra.
Tama dan Tari hanya bisa menuruni ucapan winita paruh baya itu. Mereka menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Tari menanyakan pada Sang Suami mengenai minuman yang diberikan oleh Mama Widi.
"Itu minuman buat apa sih? Tari boleh nyobak gak? Kelihatannya enak."
"Entah lah, kalau mau ambil gelasmu."
"Amsyong deh, satu mulut kan gak apa, lagian kan anu ... itu, kita kan udah begini." Tari mengerucutkan kedua tangannya, lalu mengerakkannya agar kedua sisi itu bertemu.
Tama menghela napas panjang, pria itu memberikan botol berisi minuman yang kata Mamanya adalah jamu ke pada Sang Istri. "Nih! Minumlah, aku mandi dulu."
Tari menerima minuman itu dengan senang hati, ia memutar tutup botol ke arah kanan. Setelah tutup botolnya terbuka, Tari mencium aroma minuman yang benar-benar mirip dengan bau induk kunyit.
"Em ... baunya sih enak, coba ah."
Glek ... glek ... glek
Tari meneguk minuman di tangannya. "Hua, enak. Gak ada pahitnya sama sekali." Tari menyisakan setengah dari isi minuman berwarna kuning yang tadinya terisi penuh. Ia meletakkan botol minuman itu ke atas nakas.
Setelah dua puluh lima menit berlalu, Tama keluar dari kamar mandi. Matanya menyipit melihat tubuh Tari yang bergerak tidak tenang dengan wajah memerah.
"Haduh kok panas ya, My Lion tolong kecilin suhu Ac-nya. Tari kepanasan banget ini, mana gatel lagi." Tari mengusap tubuhnya tanpa menatap Sang Suami.
"Bocah sableng kau kenapa?"
"Gak tau, abis minum itu Tari kepanasa. Cobain gih."
Bukannya curiga, Tama malah meneguk minuman ith hingga tandas. "Rasanya lumayan." Puji pria itu.
"My lion ... ," panggil Tari. Gadis itu merasakan gejolak yang aneh ketika matanya menatap tubuh suaminya yang tidak mengenakan baju. Hanya ada handuk putih yang membelit pinggang suaminya.
"Huh ... kenapa makin panas," keluh Tari. Ia begitu merasa panas dan juga gatal.
"H-hei, bocah sableng apa yang kau lakukan! Jangan dibuka begitu, sana pergi mandi!" Tama mencegah Tari yang ingin membuka bajunya sendiri.
Gadis itu tidak menghiraukan ucapan suaminya. Dalam sekejap mata, Tari sudah membuka baju dan mencampakkanya dengan sembarang.
Glek!
Jakun Tama naik turun melihat pemandangan di depannya.
`
`
`
__ADS_1
Sttt, othor lagi sembunyi di pojokan. Entar kalau udah mulai, othor bagi tahu. Jangan berisik ya readers, nanti ketahuan Pak Tama.