
"Dek Tari!!!" teriak seorang pria sebaya Fajar.
Tari yang baru turun dari mobil menoleh ke arah suara. Wanita itu melihat kepanikan yang luar biasa di wajah Ardi, pria yang berkerja di fotokopi mereka.
"Ada apa Bang?" tanya Tari tak kalah panik.
Tama memegang pundak istrinya yang jalan dengan terburu-buru.
"Pak Wahyu!"
"Ayah kenapa, Bang?!" wajah Tari semakin panik ketika nama ayahnya terseret.
"Pak Wahyu pingsan di dalam," ucap Ardi dengan napas memburu.
Mendengar hal itu membuat jantung Tari berdetak tak karuan, ia langsung berlari masuk yang diikuti oleh Tama dan Ardi.
"AYAH!!!" Tubuh Tari tersungkur di pinggiran badan ayahnya. Air mata wanita itu mengalir deras bak air terjun.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit! Kamu, tolong buka pintu mobil saya!" perintah Tama. Pria itu mengangkat tubuh Pak Wahyu.
Tari mengikuti suaminya sambil menangis pilu. Rasa takut kembali menyelimuti hatinya, sebuah rasa yang menjadi momok bagi Tari, kini kembali.
Mereka masuk ke dalam mobil dengan segera, sementara Ardi memilih tinggal untuk menjaga usaha fotokopi sekaligus rumah milik Pak Wahyu.
"Ayah, Tari mohon buka mata. Jangan merem, Tari takut ...." Wanita yang duduk di tengah itu menepuk-nepuk pipi ayahnya.
Sedangkan Tama fokus menyetir. Ia menambah kecepatan mobilnya agar ayah Tari segera mendapatkan pertolongan medis.
Perjalanan menuju rumah sakit sungguh menegangkan, isak tangis Tari serta bunyi klekson dari pengendara lain berpadu menjadi satu kesatuan bagi pria yang sedang mengendalikan setirnya.
Tama berusaha fokus ke depan, tangan pria itu dengan lihai memutar stir ketika berada di tikungan tajam.
Laju mobil Tama berhenti ketika kuda besi itu sudah berada di kawasan rumah sakit. Tama membuka pintu mobil, beberapa orang berseragam putih datang dengan membawa brankar rumah sakit.
Tari dan Tama mengikuti para petugas medis yang mendorong brankar itu ke ruang ICU. Tubuh Tari luruh ke lantai, ia menompang tubuhnya dengan kedua tangan yang berpegang pada lantai.
Tama mensejajarkan tubuhnya dengan Sang Istri, pria itu menarik Tari ke dalam pelukannya.
"Hiks ... Ayah akan baik-baik aja kan ,Pak?" Tari terisak di dalam rengkuhan Tama.
"Semua akan baik-baik saja, lebih baik kita duduk di sana," ucap Tama mengangkat tubuh Tari ke kursi rumah sakit yang berada di dekat ruang ICU.
__ADS_1
Kepala wanita itu bersender di pundak suaminya. Lelehan air mata tak kunjung reda, bahkan hidung Tari tampak memerah karena terlalu lama menangis.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya dokter keluar dari ruangan ICU dan memberi tahu bagaimana kondisi ayah Tari.
Tari menarik napas lega karena dia datang tepat waktu di saat ayahnya terkena serangan jantung. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika dirinya tidak datang pada saat itu.
Setelah berbincang dengan dokter soal keadaan ayahnya, Tari dipersilahkan masuk untuk menemui ayahnya. Sementara Tama menunggu di luar.
Wanita itu menatap ranjang rumah sakit yang berisikan ayahnya dengan tatapan nanar. Ia segera menghampiri Pak Wahyu yang terbaring lemah.
Kedua tangan Tari menggenggam tangan ayahnya dengan lembut dan penuh perasaan. "A-ayah, Tari sangat menyayangi ayah ... hiks, huh maafin Tari cengeng banget ya, Yah. Abisnya ayah bikin Tari takut, hiks," ucap Tari dengan menahan isak tangisnya.
Tari menegakkan badannya, kala mata Sang Ayah mengerjap pelan. Lengkungan tercipta pada wajah wanita yang sedang mengusap air matanya.
"Jangan nangis, hati ayah sakit melihat air mata ini jatuh," ucap Pak wahyu lirih, dengan tangan bergetar ia menghalus jejak air di pipi anaknya.
Tari berusaha menarik garis bibirnya lebih lebar, hingga matanya ikut menyipit. Wanita itu langsung memeluk ayahnya dengan hati-hati.
"Tari ...," panggil Pak Wahyu.
"Ya, Ayah?" Tari mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Pak Wahyu.
Ia melihat Sang Ayah yang terdiam sesaat, seperti ada yang dipikirkan oleh pria paruh baya itu.
Tari tersentak, ia tak menyangka ayahnya akan menanyakan hal ini. Apa ayahnya sudah mengetahui soal rumah tangganya? Pikir wanita itu.
Ia menetralkan ekspresi keterkejutannya, Tari dengan senyum yang dibuat manis menjawab, "bahagia dong Ayah."
"Jangan bohongi Ayah, Tari," lirih Pak Wahyu.
"Ayah jangan nangis." Tangan Tari terulur untuk mengusap bulir bening yang menetes dari mata ayahnya.
Tiba-tiba dada Pak Wahyu kembali sesak, melihat hal itu Tari mengambil tindakan secepat mungkin. Namun urung karena ayahnya mengangkat sebelah tangan dengan menggelengkan kepala. Sementara sebelah tangannya lagi digunakan untuk memegangi dadanya yang terasa nyeri.
"A-ayah tidak apa," ujar Pak Wahyu.
"Ayah tau kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini, foto-foto yang diberikan wanita itu sudah menjadi bukti untuk ayah."
Dahi Tari mengkerut mendengar ucapan ayahnya. Ia tak tahu siapa wanita dan foto yang Sang Ayah maksud.
"Tadi dia ke rumah kita, Nak. Ia datang dengan membawa semua foto yang menjadi bukti bahwa s-suamimu tidak mencintai—" Pak Wahyu tidak sanggup melanjutkan ucapannya, rasa bersalah karena sudah menjodohkan putri sematawayangnya begitu terasa.
__ADS_1
Bulir-bulir bening berjatuhan dari sudut mata pria paruh baya yang kini terbaring lemah. Ia tak kuasa membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga putrinya.
Tari berusaha menahan kakinya agar tetap kuat, ia mencoba tegar. Apa lagi suaminya sudah mulai berubah dan sedang mencoba memperbaiki hubungan mereka.
"Ayah, foto apa yang ayah maksud?"
"Foto Tama yang selalu pergi ke tempat-tempat penuh kenangan saat mendiang istrinya masih hidup. Ayah salah sudah menikahkan kamu dengan pria yang masih terjebak dengan masa lalu," lirih Pak Wahyu.
"Ayah ...." Tari menggenggam tangan Sang Ayah. "Suami Tari sudah berubah, Tari bahagia ayah," ucap gadis itu menyakinkan Pak Wahyu.
"Apa benar? Tapi kata wanita itu—"
"Percayalah pada Tari, Yah."
Tari jelas tahu sekarang siapa wanita yang membuat ayahnya sampai masuk rumah sakit begini, ia tak habis pikir. Kenapa Mami Sun tega mengusik hidupnya, bahkan sampai ayahnya juga menjadi sasaran wanita paruh baya itu.
Ia mencoba meyakinkan ayahnya berulang kali, hingga Pak Wahyu tertidur, barulah Tari keluar dari ruangan tempat ayahnya di rawat.
"Bagaimana keadaan ayah Wahyu?" tanya Tama begitu melihat Tari yang muncul dari balik pintu dengan mata sembab.
"Sudah lebih baik. Pak ... emm, kalau Tari ngomong sesuatu yang berhubungan dengan Mami Sun, Pak Tama bakalan percaya tidak?" tanya Tari dengan ragu dan sedikit takut.
"Bicaralah," ucap Tama.
"Sebenarnya ...," ucap wanita itu dengan menggantung.
Tari bingung harus memberi tahu suaminya atau tidak, ia takut mendapat reaksi yang nantinya malah menyakiti hati.
"Katakanlah!" seru Tama.
"A-ayah masuk rumah sakit karena kedatangan Mami Sun yang mengusik hati dan pikiran ayah," ujar Tari sedikit takut.
Ia menatap suaminya dengan ragu, sambil menunggu reaksi apa yang akan diberikan Tama.
Bersambung ....
`
`
`
__ADS_1
Othor siap sedia dengan centong sayur menunggu reaksi Tama, awas aja kalau belain Mami Sun-del bolong. Auto mendarat ini centong ke kepalamu Tam!