Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Bonchap : Bayi Besar


__ADS_3

2 tahun kemudian ....


"Sayang! Sayang ...."


"His selalu deh bayi besar yang satu ini." Tari menghentakkan kakinya sambil menggerutu.


Wanita itu membuka pintu kamar mandi dengan berdecak kesal karena semenjak mereka kembali bersama, Tama menjadi manja. Entah ke mana sosok pemarah dan wajah datar itu.


"Kenapa Yank—aaa!!!" pekik Tari ketika tangannya di tarik oleh Tama dari dalam kamar mandi.


Pria yang tidak mengenakan apapun itu memeluk tubuh istrinya dari belakang. Tama meletakkan dagunya di atas bahu Tari.


"Yank ...." Tari menegur sang suami yang tangannya tak bisa diam.


"Hm, kenapa sayang?" tanya Tama tanpa menghentikan pergerakan tanganya yang sedang menjelajah bebas.


"Pakai acara nanya! Ini tangannya jangan nakal nempel di sini!" Tari nenepis telapak tangan Tama yang asik menari di atas bukit kembarnya.


"Sekali aja ya, Sayang. Mumpung Azka masih tidur," bujuk Tama dengan mengusap pinggang istrinya.


"Ini masih sore, Yank. Nanti malam aja!"


"Ck. Semalam juga bilangnya begitu, tapi apa? Ujung-ujungnya kamu berduaan sama Azka."


Tari menghela napasnya, ia merasa punya 3 anak saja. Akhirnya Tari mengangguk, mengiyakan permintaan suaminya.


"Sekali aja ya! Gak boleh minta lebih, bentar lagi pasti Una nyariin Tari." Wanita itu membalik tubuhnya menjadi berhadapan dengan sang suami sambil menggerakkan jari telunjuknya.

__ADS_1


Tama yang sudah tak sabar mengangguk saja tanpa mendengar apa yang Tari katakan.


Pria itu buru-buru melepaskan semua kain yang menutupi tubuh istrinya. Dengan mata lapar Tama menatap intens tubuh Tari yang polos.


"Ih jangan dilihatin gitu dong, kan Tari jadi malu," protesnya pada sang suami.


"Kau terlihat sangat ... luar biasa," ucap Tama.


Dan detik berikutnya pria itu menipiskan jarak dengan sang istri. Tubuh mereka yang tidak tertutup dengan sehelai benang pun saling menempel bak prangko.


Tama memulai aksinya, tangan pria itu menyentuh tempat-tempat favoritnya. Bibir Tama tak tinggal diam, benda semerah buah cherry itu menempel di bibir Tari sebelum akbirnya benda tak bertulang mereka saling beradu.


Keduanya mengarungi surga dunia dengan perasaan cinta yang menggebu-gebu.


Napas mereka terdengar ngos-ngosan seperti habis lari maraton. Mereka menyelesaikan aktivitas yang sangat disukai Tama.


"Kenapa hum?" tanya Tama dengan wajah yang lebih segar.


"Ck! Besok gak ada jatah, karena sore ini udah dirangkap untuk 2 hari ke depan!" Tari berdecak sebal karena Tama menggeluti dirinya tidak sesuai dengan perjanjian diawal.


"Sayang ... bukannya tadi kamu tidak protes? Bahkan istri cantikku ini persis seperti singa betina yang melahap mangsanya," ucap Tama dengan menaik-turunkan alisnya.


"Ih tau ah!" Tari menyubit dada suaminya dengan kesal.


"Aw! Sayang, kamu kalau minta nambah jangan cubit-cubit begini dong. Lebih baik begini saja." Tama menggapai tangan istrinya dan membawa telapak tangan Tari ke atas dadanya.


"Nah begini cara meminta bonus yang benar," ucap Tama seraya menggerakkan tangan Tari.

__ADS_1


Wanita itu menarik tangannya dengan kesal, bisa-bisanya Tama menggerakkan tangannya seperti gerakan mengusap.


"Dasar meskut! Pokoknya besok no jatah-jatah." Tari bersedekap dada.


"Yah sayang, terus dia gimana dong?" Tama menunjuk ke arah benda berharganya.


"Bodo amat!" ejek Tari.


"Yaudah deh, dia cari rumah baru aja," ucap Tama dengan wajah berpura-pura lesu.


Mata Tari langsung memancarkan api yang berkobar. Wanita itu berkacak pinggang dengan pipi menggembung.


"Awas aja kalau berani cari rumah baru buat dedek Lion. Dia ... ," ucap Tari terjeda. Telunjuknya mengarah pada benda pusaka suaminya. "Akan aku harg!" ancam Tari dengan gerakkan seperti mencabik-cabik.


Tama yang melihat itu bukannya takut malah tertawa dengan keras. Pria itu langsung menarik Tari untuk masuk ke dalam pelukannya.


"I love you so much baby, tidak mungkin aku membiarkan Lion Junior masuk ke rumah yang lain." Tama mengecupi wajah Tari tanpa ampun.


Tari menerima semua perlakuan suaminya dengan terkikik geli karena bulu-bulu halus yang ada di sekitar dagu dan atas bibir Tama menggelitik kulit wajahnya.


`


`


`


Tama sudah ter-Tari-Tari sekarang 🙈

__ADS_1


Amfun deh Pak Tama, jadi keinget awal-awal Tama yang nolak menyentuh Tari. Nah loh, sekarang malah kecanduan😜


__ADS_2