
Praakk
Jayyan melemparkak gelas yang ada di tangannya, andai saja istrinya tidak menunduk sudah pasti akan mengenai wanita itu.
"Berani sekali kau mendatangi Riska, apa kau sudah bosan hidup, dan ingin hidup miskin!" marah Jayyan pada istrinya.
Tasya yang mendapat kemarahan suaminya, hanya bisa menangis. Tapi ia tidak diam, ia juga berusaha membela dirinya karna iamerasa tidak bersalah.
"Aku tidak salah Mas..., dia memamg harus di bari pelajaran karna sudah berani menggodamu!" balas Tasya membela diri. Karna ia hanya ingin mempertahankan yang sudah menjadi miliknya
"Apa kau bilamg. Dia menggoda ku, jadi apa masalahnyab aku juga tergoda padanya, karna dia jauh lebih cantik dari pada kau," lanjut Jayyan tersenyum, seolah mengejek istrinya,
"Tapi aku sudah berusaha tampil cantik, aku sudah menuruti semua keinginan kamu Mas, tapi saat ini berat badanku memang bertambah tapi aku akan berusaha menutmrunkannya, untukmu" balas Tasya. Ia menangis mendengar hinaan suaminya, padahal dia sudah berusaha menyenangkan suaminya.
"Tapi kau tetap terlihat jelek di mata ku, karna aku sudah bosan padamu," lagi-lagi Jayyan menghina istrinya.
"huaaa huaa huaa!
"Mam mamaa," tangis bocah itu sambil mengoceh. Mendengar Suara yang saling sahut-sahutan, membuat anak yang berumur 1 setang tahun itu terbangun, dan menangis sekencang yang ia bisa.
"Diaaam!" Jayyan membentak Anaknya yang masih kecil.
Bukannya diam, Anak itu semakin mengencangkan suara tangisannya, karna dia terkejut menbapat bentakan dari Ayahnya.
Tasya yang mendengar suara putranya menaangis, ia segera menghampiri puntranya dan mengangkatnya dari tempat tidurnya.
"Apa yang kau lakukan Mas? Abyan masih kecil, tidak seharusnya kau membentaknya!" serunya. Lalu menenangkan putranya yang sedang menangis.
"Kau sudah semakin berani! Apa kau ingin hidup miskin dan tinggal di jalanan." selalu kata itu yang terucap dari mulut Jayyan.
Tidak sampai di situ, Jayyan juga menari rambut Tasya lalau menyeretnya.Tasya hanya bisa nenangis dan memeluk putranya, ia berusaha agar putranya tidak terjatuh dari gendongannya, "Ampun Mas, aku tidak akan melawan lagi, kasihan putra kita Mas." Tasya terus berucap, tapi Jayyan tidak mendengarkannya.
Pria itu terus menyeret istri dan anaknya, membawanya sampai kelantai bawah. Abyan yang ada di gendongan ibunya, terus menangis. Ia juga merasakan takut dan sakit yang ibunya rasakasn.
__ADS_1
"Yesi!" teriak Jayyan, memanggil pengasuh putranya. Yasi yang merasa namanya di panggil segera berlari mendatangi majikannya.
Tanpa Jayyan minta, Yesi lamgsung mengangkat Abyan dari gendongan Tasya. Karna ia sidah biasa dengan pemandangan yang seperti ini, jadi tanpa di beri tahu pun ia sidah paham.
Abyan terus menangis memanggil mamanya, hanya saja ucapannya belum terlu tepat karna ia belum bisa bicara dengan benar. Jayyan kembali menyeret Istrinya, membawanya ke kamar gudang.
"Kau harus di beri pelajaran, agar tidak melawan dan tidak mengganggu kesenanganku lagi!" ucap Jayyan. Ia menghempaskan tubuh Tasya di lantai.
"Ampun Mas, aku janji tidak akan menemui wanita itu lagi, tapi aku mohon jangan kurung aku di sini, kasian putra kita," uacap Tasya memohon. Tapi tidak di dengarkan oleh suaminya.
"Itu hukuman untukmu," balasnya. Jayyan benar-benar meninggalkan Tasya di gudang itu. Tasya hanya bisa menangis, duduk di ruangan yang gelap itu, berharap Yesi akan menolongnya.
Jayyan pergi ke kamarnya, ia berganti pakaiyan, lalu pergi meninggalkan rumahnya. Setelah kepergian Jayyan Yesi pun bergegas. Masih dengan menggendong Abyan, ia mengambil kunci cadang yang selalu ia simpan.
Yesi membuka pintu kamar gudang itu, ia masuk dan membantu Nyonyanya keluar dari situ, "ingat Nya, seperti biasa jangan sampai terlambat masuk!" ucap Yesi menginatkan. Ituvsudah biada mereka lakukan. Nanti saat tengah malam Tasya akan kembali ke gudang itu, karna Jayyan akan mengeluarkannya dari situ.
"Makasi Yes. Oh ya? Apa tadi Mas Jayyan langsung pergi?" tanya Tasya, yang sudah tahu pasti apa jawabannya.
Begitilah setiap kali Tasya melawan suaminya, kalau tidak di beri cambungakn, atau di mandikan dengan air dingin, maka ia akan di masikan ke gudang.
****************
Malam itu di sebuah Clup malam yang terbesar di kota itu. seorang pria asik bercumbu dengam gadis yang ada di sampingnya. Pria itu terus meraup bibir merah gadis **** itu, tanpa menghiraukan orang yang ada di dekat mereka.
Pria yang tak lain adalah Abyaza, yang biasa di pangggil Yanza, terkecuali untuk oma nya. Karna sang oma punya panggilan kusus untuknya.
Kau nakal sekali Babby," ucap gadis. itu setelah pria itu melepaskan pangutannya. Tapi Pria itu hanya tersenyum, sambil mengusap bibir merah yang sedikit membenggak karena ulahnya.
Saat Yanza kembali ingin meraup bibir wanita itu, dengan cepat sang wanita menaruh telunjuknya di bibir Yanza, "Bagai mana kalau kita lanjut di kamar saja," bisik wanita itu.
"Dengan senang hati Sayangku," balas Yanza. Saat merela ingin berdiri, dengan cepat Kenzo menahan tangan Tuannya.
"Ingat Tuan, Nonya selalu marah jika tuan pulang larut malam," Kenzo juga mengatakan kalau malam ini Eyangnya akan menginap di rumah mereka. Membuat Yanza mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Maaf ya Sayang, kita bermain lain waktu saja," ucap Yanza. Sambil mengecup bibir wanita itu. Bukan cuma itu, Yanza mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya lalu memasukannya langsung ke dalan bra wanita itu, "Lain kali aku ingin menyicipinya langsung," bisik Yanza. Di telinga wanita itu.
"Dengan senang hati Babby, aku akan menantikan waktu itu tiba," balas Wanita itu pula dengan berbisik.
Kenzo menggelengkan kepalanya, iya tak habis pikir melihat Tunnya itu. Ahirnya ia keluar clebih dulu dari Clup itu, menunggu tuannya di mobil saja.
Setengah jam Kenzo ada di mobil, barulah Yanza keluar dari Clup lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Lumayan cepat Tuan, durasi perpisahannya." sindir Kenzo. Membuat Yanza berdecik saat mendengarnya sindirannya.
"Makanya kau pacaran, biar tau rasanya berciunan," balas Yanza. Padahan wanita radi bukanlah pacarnya, Yanza meminta Kenzo melajukan mobilnya. Karna sudah pasti, nenenya menunggu di ruang tamu.
Menempuh perjalanan 20 menit, barulah mereka sampai di rumah. Yanza masuk kedalan, ia langsung menuju ruang tamu. tepat seperti dugaannya sang nenek sudah ada di ruang tamu, bersama adik dan Bundanya.
"Oma..., sejak kapan Oma di sini?" tanya Yanza pura-pura tidak tahu.
"Tidak usah puru-pura tidak tahu, kalau Omamu ada di sini. Kalu bukan karna Omamu belum tentu malam ini kau akan pulang secet ini," cetus Sasya ibunya Yanza.
"Benar begitu Ab?" timpal Oma Yasmin. Ia menatap cucunya.
"Itu tidak benar Oma. Bunda cuma beracnda, masih seperti biasa kok, cucu Oma yang baik ini akan selalu pulang cepat," cetus Yanza dengan narsisnya.
"Hemm, kau memang cucu yang baik, tapi kurasa tidak untuk gelar anak," timpal Ayah Rasya. Ia ikut bergabung dengan keluarganya.
"Oma, mereka selalu menyudutkan ku!" adu Yanza. Kalau sudah di depan Omanya , maka Yanza akan menjelma sebagai anask kecil yang comel. Terkadang sampai membuat para adiknya merasa lucu melihat tingkahnya.
"Drama pun di mulai," ucap Yasha adiknya Yanza, walau nama mereka mirip tapi mereka bukanlah kembar.
"Sudah lah Dek, tidak usah cemburu, sini paha Oma ada dua, kakak bisa membaginya untukmu," balas Yanza. Yang mendapat tatapan dari neneknya. Mereka semua tertawa bersama.
Ayo mampir ke novel Mak othor 😍 jangan lupa beri like dan komennya ya zeyeng 😘😘😘
__ADS_1