
Setelah kasus yang ditangani oleh Sakya telah usai, kini Sakya waktu Sakya lebih longgar. Bahkan Sakya juga menjadwalkan liburan bersama agar Nesya tidak jenuh. Fio yang menjadi pengasuh Nesya menang banyak, karena dia pasti akan ikut kemanapun Sakya pergi.
"Ines masih ngambek sama ayah. Jangan panggil-panggil Ines!" Ines memasang wajah cemberutnya saat Sakya masuk ke dalam kamar anaknya.
"Loh, dimana aunty, kok cuma sendirian?" tanya Sakya pura-pura.
"Ines lagi gak temenan sama ayah dan aunty. Kalian berdua pembohong! Kalian jahat!" seru Nesya.
Sebagai seorang ayah yang belum pernah menghadapi sisi lain anaknya, Sakya hanya bisa mendengus pelan. "Ayah minta maag ya, udah bohong sama Ines. Gimana kalau kita besok jenguk bunda di rumah barunya?"
Mata Nesya langsung melebar saat sang ayah mengatakan ingin mengajaknya untuk menjenguk rumah baru milik Bundanya.
"Memangnya bunda punya rumah baru? Bukannya orang yang sudah meninggal itu ada di kuburan. Apakah bunda memang belum meninggal?"
"Sayang, karena bunda sudah meninggalkan kita untuk selamanya, bunda juga punya rumah baru, dimana bunda tidur dengan nyenyak disana. Ines mau kan jenguk bunda?" tanya Sakya dengan penuh kelembutan agar Nesya tidak berpikir berlebihan.
"Tapi Aunty Fio harus ikut!"
"Beres itu." Sakya tersenyum puas saat dirinya sudah berhasil meyakinkan Nesya. Ternyata anaknya mudah luluh dan tidak menyimpan dendam berlebihan. Itu semua persis dengan sifat yang dimiliki oleh bunda Nesya.
****
"Aunty bangun!" Satu teriakan tepat di telinga Fio yang masih terlelap dalam tidurnya padahal hari masih sangat pagi dan alarmnya juga belum berbunyi. Namun, Fio harus terganggu oleh teriakan dari Nesya.
__ADS_1
"Apa sih, Ines? Aunty masih ngantuk." Fio menarik lagi selimutnya.
"Aunty bangun! Kita kan mau piknik," kata Nesya sambil mengguncangkan tubuh Fio. Saat itu juga mata Fio langsung terbelalak lebar. "Apa? Piknik?"
Fio langsung bangkit dari tempat tidur. Setelah mencuci muka dia langsung meluncur ke dapur meskipun dia tidak tahu apa yang akan dia kerjakan disana, tetapi setidaknya Fio bisa masak air untuk menyeduh teh dan susu.
"Aunty gak masak?" tanya Nesya heran saat Fio menutup kembali sebuah kulkas.
"Hehe, Aunty gak bisa masak."
"Sudah ku duga ...," kata Nesya sambil menggelengkan kepalanya.
Selama bekerja dengan Sakya, sama sekali Fio tidak pernah masak. Pernah satu kali dan hasilnya sangat memalukan. Fio memilih menunggu Sakya untuk memasak. Meskipun seorang laki-laki, tetapi masakan Sakya jauh lebih enak dari makanan di warung makan.
"Ya begitulah kira-kiranya," timpal Fio.
"Aunty payah!"
Karena dikatakan payah, Fio merasa harga dirinya sedang di rendahan oleh bocah kecil. Dengan tekad yang bulat, akhirnya Fio mengambil sayuran yang ada di dalam kulkas untuk dieksekusi.
Nesya yang mendampingi Fio hanya cekikikan saat Fio menangis saat mengupas kulit bawang.
"Kalian ngapain disini?" Tiba-tiba Sakya datang melihat kekacauan di dapurnya. "Astaga ... apa yang telah terjadi?" tanyanya lagi saat melihat dapur yang sudah tidak beraturan lagi.
__ADS_1
"Aunty lagi masak, Yah. Tapi aunty payah, masak sambil nangis," sahut Nesya.
Sakya yang menyadari jika Fio tidak pandai memasak, akhirnya mengambil alih kegiatan Fio yang sedang berlangsung. "Awas! Tidak seperti ini! Api harus sedang saja!" Tangan Sakya terulur untuk mengecilkan api kompor.
"Suami idaman banget sih? Kapan aku dihalalin? Pak penghulu, nikahkan aku sama pak Sakya, napa?" batin Fio.
Dengan senyum yang terus mengembangkan, Fio memperhatikan gerak-gerik Sakya terlihat lebih menggoda. Apalagi dengan rambutnya yang sedikit basah. Fio hanya bisa menelan kasar salivanya.
"Fi, tolong ambilkan piring!"
Fio yang tengah melamun tak mendengarkan ucapan Sakya.
"Fiona!"
Saat itu juga Fio tersentak lalu berkata, "Iya
Siap, Pak."
****
Jangan lupa mampir juga ke novel Ranjang Big Bos, punya dedek Nitta Siregar yang ceritanya juga keren
__ADS_1