Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Mengejar Cinta Pak Duda 35


__ADS_3

Hilang bagai di telan bumi, bukan berarti Nadine telah mati. Tidak ada yang tahu dimana Nadine berada, bahkan dirinya sendiri juga tidak tahu sedang berada dimana. Terkurung dalam waktu dua minggu membuat Nadine linglung, apalagi dengan keadaan yang kurang sehat. Setelah mendonorkan darah untuk Nesya, keadaan Nadine melemah. Namun, siapa yang menyangka jika dia akan disekap disebuah ruangan gelap.


Derap sepatu beradu dengan dengan lantai hingga menggema ditelinga. Selama berada ruangan gelap tersebut, Nadine belum tahu siapa yang telah melakukan penculikan ini, mengingat usianya sudah tak muda lagi dan terlebih Nadine sama sekali tidak memiliki musuh. Dalam hati selalu bertanya, apa motif dari penculikan ini. Jika hanya untuk masakan tebusan, seharusnya sang penculik akan segera memberi ancaman kepada keluarganya.


"Siapa kamu? Lepaskan aku!" teriak Nadine saat seseorang dengan pakaian serba hitam dan topeng yang menutupi wajahnya.


Taka ada kata yang terucap. Setelah memberikan makanan kepada Nadine, orang itu kembali meninggalkan Nadine dalam kesendirian. Nadine hanya tersenyum tipis dan menertawakan hidupnya saat ini. Tidak ada cara lain selain pasrah, tetapi lihat saja saat Nadine bisa keluar dari tempat gelap ini, Nadine akan membalas dua kali lipat kepada orang yang sudah berani menculiknya.


"Dia pikir aku akan diam saja saat aku diperlakukan seperti ini? Lihat saja, aku pasti bisa keluar dari tempat ini dan akan membalas perbuatannya ini," geram Nadine dengan mata yang menyala.


*****


Sudah dua hari semenjak kesepakatan itu berlangsung, Fio berusaha untuk lebih memberikan perhatiannya kepada Sakya. Jika biasanya hanya sekedar menyapa, kini Fio sudah berani untuk menyiapkan sarapan, meskipun itu bukan hasil dari tangannya.


"Pak Sakya sarapan disini aja, aku udah beli sarapan untuk pak Sakya. Besok kalau aku udah bisa masak, baru aku masakin," kata Fio yang sedang mengelap tubuh Nesya dengan kain handuk.

__ADS_1


"Aku hari ini tidak ke kantor." Sakya memposisikan tubuhnya untuk duduk di sofa, karena selama Nesya belum sadar, Sakya memilih untuk tidur di rumah sakit. Begitu juga dengan Fio yang turut menemani Sakya. Bedanya, Fio tidur di kasur lipat yang dia bawa dari rumah.


"Oh."


Mata Sakya terus mengawasi gerakan Fio yang sedang mengelap tubuh Nesya, bahkan Nesya yang tak kunjung membuka matanya tetap di dandani dan berikan bedak oleh Fio.


"Fi." Mata Sakya tak lepas dari punggung Fio.


"Iya, Pak." Fio menjawab tanpa ingin menoleh sedikitpun.


Karena Fio merasa sangat tertarik dengan ucapan Sakya, akhirnya perempuan itu membalikkan badan dan langsung bertanya kepada Sakya. "Maksud pak Sakya?"


Sakya masih bergeming. Matanya tak putus untuk menatap Fio dengan segala kepolosannya. "Aku sudah pikiran matang-matang untuk pernikahan kita. Beri aku waktu untuk bisa menerima mu." Napas panjang nan berat keluar dari dada Sakya.


"Maksud pak Sakya, pak Sakya akan belajar untuk menerimaku sebagai istri pak Sakya?" tanya Fio dengan alis yang menaut.

__ADS_1


Sakya hanya mengangguk pelan. "Iya, tapi beri aku waktu."


Bibir Fio tak hentinya mengembang. Pagi-pagi hatinya telah disiram olehbunga yang bermekaran. "Jika itu sudah niat pak Sakya, aku akan ajari pak Sakya mengikis waktu. Aku akan buktikan jika pak Sakya akan jatuh dalam lautan cinta. Aku akan berikan semuanya untuk membuat pak Sakya tergila-gila denganku. Tinggal tunggu kapan waktunya," kekeh Fio dengan senyum yang tak memudar.


Fio yakin semua usahanya selama ini tidak akan sia-sia. Ketulusan cintanya tak akan bertepuk sebelah tangan, meskipun Sakya belum bisa melupakan seseorang yang telah tiada. Namun, Fio akan buktikan jika dia bisa menggeser posisi Sarah, ketika Sakya sudah berani untuk belajar menerima dirinya.


"Kamu terlalu percaya diri. Kamu tahu dengan keadaanku saat ini kan? Aku tidak akan bisa menggelar sebuah pesta pernikahan, bukan aku tidak mampu, tetapi aku tidak ingin berbahagia sendiri saat putriku sedang berjuang untuk sadar."


"Tenang saja, Pak. Aku tidak akan meminta lebih. Cukup dinikahi dan di tiduri oleh pak Sakya saja itu sudah lebih dari segalanya," kekeh Fio lagi.


Sakya hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan konyol dari Fio. "Kamu yakin kita hanya melakukan ijab tanpa ada pesta? Dan ijab itu diadakan disini?" tanya Sakya lagi untuk meyakinkan kesediaan Fio.


"Dimanapun tempatnya asal sah, aku rela Pak. Asal yang nikahi aku itu pak Sakya."


"Baiklah. Hari ini kita urus semua persiapannya, besok pagi kita nikah."

__ADS_1


__ADS_2