
Kehadiran Tari langsung disambut oleh ayah dan juga Ardi yang sedang menjaga foto kopi.
"Nak, kamu datang? Ayah senang sekali, sini masuk! Ayah sudah rindu sekali dengan putri ayah ini." Ayah menggiring Tari untuk masuk ke dalam.
Terlihat raut wajah bahagia Pak Wahyu. Ardi pun turut menyapa Tari dengan ramah. Bagi pria itu Tari adalah sosok adik.
"Ayah, Tari kangen sama ayah." Tari memeluk tubuh renta Pak Wahyu dengan erat.
"Bang Ardi gak dipeluk nih?" Ardi menaik turunkan alisnya.
Tari melepas pelukannya dengan sang ayah, kepala wanita itu menoleh ke Ardi. Lalu ia menjulurkan lidahnya.
"Yah ... gagal dapat pelukan dari adik cantik," ucap Ardi dengan wajah dibuat sedih.
Kepala Tari menggeleng, ia kembali berhadapan dengan sang ayah.
"Ayah, kita ke dalam rumah dulu yuk! Tari mau memberi tau sesuatu." Ajak Tari.
Pak Wahyu menyahuti ajakan anaknya dengan tersenyum. "Di, kamu jaga di sini ya," ucap Pak Wahyu pada Ardi yang sedang berdiri di samping mesin printer.
"Siap, Pak!" sahut Ardi dengan semangat.
Anak dan ayah itu masuk ke dalam rumah yang menyatu dengan usaha foto kopi mereka.
Keduanya duduk di ruang tv, Tari mengamit tangan ayahnya. Ia menarik napas dalam sebelum bicara. Saat merasa sudah siap, barulah dirinya membuka suara.
"Ayah ... Tari dan dia sayang sama ayah," ucap Tari sembari mengusap perutnya yang masih rata.
Mata Pak Wahyu mengerjap beberapa kali, pria paruh baya itu masih belum menyadari apa maksud dari ucapan putrinya.
"Dia ... cucu Ayah." Tari membawa tangan Pak Wahyu ke atas perutnya.
Binar bahagia terpancar lewat mata ayah Tari. "Kamu hamil nak? Ini benar kan?" tanya Ayah Tari dengan semangat.
Kepala Tari mengangguk sambil tersenyum. Tubuhnya langsung direngkuh oleh sang ayah.
Pria paruh baya itu berulang kali mengucap syukur. Tari merasa lega, ayahnya menerima kehadiran bayinya dengan suka cita.
"Mana suamimu, Nak? Ayah mau mengucapkan selamat," ucap Pak Wahyu begitu ia melepas pelukannya dari sang anak.
Tari tersentak. Wanita bertubuh mungil itu menjawab pertanyaan ayahya dengan gugup. "Suami Tari masih ngajar, Yah. Nanti juga jemput Tari ke sini."
Ayah mengangguk mengerti akan kesibukan menantunya yang menjadi dosen sekaligus menyambi untuk memantau restoran yang dimiliki keluarga Batara.
"Ya sudah, nanti saja ayah beri selamatnya."
Tari menggaruk kepalanya yang tak gatal, wanita itu takut kalau sang suami mengetahui kehamilannya. Ia khawatir Tama tidak menerima kehadiran buah hasil kerja sama mereka berdua.
__ADS_1
"Hehe iya, Yah. Ayah udah makan belum?" tanya Tari pada ayahnya.
"Sudah, tadi sama Ardi makan nasi bungkus."
"Ayah ih, jangan keseringan. Setiap hari Tari masakin ayah deh, biar lebih sehat," ucap Tari, bergelayut manja dengan ayahnya seperti anak kecil.
Pak Wahyu terkekeh mendengar suara manja putrinya. "Kamu gak berubah ya, Nak. Masih aja perhatian dan manja sama ayah." Tangan Pak Wahyu mengusap puncak kepala Tari.
"Tari gitu loh, anak ayah paling cantik sejagat rumah."
Tawa keduanya pecah bersamaan, suasa rumah itu kembali hangat seperti saat Tari belum menikah.
"Cucu ayah rewel tidak?" tanya Pak Wahyu menatap perut putrinya.
"Tidak kakek, dedek utun kan anak baik," jawab Tari denga suara yang dibuat seperti anak kecil.
"Cepat hadir ke dunia ya cucu kakek. Kakek sudah tidak sabar menggendong kamu."
Tari benar-benar merasakan kebahagiaan mendengar ucapan ayahnya.
Hari mulai sore. Suara deru mobil Tama terdengar— pertanda jika pria itu sudah tiba di kediaman ayah Tari.
Tari melirik ke arah ayahnya yang sedang tertidur di kursi panjang. Wanita itu mengusap dada lega, dengan perlahan dia berjalan ke depan.
"Loh dek Tari udah mau pulang?" tanya Ardi begitu melihat Tari yang keluar dari balik tirai pembatas antara rumah dan fotokopi.
"Tari!" Panggil Tama.
"Bang, Tari pamit dulu ya. Nanti kalau ayah udah bangun, bilang Tari sudah pulang ya. Kasihan ayah kalau dibanguni, tidurnya pules banget," ucap Tari.
Ardi menganggukkan kepalanya. Sementara Tama yang awalnya ingin berpamitan dengan Pak Wahyu mengurungkan niatnya begitu mendengar penuturan sang istri.
"Baiklah, hati-hati dijalan ya dek. Sering-sering main ke sini, sepi gak ada kamu," ucap Ardi.
Tama menatap tak suka ke arah Ardi yang tersenyum ke pada istrinya. Pria itu menatap tajam ke arah Ardi ketika pria itu mulai membentagkan tangannya.
Ardi terkikik geli, ia sengaja melakukan hal itu untuk menjahili suami Tari. Dan dia berhasil, melihat wajah Tama yang mengetat.
"Ayo pulang! Permisi," pamit Tama singkat dengan Ardi.
Sampainya di dalam mobil, Tama langsung mengeluarkan protesnya. "Tadi kamu dekat-dekat sama dia?!"
"Dia? Bang Ardi?" tanya Tari semakin membuat hati Tama dongkol.
"Ya, dia!" Jawab Tama dengan datar.
Tangan pria itu mulai mengendalikan setirnya sembari menunggu jawaban dari sang istri.
__ADS_1
"Enggak kok, My Lion cemburu ya ...." Telunjuk Tari menunjuk ke arah sang suami.
Tama tidak menyahuti ucapan istrinya. Ia lebih memilih fokus mengendarai kuda besinya.
"His, dikacangin! Pak Tama, nanti di perempatan jalan berhenti bentar ya."
"Mau ngapai?" Tama menoleh sebentar ke arah istrinya.
"Beli mie ayam," jawab Tari.
"Hmm ... ," sahut pria itu singkat.
***
Pak Wahyu terbangun dari tidurnya, ia memandang ke sekeliling area ruang tv. Pria paruh baya itu beranjak ke tempat fotokopi, mungkin saja putrinya ada di sana. Pikir Pak Wahyu.
"Di, Tari kemana? Kok di dalam gak ada."
"Dek Tari udah pulang, Pak. Tadi dijemput sama suaminya selang 15 menit dari bapak bangun," ucap Ardi.
"Kok gak pamitan sama Ayahnya ya?" Wajah Pak Wahyu terlihat sedih.
"Tadi kata Tari jangan bangunin Bapak, soalnya lagi tidur," lanjut Ardi, kembali menjelaskan.
"Owalah, Bapak belum sempat ngucapin selamat ke menantu," lirih Pak Wahyu.
"Selamat? Memangnya selamatan apa, Pak?" Wajah Ardi menunjukkan rasa keingintahuan.
"Nanti bapak jelaskan. Ardi, kamu belanja beberapa ATK yang udah mau habis ya, keburu tutup tokonya."
"Siap, Pak! Ardi pamit dulu ya," pamit Ardi langsung menjalankan perintah dari Pak Wahyu.
Dari kejauhan, Mami Sun yang berada di dalam mobil bersama supirnya sudah memantau kediaman ayah Tari sedari tadi.
Wanita paruh baya itu tersenyum miring melihat kesempatan emas yang datang di saat yang tepat untuk menjalankan aksinya.
Begitu sepeda motor Ardi sudah meninggalkan halaman fotokopi Pak Wahyu, Mami Sun langsung memerintahkan supirnya untuk menyalakan mesin mobil.
"Kita ke sana!" seru Mami Sun.
"Baik, Nyonya."
"Waktunya dimulai, aku pastikan perempuan miskin itu akan terpuruk, ha-ha-ha." Mami Sun teratawa jahat dalam hati.
`
`
__ADS_1
`
Bersambung ....