
Mami Sun turun dari mobilnya, ia sudah menyiapkan hal yang sudah dia persiapkan sedari awal. Wanita paruh baya itu melangkah maju ke rumah Pak Wahyu.
Dengan tidak sopan santun, wanita yang megangkat dagunya tinggi itu masuk tanpa permisi.
Pak Wahyu yang sedang berbenah usaha fotokopinya dikejutkan dengan kedatangan Mami Sun yang tiba-tiba.
Ayah Tari menatap was-was ke arah Mami Sun, Pak Wahyu masih ingat kedatangan ibunya Manda yang membuat rusuh. Pria baya itu meninggalkan kegiatan berbenahnya, ia mengahap ke Mami Sun.
"Maaf, ada perlu apa ke sini?" tanya Pak Wahyu tanpa basa-basi.
"Cih! Sombong sekali anda!" Mami Sun berdecih, ia menunjuk wajah Pak Wahyu dengan gaya jijik.
"Kalau ke sini hanya untuk mengganggu, lebih baik pergi saja," ucap Ayah Tari yang sudah jengah akan tingkah laku Mami Sun.
Bukannya pergi, Mami Sun malah mengeluarkan sesuatu dari tas mewah miliknya. Wanita paruh baya itu mengotak-atik ponsel genggamnya.
Ayah Tari memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Mami Sun, sampai sebuah suara yang sangat dikenali Pak Wahyu terdengar.
"Halo, Mi."
"Cih, kamu mau melanggar janjimu ya! Hebat, sekarang kau mulai dekat dengan bocah miskin itu!" hardik Mami Sun.
"Ini semua demi Una, dia ingin meminta cerai. Tentu Una akan merasa kehilangan sosok ibunya," ucap Tama.
"KAU INGIN MENGGANTIKAN PERAN MANDA ANAKKU DENGAN SI MISKIN ITU?!" teriak Mami Sun dengan berang.
"Bukan seperti itu, Mi. Tama melakukan semua ini demi menahannya untuk tetap berada di sini."
Jantung Pak Wahyu terasa seperti terhimpit batu besar, pria itu memegangi dadanya yang sesak. Wajah sang putri menghiasi penglihatannya yang mulai menggelap.
"P-putriku ... c-cu ... ku."
Tubuh ayah Tari luruh ke bawah. Pasukan oksigennya semakin menipis, mata pria paru bayah itu mendelik ke atas. Napasnya kini seolah tertahan di tenggorokkan.
Sebuah bulir bening mengalir dari sudut mata Pak Wahyu sebelum kedua mata itu benar-benar tertutup. Mami Sun tersenyum puas menyaksikan penderitaan yang dirasakan oleh ayah Tari.
"Beres! Sekarang tunggu bom satunya meledak." Mami Sun meletakkan ponsel yang hanya berisi rekaman suara Tama dan dirinya diantara kotak berisi hekter dan beberapa perlengkapan lainnya.
Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan kediaman Pak Wahyu dengan wajah sumringah. Suasana yang sepi membuatnya mudah menjalankan aksi busuk yang sudah ia rencanakan jauh hari.
__ADS_1
"Jalan, Pak!" perintah Mami Sun pada supirnya.
"Baik, Nyonya."
Mobil milik Mami Sun pergi meninggalkan kediaman ayah Tari. "Lihat Tama, sebentar lagi kau akan kehilangan istrimu. Kau pikir aku tidak tau kalau kau sudah menyukai perempuan miskin itu!" ucap Mami Sun bermonolog dalam hati.
Sepeda motor Ardi berhenti di depan halaman fotokopi milik Pak Wahyu, pria itu membawa barang belanjaanya ke dalam.
"Pak Wahyu!" pekik Ardi panik, ia langsung menghampiri ayah Tari yang terkapar di atas lantai yang dingin.
Deg!
Jantung Ardi berdetak kencang. Ia tersentak ketika menyentuh tubuh Pak Wahyu yang terasa dingin. Pria yang dilanda panik itu segera keluar mencari bantuan.
Ia berusaha memberhentikan beberapa mobil yang lewat. Tak ada satu pun kendaraan yang berhenti. Pria itu langsung masuk kembali ke dalam, ia mengambil ponselnya.
Dengan buru-buru Ardi menghubungi Tari. Saat panggilan terangkat, Ardi langsung menyuruh Tari dan suaminya datang ke rumah Pak Wahyu.
"Tari! Pak Wahyu tidak sadarkan diri. Tolong datang kemari sekarang."
Tari yang baru beberapa menit sampai di kediaman keluarga langsung lunglai mendapat kabar seperti itu dari Ardi.
Begitu tersadar, Tari langsung mengguncang tangan suaminya. "Pak ayo ke rumah ayah. Ayah tidak sadarkan diri."
Tama yang mendengar itu dengan sigap berdiri, keduanya kembali pergi ke rumah Pak Wahyu. Mama Widi yang baru turun dari lantai atas menatap heran pada kedua pasangan suami istri yang berjalan dengan terburu-buru.
Mobil Tama melesat dengan kencang. Tari yang khawatir dengan keadaan sang ayah terus meyakinkan dirinya bahwa ayahnya baik-baik saja.
Wanita bertubuh mungil itu merapalkan doa sepanjang perjalanan. Ia meminta ke pada Tuhan agar ayahnya baik-baik saja.
Tak butuh waktu lama, Tari dan Tama sudah tiba di kediaman Pak Wahyu. Kedua insan itu berjalan dengan tergesah-gesah.
"Ayah! Ayah kenapa Bang Ardi," teriak Tari ketakutan melihat warna bibir ayahnya yang tak seperti saat terakhir ia bertemu dengan sang ayah.
Tama tak tinggal diam, pria itu mengangkat tubuh renta Pak Wahyu yang dibantu oleh Ardi. Sedangkan Tari mengikuti langkah kedua pria itu dari belakang.
Semuanya langsung masuk ke dalam mobil, fotokopi yang belum ditutup itu ditinggal begitu saja. Semua pikiran mereka terfokus pada kondisi Pak Wahyu.
Setelah menempuh waktu yang singkat, kuda besi milik Tama sampai di parkiran rumah sakit. Mereka membawa ayah Tari untuk mendapat pertolongan.
__ADS_1
Beberapa petugas kesehatan yang ada di rumah sakit itu membantu membawa Pak Wahyu agar mendapat tindak lanjut.
Seorang dokter yang menangani Pak Wahyu keluar dari pintu berbahan kaca. Tari, Tama serta Ardi yang sedang menunggu di depan ruangan tempat Pak Wahyu mendapat penangan langsung menoleh ketika dokter berjenis kelamin pria itu muncul.
Ketiga wajah insan itu terlihat panik, kenapa dokter yang menangani ayah Tari begitu cepat keluar.
Dokter itu diam sejenak dengan menujukkan wajah empati, lalu dengan perlahan menyebutkan nama Pak Wahyu dan diakhiri dengan kata 'sudah meninggal'.
"Gak! Gak mungkin, ayah gak mungkin ninggalin Tari." jerit Tari pilu, wanita itu menangis terseduh-seduh.
Dokter itu memberikan waktu pada keluarga pasien yang ditinggalkan untuk berduka sebelum akhirnya menjelaskan penyebab kematian dari Pak Wahyu yang didapat dari hasil diagnosa terkena serangan jantung.
Tama memeluk erat tubuh istrinya. Tari menangis dengan suara pilu yang tak dapat ditahan.
"Tari mau ketemu ayah," ucap Tari disela tangisnya.
Tama melihat ke arah dokter, dan pria berjas putih itu menjawabnya dengan gerakan kepala dan mata yang sopan.
Dokter mempersilahkan keluarga inti dari Pak Wahyu untuk masuk sebelum akhirnya mendapatkan tindak selanjutnya.
Begitu masuk, dungkul Tari langsung gemetar. Tubuhnya terasa lemas, untung saja ada Tama di sebelahnya yang memegangi pundak Tari. Jika tidak, mungkin tubuh mungil itu sudah terjatuh ke atas lantai.
"Ayah ... kenapa ayah pergi ninggalin Tari? Baru aja Tari ketemu sama ayah. Kenapa secepat ini?" Tari terisak pilu, ia bahkan tak sanggup untuk menyentuh tangan ayahnya.
Tama menatap tubuh ayah Tari yang terbujur di atas brankar rumah sakit dengan rasa sedih. Ia teringat akan pesan Pak Wahyu ketika di rumah sakit waktu itu.
Semua yang keluar dari mulut Pak Wahyu adalah permohonan seorang ayah untuk menjaga dan mencintai putrinya dengan tulus.
Tama tidak menyangka jika mertuanya akan pergi secepat ini. Pria bertubuh tegap itu menangkap tubuh Tari yang hampir terjatuh.
`
`
`
Bersambung ....
Bener-berner benalu ini si Mami Sundelš“ hadeh, othor jadi ikut gregetan.
__ADS_1