
Flashback off
Begitulah pertemuan tak sengaja antara Tari dan Fajar, dari situ Tari dengan ragu menceritakan apa yang terjadi dengan ayahnya. Tetapi, wanita mungil itu tidak menceritakan kenapa ia memilih pergi dalam kondisi hamil.
Tari hanya mengatakan kalau ia ada sedikit masalah yang tidak bisa diceritakannya.
"Besok Kakak harus pergi, apakah kamu mau ikut dengan Kakak?" tanya Fajar dengan wajah penuh harap.
Wanita itu menarik napasnya sebelum menjawab. "Maaf, Tari tidak bisa Kak."
Fajar sudah tau akan jawaban yang Tari berikan, ia hanya mencoba peruntungannya. Namun, memang Tari bukanlah jodohnya.
"Baiklah, Kakak akan pergi besok. Kamu tetaplah tinggal di sini, Bik Arum yang akan menjaga kamu selama Kakak tidak ada," ucap Fajar dengan mimik wajah serius.
"Memangnya Kakak pergi berapa lama?"
"Mungkin 3 tahun lagi, atau bisa lebih lama dari itu. Kakak harap kamu terus bahagia, jangan menangis lagi. Dan kamu ...." Fajar menunjuk perut rata Tari. Pria itu seakan bisa berbicara dengan baby yang masih sebesar kacang itu. "Jaga Wanita cantik ini ya, jangan membuatnya mual terus," ucap Fajar.
Tari tertawa dengan wajah sembabnya, wanita itu menggeleng akan tingkah Fajar yang lucu.
***
Di kediaman keluarga Batara, tampak Tama yang frustasi mencari keberadaan istrinya. Orang yang ia sewa dari kenalan temannya tidak dapat menemukan sang istri.
Tak heran jika Tama kesulitan untuk menemukan sang istri, sebab itu semua karena campur tangan Fajar. Pria itu tidak akan membuat jalan Tama mulus untuk menemukan Tari, agar Tama tak lagi semena-mena dengan wanita yang ia cintai.
Pria itu menghamburkan semua benda di meja kerjanya. Kertas-kertas berjatuhan ke atas lantai. Tama berteriak kencang, ia merasa bersalah pada Tari dan anaknya.
"Aku mohon kembali, Tuhan ... beri aku kesempatan satu kali lagi, aku janji akan mencintainya dengan tulus dan benar."
Tubuh Tama luruh bersandar di dinding, ia tidak sanggup kehilangan Tari. Wanita itu sudah menguasai hatinya, dan dengan bodonya ia baru menyadari hal itu setelah Tari pergi meninggalkannya dengan sejuta rasa sakit dan kecewa.
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu, tidak akan!" gumam Tama di sela-sela matanya yang mulai tertutup.
6 bulan berlalu, kini Tari sedang selonjoran di pinggir sawah. Wanita cantik itu mengusap perutnya yang sudah membuncit.
Sesekali ia tersenyum ketika merasakan tendangan dari dalam perutnya, perasaan bahagia hinggap di hatinya. Kondisi anaknya yang sehat membuat Tari dapat menjalani hari-harinya dengan tenang.
"Nak, Mama rindu sekali dengan Una. Pasti Una makin cantik," ucap Tari lirih.
Tari menghela napasnya, ia berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam rumah. Wanita itu memegangi kakinya yang akhir-akhir ini sering terasa pegal.
__ADS_1
"Nak Tari, hari ini jadwal pemeriksaan kandungan. Kata Tuan Fajar, Nak Tari harus makan yang cukup, jangan sering melamun." Bik Arum menata makan siang Tari di atas meja.
Dahi Tari berlipat, sedangkan mulutnya mengerucut. "Kenapa sih Kak Fajar gak pernah menghubungi Tari secara langsung?"
Bik Arum tersenyum simpul, wanita tua itu mengusap pundak Tari dengan lembut. "Nak Fajar pasti punya alasan atas itu."
Tari mengangguk dengan wajah lesu. Semenjak Fajar pergi, pria itu tak lagi menghubunginya. Hanya dengan Bik Arum lah pria itu menitipkan berbagai pesan agar Tari tidak bersedih dan banyak hal lainnya yang disampaikan oleh pria itu.
"Gimana masakan Bibik?" tanya Bik Arum yang juga duduk di ruang makan.
"Eum enak Bik, seperti biasa masakan Bik Arum rasanya luar biasa!" Tari mengacungkan dua ibu jarinya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Bik Arum terkekeh geli melihat tingkah calon ibu muda di depannya.
"Sudah, cepat habiskan makanannya. Hari ini jadwal memeriksa kandungan," ucap Bik Arum.
"Siap Bibik Arum yang cantik membahana."
Bik Arum menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka menyantap makanan yang sudah tersaji.
Tari bersama Bik Arum menaiki mobil yang sengaja Fajar siapkan beserta satu orang supir.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit Tari merasa gelisah, bahkan anak yang ada di kandungannya turut merasakan hal yang sama. Tari dapat merasakan anaknya bergerak aktif.
"Nggak apa Bik, hanya sedikit deg degan aja."
Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam, akhirnya Tari dan Bik Arum sampai di rumah sakit.
Mereka berjalan melewati lobi rumah sakit, untung saja mereka sudah membuat janji. Jadi tidak harus mengantri lama. Saat Tari dan Bik Arum masuk kendalam ruangan dokter kandungan, mereka langsung disambut dengan senyum hangat.
Tari melakukan beberapa cek dan hasilnya baik. Anak yang ada di dalam kandungannya berkembang dengan sempurna.
"Wah si jagoan kelihatan aktif, tidak seperti biasanya ya," ucap dokter itu.
Tari terharu melihat ke layar yang menampilkan pergerakkan anaknya. Biasanya anaknya bergerak sesekali, tapi hari ini ia benar-benar aktif.
Bik Arum yang juga berada di ruangan itu menitihkan air matanya. Ia terharu, Tari sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.
Setelah selesai, mereka keluar dan berjalan menuju parkiran rumah sakit. Begitu masuk ke dalam mobil, Tari langsung memberi tau kepada pak supir agar singgah ke super market untuk membeli bahan makanan yang tidak bisa ia dapatkan di tempatnya tinggal sekarang.
"Bik Arum tunggu di sini saja, Tari cuma beli satu bahan makanan aja kok."
__ADS_1
"Tapi Nak—"
"Tidak apa Bik."
Akhirnya Bik Arum mengangguk setuju. Tari masuk ke dalam super market seorang diri, dia menaiki lift untuk ke tempat pusat tempat bahan makanan.
"T-Tari"
Deg!
Suara itu?
Tari membalik badannya, betapa terkejutnya wanita itu melihat seseorang yang sudah lama tak ia lihat. Tari berusaha mengatur ekspresi wajahnya.
Pintu lift terbuka, ia buru-buru keluar. Tama menahan tangan wanita yang ia rindukan.
"Tolong yang sopan ya, anda jangan sembarang menyentuh orang." Tari menarik kembali tangannya.
Tama tersentak, matanya tak lepas dari wajah serta perut buncit Tari.
"Kamu Tari, istriku! Dan ini anak kita." Tama mencoba menggapai tangan Tari lagi.
Namun wanita itu langsung mundur satu langkah. "Maaf, saya tidak kenal dengan anda. Mungkin salah orang," ucap Tari membuang muka.
"Tari aku mohon jangan begini. Pulanglah, kami merindukanmu. Una sering sakit-sakitan semenjak kamu pergi, dia merindukan mama nya, yaitu kamu."
Setetes air mengalir dari sudut mata Tari. Namun segera ia memalingkan wajahnya ke lain arah.
"Tari aku mohon maafkan kesalahanku, aku sangat mencintaimu, kembalilah." Ungkap Tama.
"Tolong jangan membuat malu, saya jadi tontonan banyak orang sekarang."
Tari langsung membalik badannya, ia mengurungkan niat untuk membeli bahan makan yang tadinya ingin ia beli.
Tama tak patah arang, pria itu mengikuti kemana langkah Tari pergi.
`
`
`
__ADS_1
Bersambung ....