
Sesampainya di puncak, hari sudah gelap. Bahkan Nesya juga telah tertidur di pangkuan Fio. Begitu juga dengan Fio yang tertidur juga. Sakya hanya menatap dua orang disampingnya dengan lucu. Mungkin saja jika Sarah masih hidup, Sakya akan menjadi suami yang paling bahagia karena memiliki anak seperti Nesya yang mampu berpikir lebih dewasa ketimbang usianya. Apalagi saat melihat interaksi Nesya dengan Fio, membuat bayangan Sarah muncul dengan tiba-tiba.
"Fi, udah sampai." Sakya menggoyang pelan bahu Fio agar tak membangunkan anaknya
Fio mengerjap pelan. Pandangan lurus ke depan. "Udah sampai ya," kata Fio.
Sakya langsung turun dari mobilnya kemudian membuka pintu untuk Fio. "Sini biar aku yang bawa Ines. Tinggalkan saja barang-barangnya, nanti ada pak Udin yang mengangkat."
Fio keluar pelan. Kepala terasa pusing serta perutnya yang terasa mual. "Pak kamar mandi dimana ya?" tanya Fio kepada Sakya yang baru saja memasuki sebuah villa pribadi milik Sakya.
"Kamu udah kebelet?"
"Pakai di tanya lagi. Jelas iya lah, Pak," sungut Fio.
"Kamu jalan aja ke dapur. Kamar mandi ada di dekat dapur. Abis itu kamu naik ya! Aku tunggu di atas!"
Fio segera melangkah mengikuti intruksi daei Sakya. Sebenarnya Fio tidak sedang kebelet, tetapi dia sedang mual ingin muntah. Perjalanan yang menurutnya terlalu lama karena ini adalah kali pertama Fio melakukan perjalanan jauh.
Sesampainya di kamar mandi, Fio berusaha untuk mengeluarkan rasa yang telah bergejolak dalam perutnya.
"Ya ampun kelihatan sekali ndesit. Baru ke puncak aja udah mabuk, gimana kalau sampai diajak ke Bali? Bisa mati kaku," gerutu Fio dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki.
Setelah mengeluarkan isi dalam perutnya, Fio segera naik ke lantai atas sesuai dengan perintah Sakya. Meskipun kakinya terasa sangat lemas, tetapi Fio berusah agar segera sampai ke kamar. Kepalanya semakin lama, semakin berat.
__ADS_1
"Dimana kamarnya?" Sambil memengagi kepalanya, Fio menembak-nebak kamar mana yang harus dia tuju.
"Pak Sakya," panggil Fio.
Sakya yang kebetulan keluar dari kamar dan melihat Fio terus memanggil namanya segera menarik tangan Fio. "Disini kamar Ines."
Namun, disaat yang bersamaan Fio malah menjatuhkan diri di pelukan Sakya.
"Fi, kamu jangan macam-macam! Apakah kamu ingin menggoda ku? Menjauhlah!" Raut wajah Sakya berubah merah padam.
"Maaf, tapi aku gak kuat, Pak," lirih Fio pelan.
Sakya merasa sangat terkejut saat melihat tubuh Fio yang melemas. "Kamu kenapa?" panik Sakya. Karena Fio tak menjawab, Sakya segera membopong tubuh Fio yang terasa ringan.
Karena di villa tidak ada Paracetamol dan Sakya juga lupa tak membawa, terpaksa Sakya terus mengompres agar panasnya menurun.
****
Cuaca di puncak memang sangat dingin. Meskipun sudah berada di dalam ruangan dan menggunakan selimut tebal, tetapi hawa dingin masih terasa menusuk tulang. Sakya yang tertidur di samping Fio tanpa sadar memeluk Fio layaknya sebuah guling untuk menghangatkan tubuhnya. Hingga kicauan burung bercuitan membuat tidur Fio terusik.
Matanya perlahan mengerjap pelan karena Fio juga merasa seperti ada sebuah beban yang sedang menimpa tubuhnya. Fio berusaha untuk mengumpulkan nyawanya dari alam bawah sadar. Namun, matanya harus terbelalak saat melihat kaki Sakya yang sedang menimpa tubuhnya. Jantung Fio mendadak terguncang hebat. Pikiran Fio langsung melayang, apakah tadi malam dia sudah melewatkan sesuatu? Fio pun segera mengintip selimut yang menutupi tubuh.
"Alhamdulillah, masih utuh." Fio bernapas lega saat melihat pakaiannya masih utuh melekat di tubuhnya.
__ADS_1
Namun, Fio merasa sesuatu yang terasa melekat di keningnya. "Apa ini?" Fio segera mengambil sesuatu yang membuat risih.
"Aku di kompres?" Fio mengambil handuk kecil dari keningnya. Detik itu juga Fio mengingat apa yang terjadi malam tadi. "Ah, memalukan sekali. Aku mabuk darat sampai demam dan pingsan," rutuk Fio.
Fio ingin bangkit, tetapi saat melihat wajah Sakya dari jarak dekat Fio mengurungkan niatnya. Pemandangan yang langka baginya bisa meneliti setiap inci wajah Sakya. Garis bibirnya terangkat saat tangannya menyentuh wajah halus duren idolanya. Bisa berada dalam satu ranjang bersama dengan Sakya adalah sebuah keajaiban dunia bagi Fio.
Saat tangan Fio menyentuh wajah Sakya, tangannya segera dipegang oleh Sakya. "Kamu cari kesempatan dalam kesempitan," ucap Sakya dalam mata yang masih memejam.
Fio pura-pura tertidur kembali karena merasa sangat malu saat aksinya tertangkap basah oleh Sakya. "Udah, gak udah pura-pura tidur. Aku tahu kamu udah bangun," lanjut Sakya lagi.
Namun, Fio tak kunjung membuka matanya hingga terbesit dari hati Sakya untuk mengerjai Fio. "Kalau masih berpura-pura, aku cium ya!"
Mantra yang sangat mujarab, detik itu juga Fio langsung membuka matanya. "Apaan sih pak Sakya." Dengan wajah yang memerah Fio berusaha menyingkirkan tangannya dari wajah Sakya.
"Tuh kan ... beneran!" goda Sakya.
"Ih, pak Sakya apaan sih? Angkat kakinya, berat tau!"
Sakya yang menyadari jika kakinya masih mengapit tubuh Fio langsung dia tarik seketika. "Maaf." Satu kata yang membuat wajah Sakya ikut memerah.
Siapa yang menyangka jika aksi keduanya di lihat langsung oleh sepasang mata kecil yang sudah duduk di samping mereka. Dengan bibir yang mengerucut, Nesya kesal karena keduanya tak mengingatnya.
"Ehhm ...." Akhirnya Nesya berdeham membuat kedua orang dewasa itu saling berpandangan. "Pak, itu suara Ines," lirih Fio
__ADS_1
"Iya. Dia memang ada di belakangmu!"