
Sudah 3 hari berlalu semenjak kepergian ayah Tari. Wanita itu masih saja sering menangis, bahkan ketika Raihan dan Nadia datang ia hanya bisa membalas ucapan kedua sahabatnya dengan kedipan mata.
Tari hanya menjawab dengan kata-kata yang panjang ketika bersama Una. Wanita itu kerap kali merasakan pusing belakangan ini, mungkin saja karena terlalu lama menangis. Pikir wanita bertubuh mungil itu.
"Sudah makan?" tanya Tama.
Pria itu melepas kemeja yang ia kenakan, lalu meletakkannya di atas single sofa yang berada di kamar mereka.
Tari mendengakkan kepalanya, ia menjawabnya dengan mengangguk. Tama menghela napas, istrinya masih saja tidak mau bicara.
Pria bertubuh tegap itu mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Tangannya menggenggam kedua tangan sang istri yang berada di atas selimut tebal.
"Ayah pasti sedih jika melihat kamu seperti ini, aku khawatir kamu jatuh sakit." Satu tangan Tama berpindah ke pipi sang istri, ia mengusap pipi nan lembut itu dengan ibu jarinya.
"Hiks ... Tari—Tari gak mau buat ayah sedih." Tangis wanita itu pecah seketika.
Tama langsung menarik sang istri ke dalam dekapannya. Tari terisak di dada sang suami yang dengan setia merapalkan kalimat 'ada aku di sini'.
"Kamu belakangan ini kelihatan pucat, sering muntah juga. Kita ke rumah sakit ya ... ," tawar Tama pada sang istri.
Tari sedikit tersentak, wanita itu mengurai pelukannya dari Tama. "Nggak usah, Tari gak apa kok."
Tangan Tama terulur untuk menangkup wajah istrinya, pria itu menatap dalam bola mata indah milik sang istri yang tampak memerah.
"Kamu yakin?" tanya Tama dengan mengunci tatapan sang istri.
"I-iya. Tari cuma mau ke rumah ayah sekarang," ucap Tari pelan.
"Ini sudah sore, besok saja ya?" bujuk Tama.
Kepala Tari menggeleng, ia sangat ingin ke rumah ayahnya yang sekarang di tempati oleh Ardi.
Wanita bertubuh mungil itu mempercayakan rumah serta fotokopi milik mendiang sang ayah untuk dipegang oleh pria yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.
Awalnya Ardi sempat menolak karena merasa tidak berhak, namun karena wajah Tari yang berlinang air mata itu memohon ke pada Ardi untuk menerimanya, jadilah pria itu setuju. Tapi dengan catatan ia hanya ingin mengelola dan menjaga, tidak ingin memilikinya karena pria itu merasa Tari lah yang berhak atas itu.
"Baiklah, aku mandi sebentar. Tunggu di sini ya," ucap Tama.
Pria itu lekas berdiri dan mengusap puncak kepala sang istri sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Tari memandangi Tama yang baru saja pergi. Beberapa menit berlalu, tercium aroma mint yang menguar begitu Tama keluar dengan rambut yang basah karena habis keramas.
__ADS_1
"Aku pakai baju dulu. Sudah biar aku sendiri, kamu duduk di sini saja." Tama segera menahan pergerakkan istrinya yang bersiap berdiri untuk menyiapkan pakaiannya.
Tari diam menurut, dirinya menunggu sang suami yang sedang berpakaian. Hingga suara Tama terdengar memanggil namanya.
"Aku sudah siap, kamu mau berganti pakaian?"
Kepala Tari menggeleng, Tama segera menggandeng tangan Tari untuk turun ke bawah.
"Mau kemana, Tam?" tanya Papa Adam yang sedang duduk di ruang tengah.
"Mau ke rumah—" Tama melanjutkan ucapannya lewat gerakkan mata yang melirik ke arah Tari.
Papa Adam yang paham tak lagi banyak bertanya. Pria paruh baya itu mengakhiri dialog singkatnya dengan kalimat 'hati-hati di jalan'.
Tama dan Tari menaiki mobil yang kali ini Tama tidak mengendalikan kuda besinya sendiri, melainkan mengajak Pak Jaka sebagai supir.
Pria itu bermaksud agar ia bisa duduk di tengah bersama Tari. Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan keheningan. Tama terus menggenggam tangan istrinya dan sesekali mengelus permukaan lengan Tari.
Kepala wanita bertubuh mungil itu bersandar pada pundak suaminya. Pak Jaka yang sedang menyetir hanya fokus pada jalan yang ia lalui.
Kuda besi mereka tiba di depan fotokopi milik Pak Wahyu yang masih belum dibuka. Tama beserta Tari turun bersama, mata wanita yang sedang dirangkul oleh suaminya itu tampak berkaca-kaca.
Tama memanggil nama Ardi, dan pada saat itu pula terdengar suara sahutan dari dalam.
"Dek Tari, ayo masuk!" Ardi mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk.
Ketika masuk, Tari masih dapat menghirup aroma minyak angin ayahnya. Sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tidak kembali tumpah, namun semua sia-sia begitu ia menginjakkan kakinya di ruang tv.
Tempat ia sering menghabiskan waktu bersama ayahnya dulu. Kursi panjang yang ia duduki saat ini adalah tempat sang ayah dulu menguciri rambutnya kala ingin berangkat ke sekolah.
Hiks ....
Tama mengambil posisi ke sebelah istrinya saat Ardi mulai mendekat. Pria itu mengusap punggung sang istri. Ardi hanya bisa mendoakan Tari agar wanita itu diberi ketabahan dan keikhlasan atas perginya Pak Wahyu.
"Bang Ardi ...." Tari memanggil Ardi yang berdiri di hadapannya.
"Iya Dek Tari," sahut Ardi dengan cepat.
"Tari mau ambil album yang ada di kamar ayah, boleh tolong ambilkan?" pinta Tari dengan mata yang basah.
"Boleh sekali dek, Abang ambilkan ya." Ardi segera mengambil apa yang diinginkan oleh Tari.
__ADS_1
Tama mengelap bulir-bulir bening yang membasuh wajah istrinya dengan telapak tangannya.
"Ini, Dek!" Ardi mengulurkan album foto yang ada di tangannya.
Tari menerima uluran dari Ardi, wanita itu memeluk album yang ada ditangannya dengan penuh perasaan.
"Kak, Tari pamit pulang ya. Terima kasih udah membantu Tari." Wanita itu berdiri dengan perlahan, dibantu oleh Tama yang siap sedia berada di sampingnya.
Baru saja sepasang suami istri itu melangkah, suara Ardi lebih dulu menghentikan mereka.
"Tari, ada yang mau Abang kasih ke kamu, tunggu sebentar ya." Ardi masuk ke dalam kamarnya dengan berlari kecil.
Pria itu menyodorkan sebuah ponsel mahal ke hadapan Tari. "Ini Abang dapat ketika beres-beres tadi, emm mungkin ini punya— Mendiang Pak Wahyu," ucap Ardi dengan suara mengecil diakhir.
Tama memperhatikan ponsel yang sudah berpindah tangan ke istrinya. Tari melihat benda canggih yang ia pegang, wanita itu merasa asing dengan ponsel berwarna gold.
"Sejak kapan ayah punya ponsel semahal ini?" celetuk Tari dengan suara seraknya.
"Mungkin saja baru beli, Tari. Soalnya kalau dilihat dari casingnya masih mulus banget. Abang gak ada buka ponsel itu takut lancang."
Kepala Tari mengangguk, walau dirinya masih tidak percaya jika ayahnya membeli ponsel semahal ini.
Tama dan Tari masuk ke dalam mobil untuk kembali pulang. Wanita itu duduk berdempetan dengan sang suami.
"Apa isinya?" tanya Tama yang mulai kepo.
Tari yang baru saja menyalakan ponsel yang ada di tangannya hanya menjawab dengan mengendikkan bahu.
`
`
`
Bersambung ....
AYO MAMPIR KE NOVEL MAK 😍
SAKSIKAN KISAH SI KEMBAR GANTENG HANYA DI "TWINS GOALS"
__ADS_1