
Entah sampai Nesya akan bangun dari komanya. Hari ini sudah satu minggu semenjak kecelakaan itu, tetapi belum ada tanda-tanda Nesya akan bangun. Sakya dan Fio bergantian untuk menjaga Nesya. Bahkan sampai saati ini mereka juga tidak tahu kemana perginya Nadine yang hilang bak ditelan bumi.
Rencana Sakya untuk menikahi Fio pun harus diundur menunggu Nesya sadar. Itupun jika Sakya masih ingin melanjutkan rencananya. Namun, setelah melihat situasi dan kondisinya saat ini, Sakya lebih fokus untuk menjaga Nesya sepenuhnya. Bahkan Sakya juga hampir drop karena kurang beristirahat. Beruntung saja, Fio selalu ada disaat sedang dibutuhkan. Meskipun masih suka lelet.
"Fi, hari ini ada sidang dan mungkin aku akan pulang larut. Kamu jangan lupa makan ya!" pesan Sakya sebelum pergi bekerja.
Dengan senyum semangat 45, Fio berkata, "Siap Pak."
Saat ini kedekatan Fio dengan Sakya pun terlihat lebih dekat. Mungkin karena Fio yang ada disampingnya saat ini.
Sepeninggal Sakya, Fio berusah untuk mengajak Nesya untuk bercerita. Meskipun Nesya dalam keadaan koma, tetapi Fio yakin jika di alam bawah sadarnya Nesya mendengarkan apa saja yang dikatakan Fio kepada dirinya.
"Ines anak yang kuat. Aunty yakin Ines bisa melewati semua ini," kata Fio sambil menggenggam tangan Nesya.
__ADS_1
"Ines cepat bangun ya, Sayang. Aunty sekarang udah bisa masak. Goreng telur udah gak gosong lagi. Kalau Ines bangun, Ines mau di masakin apa? Aunty udah berjuang untuk belajar masak demi Ines loh. Sekarang giliran Ines yang harus berjuang untuk bangun. Aunty sayang Ines." Satu kecu.pan mendarat di pipi bocah yang masih koma. Tanpa disadari oleh Fio, sepasang mata melihat dengan haru. Hatinya tersentuh. Dia semakin yakin jika Fio bisa menjadi ibu yang baik untuk Nesya kelak.
Kejenuhan Fio sering datang. Hanya kedua orang tuanya dan Kudanil yang sering menjenguk Nesya, itupun tidak setiap hari.
Fio memang tak memiliki teman baik, sehingga tak ada satupun teman Fio yang datang untuk menjenguk calon anaknya, itupun kalau Sakya masih berminat untuk menikahi dirinya. Lah, kalau tidak ... ?
Saat Fio sedang meneliti ponsel, Daniel yang masih dengan seragam putih abu-abu masuk bersama dengan seorang perempuan yang senada dengan seragam Daniel.
"Kudanil," seru Fio saat melihat Daniel duduk disampingnya. "Lu bawa anak orang?" sambungnya lagi.
"Halo juga," balas Fio.
Fio merasa heran dengan kedatangan Daniel yang secara tiba-tiba dan wajah Daniel terlihat sangat kusut layaknya baju yang tak pernah disetrika. "Muka Lu kusut amat," cibir Fio.
__ADS_1
"Kak." Perempuan yang belum diketahui namanya itu memang Fio. "Apa?" jawabnya.
Hening sejenak. Antara Daniel dan teman perempuan saling bersitatap. "Aku sama Daniel pacaran," katanya sambil menatap Daniel yang berada di sebelah Fio.
Fio tersenyum kecil. Dia juga pernah berada dalam masa putih abu-abu, tetapi saat berpacaran dia tak pernah memperkenalkan diri kepada keluarga pacarnya. Mungkin pacar Daniel hanya ingin mengenal lebih dekat dengannya. "Bagus dong, semoga aja kalian sampai pelaminan," ujar Fio begitu saja. Karena dia juga tidak tahu apa yang akan dikatakan lagi. "Apanya yang bagus," cibir Daniel.
"Kak, aku ...."
Fio berantusias untuk segera mendengarkan ucapan yang terjeda. "Iya kamu apa?"
"Aku hamil."
Deg.
__ADS_1
Mata Fio membulat lebar dengan mulut yang ternganga. Tubuhnya mendadak kaku mendengar dua kata yang menyambar hatinya. Kepalanya pusing dan matanya pun gelap.
"Kak!" Daniel segera menangkap tubuh Fio yang jatuh kearahnya. "Rin, gimana ini?" tanya Daniel pada Karina.