Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Tatapan Aneh


__ADS_3

Pria itu melepaskan pangutan bibirnya. Ia meletakkan satu tangannya di diding, tepat di sebelah kepala Tari. Tubuh Tama sedikit membungkuk, mata elangnya mengunci tatapan sang istri.


"Kau mencintaiku?" Tama dengan suara beratnya menanyakan hal yang keluar dari mulut Tari tadi.


"Jawab!" Pria itu mengusap benda kenyal milik istrinya dengan perlahan.


Tari bungkam dengan balik membalas tatapan sang suami, ia merasa tidak perlu menjawab ucapan Tama karena dia sudah mengucapkannya tadi.


"Kau tidak mau bicara? Atau kau ingin aku memanjakan ini lagi?" Tama menjungkitkan alisnya, pria itu menyeringai seperti devil.


Kepala Tari menggeleng kuat. Melihat hal itu, Tama menarik pinggang istrinya. Tubuh mereka saling berhimpitan, pria itu salah mengartikan gelengan sang istri. Padahal maksud gerakan kepala Tari adalah tidak mau bergulat bibir lagi. Namun, Tama malah salah menangkap.


Pria bertubuh tegap nan tinggi itu dengan suara beratnya membisikkan sesuatu di telinga Tari.


"Jauhi dia!"


"T-tapi ...," ucap Tari tergagap.


"Sttss, jangan mencoba untuk beralasan. Aku tidak suka itu!" Jari telunjuk Tama membungkam mulut istrinya.


Pria itu menarik tangan sang istri menuju meja kerjanya. Ia mengeluarkan sesuatu dari laci. Begitu mendapatkan benda yang dirinya cari, Tama menaikan tubuh Tari ke atas meja kerjanya. Wanita itu terpekik kaget akan aksi sang suami yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya.


"P-pak T-tama, mau ngapai?" tanya Tari tergagap. Ia berpegang pada pinggiran meja begitu melihat suaminya mendekat.


"Menghilangkan kuman." Tama menjawab dengan nada yang datar.


Tangan pria itu membuka tisu basah yang ada di genggamannya, dengan gerakan normal Tama menarik selembar tisu basah. Ia menggerakkan tangan yang kokoh itu ke atas poni sang istri.


Tari memperhatikan Tama yang sedang mengelapi poninya hingga surai hitam itu terlihat lepek. Ia bingung dengan perilaku suaminya.


"Jangan mau disentuh oleh pria itu! Apa kau paham?" Pria itu masih terus meghapus jejak tangan Fajar yang tadi mengacak poni Tari.


Wanita itu mengangguk ragu, matanya menatap sang suami yang fokus dengan surai hitam miliknya. Ia merasakan sapuan lembut di dahinya.


Tama menyudahi aktivitas membersihkan itu disaat dirinya merasa jejak pria lain sudah hilang dari poni sang istri.


"Sudah?" tanya Tari dengan wajah polosnya.


"Hem ...," sahut Tama dengan gumaman.


Grep!


Tari yang masih duduk di atas meja memeluk tubuh Tama dengan erat. Wanita itu dapat mendengar degup jantung suaminya yang mengalun indah ditelinganya.

__ADS_1


Dalam hati Tari tersenyum senang, ia merasa jika suaminya sedang cemburu. Tama yang dipeluk oleh sang istri hanya diam tanpa membalas balik pelukan Tari.


Pria itu melepas pelukan istrinya dengan perlahan. Tari mengangkat kepalanya lebih tinggi demi bisa menatap mata sang suami.


"My Lion." Tari memanggil suaminya dengan senyuman yang mengembang.


Wanita itu menangkup kedua pipi suaminya. Dengan secepat kilat Tari memberikan kecupan singkat di benda kenyal suaminya.


"I love you, suami galak," ucap Tari begitu ia menyuarakan isi hatinya.


Tubuh Tama sedikit kaku mendengar ungkapan istrinya. Ia melangkah mundur, lalu menyeru Tari untuk keluar dari ruangannya.


Wanita itu menunduk lesu, ia turun dari meja kerja suaminya dengan bahu yang luruh ke bawah. Baru saja hatinya melambung setinggi langit, kini sudah kembali jatuh ke dasar.


Kaki wanita itu melangkah menuju pintu, saat langkahnya sudah dekat dengan jalur keluar, suara Tama menghentikan gerakan tangan Tari yang hampir menekan handle pintu.


"Nanti kita pulang bersama, sekalian menjenguk Ayah," ucap Tama.


Tari mengangguk tanpa membalik badannya, ia menekan handle pintu dan menarik benda berwarna silver itu, lalu melangkah keluar.


Dosen-dosen yang berada di sekitar ruangan itu melihat Tari dengan tatapan menyelidik. Sebab poni Tari yang terlihat acak-acakan.


Telinga Tari yang masih berfungsi dengan baik dapat mendengar salah satu dosen wanita yang menceritakan dirinya.


"Katanya sih kerabatnya, Buk."


Tari mempercepat langkahnya agar tidak lagi mendengar suara-suara yang mengusik pendengarannya.


Wanita itu pergi ke fakultasnya dengan perasaan kesal. Begitu dirinya sampai di kelas, tatapan sinis langsung menyambut Tari.


Raihan dan Nadia melambaikan tangannya untuk memanggil Tari. Wanita bertubuh pendek itu berjalan mendekati kedua sahabatnya, ia sesekali menatap heran ke arah teman sekelasnya yang sangat aneh hari ini.


"Ada apa sih? Kok mereka natap gue gitu banget, kayak gue ada hutang aja," ucap Tari begitu duduk di antara Raihan dan Nadia.


"Hais, lo lagi viral tau," ujar Nadia sembari celingak-celiguk karena mata teman-teman mereka tidak henti-hentinya menatap Tari sambil berbisik.


"Viral?" tanya Tari kebingungan.


"Ayo kita keluar!" Raihan dan Nadia menarik tangan Tari.


"Eh, bentar lagi kan dosen masuk." Tari menahan tubuhnya, agar tubuhnya tidak tertarik.


"Hari ini gak jadi masuk, lihat tuh grup whatsapp! Kelas hari ini diganti pas jadwal kita kosong." Raihan memberi tahu Tari, lalu Nadia dan Raihan kembali menari Tari keluar dari kelas.

__ADS_1


Tari sudah persis seperti kambing yang ditarik oleh dua pengembala.


"Stop!!!" pekik Tari. Ia menarik tangannya.


Raihan dan Nadia membalik badan, mereka melihat wajah kesal Tari yang begitu kentara. Keduanya menghela napas secara bersamaan.


"Sebenarnya ada apa sih? Kenapa gue ditarik-tarik begini," ucap Tari dengan pipi menggembung.


"Nanti gue dan Raihan jelasin, sekarang kita ke belakang kampus. Kita bakal jelasin ke lo, Tar." Nadia menepuk bahu Tari.


Wanita berambut pendek itu pun mengikuti apa kata sahabatnya, ia berjalan di antara Raihan dan Nadia yang merangkul tubuh pendeknya.


Begitu mereka sampai di belakang kampus, Raihan membuka suaranya.


"Tar, lo lagi jadi perbincangan anak boga stambuk kita," ujar Raihan dengan wajah serius.


"Betul, Tar. Katanya lo jadi simpanan dosen," sambung Nadia.


Dahi Tari membentuk lipat-lipatan halus, ia langsung berpikir jika hubungannya dengan Pak Tama mulai tercium orang kampusnya.


"Gue yakin yang di maksud mereka si Pak Tama." Raihan menyuarakan pemikirannya.


"Tapi, kok mereka bisa tau? Em, gue sama Raihan gak berani belain lo dengan bilang kalau kalian itu suami istri, yang ada lo marah lagi sama kita." Nadia mengusap tengkuk lehernya karena merasa tak enak pada Tari.


Tari hanya bisa membuang napasnya dengan kasar, sebenarnya ia tidak keberatan jika seluruh orang kampus mengetahui statusnya yang sudah berubah menjadi seorang istri dosen berusia 35 tahun.


Hanya saja, Tama pernah memperingati Tari untuk tidak memberi tau hubungan mereka pada siapa pun, kecuali Nadia dan Raihan yang memang sudah tau.


"Tar, lo kok bengong? Are you okay?" tanya Nadia khawatir.


"Ha-ha-ha, gue gak apa tau. Tari gitu loh ...."


Tari membusungkan dadanya seraya mentoel hidungnya sendiri.


Raihan dan Nadia saling tukar pandang, dengan serentak kedua sejoli itu bergidik ngeri dengan respon Tari.


`


`


`


Bersambung ....

__ADS_1


Kehidupan kampus Tari mulai timbul masalah, apa yang akan terjadi selanjutnya?


__ADS_2