Mengejar Cinta Pak Duda

Mengejar Cinta Pak Duda
Saling Menularkan


__ADS_3

Sepasang suami istri itu kini sudah berada di kamar mereka. Tama tanpa basa-basi langsung menanyakan hal yang masih menganjal di hatinya.


"Andre siapa? Benar teman Una? Atau—"


"Hanya teman Una di sekolah." Potong Tari, menjawab pertanyaan beruntun dari sang suami.


"Apa anak itu—"


"My Lion! Tenang aja, Andre sama seperti Una polosnya. Cuma anak itu suka menganggu putri kita. Tapi tidak jahat kok." Potong Tari kembali, wanita itu sampai menepuk jidatnya.


Tama mengangguk paham. Tari membalik tubuhnya, berniat keluar dari kamar untuk menemui Una. Namun gerakan wanita itu terhenti begitu lengannya ditahan oleh sang suami.


"Tunggu! Apa kau tidak ingin mengetahui soal tadi?"


Tari kembali berhadapan dengan suaminya, wanita itu memasang wajah bingung. Melihat ekspresi sang istri, Tama merasa gemas dan dengan lancang menarik kedua pipi Tari.


"Ih sakit tau!" Wanita itu menepis tangan sang suami dari pipinya, ia mengusap pipi bulatnya dengan mata memicing tajam ke arah Tama.


Bukannya takut, pria itu malah kembali membuat istrinya semakin kesal dengan mengacak-acak rambut Tari.


"His! Kok Pak Tama sekarang nyebelin banget!" Tari menghentakkan kakinya.


"Sepertinya tertular dari mu," sahut Tama dengan enteng.


'Eh, iya juga ya.' Batin Tari.


Tama melihat sang istri terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Pria itu terkekeh pelan. "Kenapa? Benarkan apa yang ku katakan."


"A-ah mana mungkin!" cicit Tari persis seperti suara tikus.


Mata Tari mendelik ketika melihat Tama kembali ingin menjawil hidung minimalisnya. "Stop!" pekik Tari.


Melihat suaminya terdiam dan fokus ke wajahnya, Tari segera memanfaatkan kesempatan untuk mengerjai sang suami.


Dengan secepat kilat Tari membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu jari mungilnya dengan lihat menyentil Lion junior.


"Bocah sableng!!!" teriak Tama.


"HAHAHA ...." Tari kabur secepat yang ia bisa.


Namun, langkah kaki Tama yang lebih lebar mampu menyusul istrinya itu dengan mudah. Tari yang sedikit lagi menggapai hadle pintu pun harus menahan napas karena sang suami berhasil menangkapnya.


"Benar-benar kelinci nakal," geram Tama tertahan. Pria itu menarik kerah baju belakang Tari.


Tubuh Tari tertarik mundur ke belakang akibat ulah suaminya. "Ini aset berharga, jika dia kenapa-napa siapa yang akan membuat mu menjerit setiap malam huh?!"

__ADS_1


"Suami barulah," jawab Tari, sengaja membuat suaminya kesal.


Tama menggeram marah. Ia melepaskan kerah baju sang istri lalu berbalik arah berniat ke balkon kamar.


Tari menyusul suaminya yang sedang marah, ia jadi merasa bersalah dengan Tama. Ia menyusul sang suami yang sedang berdiri dengan berpegangan pada pembatas balkon.


"Marah?" Tari melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.


Tak mendapatkan jawaban dari Tama membuat Tari menjadi kelimpungan, ia menempelkan pipinya ke punggung suaminya.


"Pak Tama marah beneran ya sama Tari?" tanya Tari dengan lembut.


Namun suaminya itu masih saja betah dengan keterdiamannya. "Sorry ...." Tari mengusak wajahnya ke punggung sang suami. Sesekali ia meringis, karena keningnya yang masih terasa sakit.


"Tari sayang dan cintanya cuma sama Pak Tama. Gak mungkin Tari cari suami baru." Tangan Tari dengan nakal mengelus dad4 bidang suaminya.


Tari tersenyum senang ketika mendengar geraman Tama.


"Walaupun Pak Tama lebih tua dari Tari ... tapi Tari tetap cinta kok," ucap Tari tak sadar jika ucapannya membuat Tama geram.


Pria itu langsung membalik badannya, ia merasa ucapan istrinya itu mengatai dirinya sudah tua.


Tangan Tari terlepas dari pinggang suaminya, kini mereka saling berhadapan. Tama mengangkat dagu sang istri dengan satu jari telunjuknya.


Tama menatap lekat mata istrinya. "Maksudnya aku sudah tua hmm?" tanya Tama dengan suara yang rendah.


"Bukan tua, tapi matang." Tari menjawab dengan polos, wanita itu mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Hah ... kalau tidak memikirkan kondisi mu sekarang, sudah kutunjukkan bagaimana pria lebih tua ini menggahi mu!" Tama membuang napasnya dengan kasar.


Tari menggapai lengan suaminya, ia menggenggam kepal tangan Tama dengan lembut. Wanita itu mengangkat kepalanya untuk bisa menatap wajah sang suami.


"Pak Tama jangan marah lagi ya, Tari gak akan meninggalkan Pak Tama. Kecuali Pak Tama sendiri yang menginginkannya. Maka detik itu juga Tari akan pergi dari hidup Pak Tama." Tari meletakkan telapak tangan yang cukup kasar itu ke pipinya.


Tama dapat merasakan kelembutan kulit istrinya. Jari pria itu tergerak mengusap pipi sang istri.


"Hmm. Ayo masuk ke dalam!" Tama menarik tangan istrinya.


Tari tersenyum senang, akhirnya Tama tak lagi marah padanya. Ia melepas tangannya dari genggaman sang suami.


"Tari mau bantu-bantuk Bik Atik masak di dapur. Ini udah kesorean, sebentar lagi kita makan malam," ucap Tari, melihat ekspresi wajah suaminya membuat wanita itu buru-buru menjelaskan.


"Duduk!" seru Tama pada istrinya.


Tari mau tak mau menuruti perintah sang suami dari pada pria itu kembali marah, ia mendudukkan dirinya di lantai.

__ADS_1


"God! Bukan di lantai." Tama membuang napasnya dengan kasar. Ternyata bukan hanya tubuh istrinya yang minimalis, tapi otaknya pun sama.


"Jadi di mana?" Tari mendengakkan kepalanya, ia bertanya pada pria yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang di hadapannya.


"Di ranjang kita, kau ini benar-benar!" Tama menggendong tubuh Tari dan meletakkannya di atas ranjang.


"Kok baju Tari di buka? Kita mau itu ya?" tanya Tari dengan tersipu malu.


Tama tercengang dibuat istri mungilnya, padahal ia membuka pakaian sang istri untuk mengobati beram pada punggung Tari.


"Kau masih kurang fit, aku hanya ingin mengobati punggung dan kening mu," ucap Tama.


Tari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ooo begitu, Pak Tama so sweet banget sih. Hati Tari jadi meleleh." Tari memegangi dad4nya.


"Hei apa yang kau lakukan!"


Tama salah paham melihat perlakuan Tari, ia mengira sang istri sedang menggodanya. Sebab saat ini tubuh bagian atas Tari hanya tertutupi oleh kain pembungkus bukit minimalisnya.


"Hati Tari meleleh, Pak Tama perhatian banget," ucap wanita itu yang masih memegangi dad4 sebelah kirinya.


Tama menatap datar ke arah istrinya, ia segera pergi mengambil kotak P3K yang berada di lemari.


'Sepertinya kelolaannya juga tertular padaku.' keluh Tama dalam hati.


Entah apa lagi yang akan ditularkan Tari ke pada suaminya.


Tama kembali dengan benda persegi di tangannya. Ia segera mengobati punggung Tari dengan telaten.


"Sudah, sekarang kening mu. Sini berbalik!" seru Tama.


Tari membalik badannya, wanita itu melihat jakun sang suami yang naik turun. Tari mengikuti ke mana arah pandang suaminya. Dan tatapan Tari jatuh pada dad4nya sendiri.


Wanita itu refleks memegangi kedua asetnya. "Kenapa ya?" tanya Tari spontan.


"A-ah, kening mu mulai membiru." Tama yang tertangkap basah segera mengalihkan topik.


Tari terkikik geli, wanita yang sedang diobati oleh suaminya itu jadi ingin memberikan sesuatu yang berbeda untuk suaminya.


Otak munimalis yang sudah terkontaminasi oleh kemesuman suaminya itu mulai merangkai kata untuk nanti malam.


`


`


`

__ADS_1


Bersambung ....


Bab selanjutnya othor up pada malam hari ya🙈


__ADS_2