
Disisi lain Elsie dan Mesha yang sudah lama tidak berjumpa, mereka memutuskan untuk berbincang disebuah restoran.
"Kamu apa kabar El ? " Mesha membuka percakapan.
"Aku baik Me. Kemana saja kamu selama ini? " jawab El yang terlihat kecanggungan diantara mereka.
"Aku hanya berlibur sebentar El. Oh ya, bagaimana pernikahanmu dengan Nev? Apakah aku sudah akan punya keponakan?" tanya Mesha basa basi.
"Hhh.. Belum kok Me, doain aja ya. " El pun menjawab sedikit memanasi.
Suasana di tempat itu betul betul sangat canggung. Keakraban mereka yang terjalin selama bertahun tahun sama sekali tak nampak, macam ada jarak yang jauh antara mereka.
"Oh ya Me, aku boleh tanya sesuatu gak?" imbuh El.
"Boleh. Mau tanya apa?" untuk menghilangkan rasa gugupnya ia menyeruput coklat panas yang ia pesan tadi.
"Apakah kau dan kak Nev sudah kembali seperti dulu? Ah, maksudku kau dan kak Nev... " ucapan El menggantung di udara, sebab belum selesai ia bicara Mesha menyahuti.
"Aku dan Nev tidak ada hubungan apa apa lagi El, jadi tenang lah! " timpal Mesha.
"Tapi aku mohon jangan kau larang aku untuk berteman dengan nya. Karna mau bagaimanapun Nev pernah menjadi bagian penting dalam hidupku, dan sampai sekarang aku belum bisa melupakannya. " imbuh Mesha dengan raut wajah sendu dan air matanya yang menggenang.
Seketika El memeluk sahabatnya itu, sungguh sebenarnya ia sangat tidak tega melihat salah satu sahabat terbaiknya bersedih hati. Namun apalah daya, itu semua adalah buah dari tindakannya sendiri. Siapa yang menanam maka ia akan menuai.
"Hussshhtt... Tenanglah Mesha, aku dan Vindy akan selalu ada untukmu. Walau bagaimanapun kita bertiga adalah sahabat. Sejujurnya sampai detik ini aku belum bisa membuka hatiku sepenuhnya untuk kak Nev. " mendengar perkataan Elsie, Mesha langsung melepas pelukannya lalu menatap lekat wajah bestie nya itu.
"Apa maksudmu El? " tanya Mesha dengan ekspresi terkejut.
"Iya Me, aku masih ragu. Takut kalau kalau dihatinya masih ada namamu. Bahkan dia belum bisa bersikap hangat kepadaku. " kali ini gantian Elsie yang menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Jadi selama ini kalian belum saling mencintai? " ujar Mesha dengan sedikit antusias.
"Iya. " jawab Elsie singkat. Yang kemudian disambut pelukan lagi oleh Mesha.
' Tanpa kau jelaskan pun, aku sudah sangat yakin bahwa Nev masih mencintaiku. Dan aku pastikan hati Nevile hanya untukku. Kau hanya perebut Elsie, jangan pernah berharap lebih. ' suara hati Mesha yang menunjukkan bahwa sikap baiknya ternyata hanya kepalsuan saja.
"Maafkan aku Elsie, gara gara aku kau jadi terseret dalam kisah yang rumit ini. " ucap Mesha yang masih memeluk Elsie, sebagai tanda bahwa ia peduli pada sahabatnya itu.
"Tidak Me, ini semua bukan salahmu. Sebenarnya bisa saja aku menolak perjodohan itu. Namun aku memilih menyetujui nya, hanya demi orang tua ku yang meminta. Sebab itu aku enggan menolak. " tutur El sembari melepas pelukan mereka.
"Jadi ini semua sudah menjadi konsekuensinya bagiku. Menikahi pria yang tidak mencintaiku, begitupun sebaliknya. Apakah sejujurnya kau masih mencintai Kak Nev Me? " rasa penasaran Elsie tidak bisa dibendung lagi.
"IYA !!!! " Jawab Mesha dengan tegas.
"Betulkah itu cinta atau sebuah obsesi? " El mencoba menelisik kejujuran sahabatnya itu.
"Baiklah aku mengerti, kalau seandainya kak Nev memberimu kesempatan. Apakah kamu mau berubah menjadi perempuan yang baik untuknya dan meninggalkan kebiasaan burukmu? " El bertanya.
"Kalau itu memang terjadi, aku akan berusaha sebaik mungkin. " tutur Mesha.
"Tapi... Sepertinya akan sulit, apalagi dengan adanya status kalian. " ucap Mesha kembali. ibarat kata nieh ya, Mesha itu sudah dikasih hati malah minta nyawa.
Elsie yang mengerti maksud Mesha pun sejenak berfikir.
"Kalau memang di hati kak Nev masih ada kamu. Maka dengan senang hati aku akan mundur Me, sebab perasaan seseorang tidak dapat dipaksakan bukan? " ujar El dengan sangat yakin.
"Trimakasih Elsie... Kau memang sahabat terbaikku. " Mesha menggenggam erat tangan Elsie. Selanjutnya mereka berbincang bincang ringan, sekedar untuk melepas rindu masing - masing.
Sementara itu Nev dan Riko sedang berada disuatu tempat, nampak sekali seperti sebuah gedung terbengkalai yang sudah lama tidak berpenghuni. Bahkan dari luar saja terkesan sangat angker.
__ADS_1
Namun begitu masuk kedalam, kondisinya sangat berbanding terbalik. Terdapat ruangan yang sangat canggih dan mewah. Banyak sekali komputer komputer canggih dan mahal yang dilengkapi dengan pengamanan ketat oleh orang - orang berbadan kekar.
"Richard... " panggil Nev dari arah pintu masuk. Para pengawal yang sedang disitu pun menoleh ke arah sumber suara.
"Dimana bos kalian? " tanya Nev dengan suara dingin nya.
"Selamat datang tuan muda. " mereka semua menundukkan badan untuk memberi hormat pada Nev.
"Bos Richard sedang berada di ruangan nya tuan. Mari saya antar! " salah satu diantara mereka mempersilahkan Nev dan Riko.
"Richard! " panggil Nev kembali setelah berada diruangan Richard sahabatnya sekaligus salah satu orang kepercayaannya.
"Hai brother.. How are you? " sahut Richard.
•
•
•
•
•
•
•
Terimakasih temen temen udah mapir di novel pertama mamayo. Minta dukungannya ya buat klik like, coment, dan jangan lupa tap love 💙 untuk menambahkan ke rak favorit kalian. See you next episode.
__ADS_1