
"Begini kak, e.. Aku mau minta tolong. Bisa gak kak Nev bantuin Elsie buat nyariin pengacara terbagus dikota ini. "
Elsie tidak langsung to the point, takut Nev menolaknya.
"Pengacara??? " Nev menautkan alisnya, lantaran ia kaget mendengar perkataan istrinya barusan.
"Untuk apa cari pengacara El? " tanya Nev penasaran.
"Gini kak, aku mau bantu Me. Biar dia bisa lekas keluar, atau minimal memperingan masa hukumannya. "
"Bukankah dia sudah punya pengacara? Lalu untuk apa kau mencari lagi? "
"Iya kak, namun aku ingin membantunya. Agar kasusnya lekas selesai. Jujur aku gak tega sama Mesha, walau bagaimanapun dia tetap sahabat ku kak. Gak ada orang yang ingin melihat sahabatnya menderitakan? " jelas El panjang lebar.
"Aku tau istriku ini orang yang baik , bahkan kau selalu mementingkan orang lain dulu sebelum dirimu. Tapi kau juga harus tau El, bahwa setiap perbuatan akan menuai akibat. " tutur Nev perlahan menjelaskan.
"Mungkin yang sedang dijalani Mesha saat ini, adalah buah dari perbuatannya dimasa lalu. Jadi biarkan dia merasakan akibat dari perbuatannya sebagai bentuk pelajaran dimasa depannya nanti. "
"Maaf, bukannya aku gak mau bantu. Tapi alangkah lebih baiknya kau mempertimbangkan perkataanku tadi El. Ini semua juga demi kebaikan Mesha kedepannya. " pungkas Nev.
Setelah mendengar jawaban dari suaminya, kini raut wajah Elsie berubah sendu. Ia benar benar merasa gagal sebagai seorang sahabat.
Namun Nev tetaplah Nev. Dia tidak ingin apa yang sudah ia rencanakan jauh jauh hari sia sia begitu saja. Bahkan dia sendiri yang merencanakan penangkapan Mesha, apa iya dia juga yang harus membebaskannya?
Nev terus saja berfikir dan menimbang, sebab sebenarnya ia tak tega melihat raut wajah istrinya menjadi sendu.
*Rumah Vindy (pagi hari) *
Cahaya mentari pagi menerobos disela sela horden yang tak tertutup rapat. Hal itu membuat seorang gadis menggeliat hingga terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Vindy melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 05:30 waktu setempat. Tanpa komando, ia langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Sebab ia akan segera berangkat bekerja seperti biasanya.
Setelah selesai dengan mandinya, terdengar suara dering handphonenya menggema diruangan itu. Dengan cepat ia menyambar benda pipih itu lalu mengangkat panggilan yang terus berdering.
"Halo.. " jawabnya saat mengangkat panggilan.
"Iya betul. Dengan siapa ini? "
"Niven? " sejenak Vindy berfikir.
"Oh... Ya aku baru ingat. Tapi dari mana Niven tau nomerku? "
" Astaga kenapa aku gak kepikiran kalau kau akan melakukan hal itu. "
Ternyata saat Niven beralasan akan menelfon ibunya itu, ia malah menelfone nomernya sendiri. Dari situlah Niv memiliki nomer Vindy.
Setelah usai berbicara dengan Niv, Vindy bergegas berangkat ke kantor.
"Elsie tolong bantu aku. " ucap Nev yang terlihat kesusahan memasangkan dasi pada kemejanya.
Sedangkan El langsung melangkahkan kakinya ke arah Nev. Istri Nev itu terlihat fokus memasang dasi, tanpa disadarinya Nev terus saja memandangi El. Hingga terpancar senyuman dibibirnya.
"Sudah selesai kak. " tutur El lalu menatap kewajah suaminya yang ternyata sedang menatapnya. Seketika wajah Elsie merona, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
Saat El hendak pergi tiba tiba saja tangannya ditarik Nev, dan itu membuat Elsie jatuh kepelukan Nev.
Pandangan mereka bertemu dan terpaku sesaat. Jantung Elsie berderu macam tentara akan perang. Ia bisa merasakan hangatnya nafas Nev yang menyentuh kulitnya langsung.
Karna tak ingin mendapat serangan jantung, Elsie mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Nev. Namun Nev semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
' Mengapa aku baru menyadari, kalau dia sangat menggemaskan. ' gumam Nev dalam hati sambil terus menatap istri cantiknya itu.
"Emm.. Kak Nev, ini udah siang. Takut telat kekantor lho. " ucap Elsie gugup.
"Kau lupa, kalau aku ini pemilik perusahaan. Jadi mau berangkat jam berapapun tidak masalahkan? " kata Nev sedikit menyombong.
"Ya ya.. Baiklah, tapi tolong lepaskan aku kak. Ini terlalu sesak, aku jadi sulit bernafas. "
"Baiklah. " Nev melepas pelukannya lalu Cup.
Nev menc**m sekilas bibir Elsie. Lalu pergi meninggalkan Elsie yang masih mematung karna syok.
Wajahnya terasa panas, pipinya merona, jatungnya sudah ingin lepas rasanya.
' Ini tadi apa? Kak Nev menciumku, apakah aku sedang bermimpi. ' Elsie berkata dalam hati sambil memegangi bibirnya, dengan wajah yang terus berbinar.
•
•
•
•
•
•
•
__ADS_1
Terimakasih temen temen udah mapir di novel pertama mamayo. Minta dukungannya ya buat klik like, coment, dan jangan lupa tap love 💙 untuk menambahkan ke rak favorit kalian. See you next episode.