
Pagi hari menyambut, Elsie terbangun sebab ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Ia mengerjapkan matanya, samar samar El melihat jam dinding yang terpasang ditembok kamarnya.
"Hah, jam setengah tujuh pagi?? " El merasa kaget saat melihat jam.
"Mampus.. Kesiangan nih aku, gak sempet buatin sarapan kak Nev dong. "
Elsie membuka selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Lalu ia baru tersadar jika tubuhnya saat ini masih p*l*s.
'Astaga... Jadi semalaman aku tertidur dalam kondisi begini? Kok bisa seh. '
El heran dan berguman sendiri saat melihat kondisi nya saat ini.
Perlahan lahan ia menggerakkan tubuhnya, namun yang terjadi...
"Aduh duh duh... Kenapa yang dibawah sana terasa sakit banget yak? Badanku juga rasanya remuk semua, tulang tulangku kayak patah semua ini. "
Elsie terus saja sibuk merasakan tubuhnya yang remuk redam. Hingga Nev usai dari kegiatan mandinya.
"Pagi sayangku.. " Nev yang baru saja keluar dari kamar mandi justru membuat Elsie terbuai. Bukannya menjawab sapaan suaminya, ia malah melotot melihat tubuh s*sp*k suaminya. Ditambah rambut Nev yang masih setengah basah membuat penampilannya semakin s*ksi.
Nev yang merasa tegurannya tak terbalas, sontak saja mengalihkan pandangannya kearah Elsie.
"Ada apa sayang? Apakah kau menginginkannya lagi. " goda Nev dengan kerlingan matanya.
Elsie yang merasa dirinya tertangkap basah, seketika menjadi gugup.
"Eh, em.. Eng enggak kok kak, eh sayang. Hehe.. "
"Mengapa kau jadi malu malu begini sayang? " ujar Nev sambil berjalan mendekati Elsie.
Seketika El jadi salah tingkah, namun Nev terus saja memangkas jarak antara mereka.
"Kak, kak Nev mau ngapain? Kak, aku mohon, saat ini tubuhku emmhh.. "
Belum selesai El melanjut perkataan nya, tiba tiba saja Nev sudah menyergap b*b*r ranum Elsie.
Awalnya hanya c**man biasa, namun karna Nev sudah terlanjur candu dengan b*b*r istrinya itu, lama lama ia pun menyes*pnya.
Perlahan tapi pasti, dan Elsi pun jadi terbuai akan permainan suaminya itu. Yang awal posisi nya duduk, kini tenaganya tak mampu menopang tubuhnya yang sudah menggelora.
Brugh..
Elsie terhuyung kebelakang dengan posisi Nev berada diatasnya, tanpa melepas pag*tan mereka.
Secepat kilat Nev membuka selimut tebal yang sedari tadi masih menutupi tubuh p*l*s istrinya itu.
Sementara b*b*r mereka masih saling meny*s*p, tangan Nev sudah mengeksplore bagian t*b*h lainnya.
Tanpa disadari, r*nt*han nikmat lolos begitu saja dari b*b*r Elsie.
Setelah puas bermain main dengan seluruh t*b*h El, Nev segera mengarahkan keris saktinya yang sedari tadi hanya tertutup handuk untuk menancapkan pada tempat yang seharusnya.
Dan sleeph..
"Ahhh.. Ssshh.. " Elsie merasa masih sangat sesak, dan Nev dengan perlahan menggerakkannya.
Saat keduanya telah mencapai puncak, seketika tubuh Nev ambruk disamping Elsie.
Dan akhirnya hari itu, Nev memutuskan untuk bekerja dari rumah. Ia tidak pergi ke kantor, sebab ingin menemani istrinya yang sudah tergulai lemas.
Kantor ALE Groub (pagi hari)
Ansen yang memang sudah kembali dari Belanda, kini ia sudah mulai bekerja dikantornya.
__ADS_1
"Riska, apa saja jadwalku hari ini? " tanya Ansen kepada sekertarisnya yang bernama Riska.
"Hari ini hanya ada pertemuan dengan klien kita yang dari Bali tuan. Selebihnya tidak ada agenda keluar kantor. " jawab Riska menjelaskan.
"Baiklah, segera persiapkan pertemuannya. Karna setelah itu aku akan keluar sebentar. "
"Tapi klien kita meminta agar pertemuannya dilaksanakan diluar kantor tuan. " ucap Riska.
"Baiklah, persiapkan semuanya. Sepuluh menit lagi kita berangkat. " sahut Ansen.
Apartment Nev
Elsie yang baru saja selesai beberes apartmentnya, tiba tiba mendengar suara notifikasi dari handphone yang ia letak dimeja makan.
Perlahan ia mengambil benda pipih itu lalu melihat pesan yang masuk.
"Kak Nev, iih kok jadi manja gini sih dia. Kan akunya jadi baper. Hihihi"
"Oke deh, aku masak dulu. Habis itu baru anterin kekantor kak Nev. " ucapnya lalu ia menuju dapur untuk memasak makan siang, yang nanti akan dianter kekantor suaminya atas permintaan Nev.
Setelah beberapa menit ia selesai memasak, lalu dengan sigap Elsie bersiap untuk pergi kekantor suaminya.
Saat dijalan Elsie menerima telfon dari Nev. Dengan hati hati ia memasangkan earphone ditelinganya, sebab saat ini ia sedang menyetir sendiri.
"Halo sayang, ada apa? " kata El setelah menerima panggilan itu.
"Iya sayang, ini aku lagi dijalan. "
"Baiklah, sampai ketemu. "
Setelah menerima telfon dari Nev, Elsie terus menjalankan mobilnya melewati padatnya jalanan ibukota. Disepanjang jalan senyum Elsie selalu terpancar.
Ia sama sekali tak menyangka bahwa hubungannya dengan Nev akan membaik secepat ini. Bahkan ia sudah menyerahkan hal yang paling berharga untuk suaminya itu.
Harapan demi harapan terus ia panjatkan, agar kedepannya hubungan mereka semakin membaik dan terus dapat bersama sampai maut memisahkan.
"Riko, bawa semua berkas ini. Serahkan kebagian pemasaran, dan beri tahu bagian resepsionis kalau Elsie datang, suruh antar keruanganku. " titah Nev kepada Riko sang asisten.
"Baik tuan muda. Saya permisi. " Riko sedikit menundukkan badannya, lalu berlalu dari ruangan sang penguasa Nixon Grub.
Tak berselang lama setelah kepergian Riko, suara pintu ruangan Nev diketuk dari luar.
Tok, tok, tok..
"Masuk. " sahut Nev. Kemudian pintu terbuka, lalu seorang perempuan mempersilahkan Elsie masuk.
"Silahkan masuk nyonya muda. " kata karyawan itu.
"Terimakasih mbak. " ucap Elsie sopan. Lalu ia menghampiri suaminya yang sedang duduk dikursi kebesarannya.
"Sayang, sudah waktunya makan siang. Ini aku bawain makanan kesukaanmu. Kita makan dulu yuk. " ajak Elsie pada Nev.
"Iya sayangku. " Nev menjawab dengan tersenyum, lalu berdiri meraih pinggang Elsie dan menggandengnya menuju kursi sofa yang terletak diruangan itu.
Setelah selesai makan siang, Elsie berpamitan kepada Nev. Bahwa ia akan pulang.
"Apa kau tidak ingin menemaniku disini sayang? " tanya Nev yang seolah tak rela jika istri cantiknya itu pergi.
"Yang bener aja sih kak, nanti kakak jadi gak fokus dong kerjanya. Hhh.. "
"Tidak usah khawatir sayang, ada ruangan khusus disini. Jadi kita bisa bebas melakukannya. Hahahh.. "
Begitu mendengar ucapan suaminya tadi, wajah El seketika merona. Ia menahan malu, kala teringat permainan panas itu bersama sang suami.
Setelah puas menggoda istri tercintanya, Nev pun akhirnya mengantarkan Elsie sampai dilobby. Banyak pasang mata karyawan nya yang iri melihat kemesraan big bos mereka.
__ADS_1
Saat dijalan, tiba tiba Elsie mendapat telfon dari seseorang.
"Halo Sena, apa kabar? " El terlihat sangat antusias, sebab ternyata Sena temannya yang menelfon.
"Aku lagi dijalan ini. "
"Oh ya? kapan kamu kembali kesini?
"Baiklah, kita bertemu dimana? "
"Oke, share lok aja kalau gitu ya. Bye.. "
Setelah menerima telfon dari Sena, Elsie mengarahkan mobil yang ia kendarai menuju lokasi yang sudah ditentukan Sena, tepatnya disalah satu cafe terkenal dikota itu.
Cafe Pelangi
Setelah menunggu beberapa saat, Elsie yang lebih dulu sampai, akhirnya duduk berhadapan dengan Sena.
"Pesen apa Sen? " tanya Elsie santai.
"Aku capucino aja deh El. "
Kemudian Elsie memanggil waiters untuk memesan menu yang mereka pilih tadi.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, El dan Sena berbincang ringan. Tidak ada yang berubah, masih seperti biasanya. El menganggap Sena sudah seperti Vindy dan Mesha.
"El, weekend kita jalan yok. Bosen nih kerja mulu, otak ku rasa rasanya udah mau mledak aja ini. " Sena berkata senatural mungkin, dan mendengar hal itu membuat Elsie tertawa.
"Hahahhaa.. Kesian banget cih sahabatku ini, mangkanya cari pacar napa, biar gak sendiri teroos. Heheh.. " tutur Elsie menanggapi curhatan temennya itu.
"Ya kalo ada yang mau sih kagak apa apa El, hehehe.. Coba aja kamu belum punya suami, udah pasti kamu yang kupacarin El. Hihi.. "
Sena sengaja mancing Elsie, karna ingin tau responnya.
Plakk.. Elsie tertawa sambil memukul pundak Sena.
"Haha.. Ada ada aja sih Sen, jangan ngadi ngadi deh. "
Tiba tiba saja Sena teringat sesuatu.
"Eh, El gimana kabarnya suamimu. Waktu itu kan dia sempet marah marahkan sama kamu, yang pas kita masih di Amsterdam itu. Terus, kenapa besokkannya kamu malah langsung ikut balik ke sini? "
Sena pelan pelan mulai mencari tau.
Dan Elsie pun akhirnya menceritakan semuanya pada Sena. Bahkan ia mengatakan hubungannya dengan Nev suaminya sudah membaik.
"Jadi gitu Sen ceritanya, dan gak tau kenapa setiap aku ketemu atau didekat kak Nev bawaannya jadi senam jantung sendiri. Aneh kan, hihihii.. "
Mendengar cerita Elsie malah membuat emosi Sena memuncak, tanpa diketahui Elsie, tangannya yang dibawah meja mengepal kuat.
'Br*ngs*k,, jadi mereka berdua ini udah berhubungan baik sekarang. Aku gak akan diem aja, kita lihat apa nanti yang akan terjadi.. ' seringai licik muncul dari sudut bibirnya.
Setelah puas berbincang, mereka kembali. Dan Elsie kembali pada pekerjaan rumahnya.
•
•
•
•
•
•
__ADS_1
•
Terimakasih temen temen udah mapir di novel pertama mamayo. Minta dukungannya ya buat klik like, coment, dan jangan lupa tap love 💙 untuk menambahkan ke rak favorit kalian. See you next episode.