
Pagi itu Nev dan El sudah siap untuk berangkat. Penerbangan mereka menggunakan jet pribadi milik keluarga Nixon.
Keberangkatan Nev dan El diantar oleh mama Ren, kedua orang tua El dan Alena.
Sedangkan papa Agam harus stay dikantor, sebab saat ini Niven sudah mulai beraktifitas dikantor. Agam ingin, agar dirinya sendiri yang melatih dan mengajari putra bungsunya itu.
Ia memiliki harapan yang besar, bahwa suatu saat nanti kedua putranya akan bisa mengembangkan kerajaan bisnis nya lebih besar lagi.
Saat hendak memasuki pesawat mereka berpamitan dengan keluarganya.
Dan perjalanan mereka ditempuh kurang lebih hanya 4 jam saja.
Sebab pesawat mereka tidak memerlukan transit. Dan setibanya disana, ternyata sudah ada beberapa orang yang menjemput.
Mereka adalah staf bagian keamanan di Nixon Grub. Agam sengaja menyuruh orang orangnya itu untuk berangkat terlebih dahulu, agar nanti ketika Nev sampai semuanya sudah siap.
Hotel MER
"Wauw... Pemandangan nya sangat indah sayang. " pandangan mata Elsie tak henti henti nya mengagumi keindahan alam yang terhampar di sekitar hotel.
"Are you happy? " tanya Nev sambil memeluk El dari belakang.
"Yas,, I'm happy. Kita jalan jalan yuk yang. " ajak El antusias.
"Boleh, tapi besok aja sayang kuh. Hari ini aku capek sekali... Jadi kau harus menemaniku disini. Hehehe.. " rayuan maut Nev tanda tak menerima penolakan.
Elsie yang tau akan gelagat suaminya, hanya bisa memutar mata malas.
Dan terjadilah hari pertama di Raja Ampat, hanya mereka lalui dengan bertempur dikamar hotel saja.
Malam hari sebelum mereka terlelap, mereka merencanakan untuk melihat sunrise. Jadi pagi ini sengaja bangun pagi agar bisa melihat Sunrise bersama.
Elsie benar benar antusias, ia menikmati suasana pagi hari dengan nyaman.
Tak jarang mereka mengambil foto bersama,Nev sangat senang mengarahkan El untuk berpose dengan beberapa gaya.
Gambar kemesraan mereka lalu di upload ke media sosial masing masing.
Hal itu membuat seseorang di sebrang sana merasa geram.
Ruangan Presdir ALE Groub
"S*al.! " Ansen membanting handphone yang ada digenggamannya hingga pecah.
"Ini gak bisa terus dibiarkan, kalau aku gak segera bertindak, hubungan mereka akan semakin dekat. Dan itu sangat tidak menguntungkan ku. "
Ansen berucap sambil menahan emosi yang meluap luap dihatinya.
Ia langsung menghubungi seseorang melalui sambungan telfon.
"Hallo. " ucap Ansen saat sambungan telfon terhubung.
"Kalian semua bersiaplah, kita akan berangkat kesana hari ini juga. Kita harus segera menyelesaikan ini semua. Aku tunggu kalian dibandara sore ini juga. "
Perintah Ansen kepada anak buahnya disebrang telfon sana.
...*********...
Ansen dan beberapa bodyguard serta detektif sewaannya, sudah tiba dibandara.
__ADS_1
Mereka berencana akan menyusul Nev dan El ke Raja Ampat. Ansen benar benar tidak akan memberikan kesempatan pada Nev dan El untuk honeymoon dengan bahagia.
Sepertinya kali ini Ansen sudah sangat mempersiapkan rencana nya. Entah apa yang sedang ia rencanakan kali ini.
Yang terlihat dari raut wajahnya hanyalah kebencian dan dendam. Untuk menuju kesana, Ansen dan rombongannya menggunakan pesawat komersil.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya rombongan Ansen tiba di tujuan. Ia sengaja menyewa kamar di hotel yang sama dengan yang ditempati Nev serta istrinya.
Mereka menyamar seperti turis turis pada umumnya. Ansen yang memang memiliki wajah bak oppa korea pun, dimanfaatkan nya untuk menyamar menjadi touris yang berasal dari negri gingseng itu.
Mereka mengawasi setiap gerak gerik El dan Nev dalam segala situasi.
Sedangkan dikamar Nev dan El, mereka baru saja selesai dengan aktivitas panasnya. Elsie nampak sekali kelelahan, entah sudah berapa kali suaminya itu meminta jatah padanya.
Sejak hari pertama mereka berlibur, Nev akan selalu meminta jatahnya pada El bila ada kesempatan.
Tiga hari sudah mereka lalui bersama diRaja Ampat. Dan rencananya malam ini Nev akan memberikan surprise buat El.
Nev akan menyiapkan makan malam yang super romantis. Sejak siang Nev sudah berpamitan dengan Elsie, bahwa ia akan keluar untuk mempersiapkan kejutan untuknya.
Nev menyuruh istrinya itu agar bersiap dan berdandan secantik mungkin, karna nanti akan ada orang yang menjemput nya.
"Kira kira kak Nev mau ngajakin kemana yak? Kok aku disiapin gaun yang cantik begini. Apa jangan jangan mau ngajakin dinner lagi? "
Elsie terus saja bermonolog sendiri, sambil merias wajahnya didepan cermin.
Setelah usai ia berdandan dan mengenakan gaun yang sudah disiapkan Nev untuknya. Ia segera keluar kamar hotel, dan didepan kamarnya sudah ada beberapa orang berjas hitam menunggu Elsie dengan setianya.
El mengikuti orang orang tersebut, sesuai clue dari Nev. Namun saat dijalan, El mendapat pesan bahwa Nev saat ini sedang dalam bahaya.
Karna saking paniknya, El tidak pikir panjang lagi. Ia segera memberi perintah kepada bodyguard yang dikirim Nev untuk menjemputnya tadi, agar menuju pada lokasi yang sudah diberikan oleh seseorang yang sudah mengirimnya pesan.
Saat sudah berada di lokasi, mereka melihat situasi yang sangat mencekam.
Suasananya sangat gelap, lingkungan nya pun sepi sekali. Hanya sayup sayup terdengar suara binatang binatang kecil dan suara burung hantu, yang justru itu membuat suasana malam itu semakin mengerikan.
"Nyonya muda, sebaiknya kita kembali saja. Sepertinya tuan muda tidak ada di sini. " ucap salah satu pengawal yang duduk disamping supir.
Saat ini mereka belum ada yang berani turun dari mobil. Melihat kondisinya yang menakutkan, para pengawal El pun membujuk nyonya muda nya agar mau pergi dari tempat itu.
"Tapi aku yakin, suamiku ada didalam sana. Ayo cepat tolong kak Nev... Aku mohon... Hiks.. Hiks.. Hiks... " El terus saja meronta dan menghawatirkan keadaan suaminya, lalu tak terasa air matanya pun jatuh.
"Baiklah nyonya, tapi saya mohon nyonya tetap berada didalam mobil. Apapun yang terjadi, nyonya jangan keluar dari dalam mobil ya. " ucap pengawal itu penuh dengan wanti wanti.
"Hem! " El menjawab dengan anggukan kepala.
Dengan perlahan dua orang pengawal yang duduk di kursi sopir dan penumpang depan, turun dari mobil. Mereka mempersiapkan segala macam senjata yang memang selalu mereka bawa kemana mana.
Elsie tidak berani menelfon polisi atau meminta bantuan, sebab ia mendapat ancaman akan terjadi sesuatu terhadap Nev. Bila ia tetap nekat melakukannya.
Dua pengawal itu melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam bangunan secara diam diam.
Namun baru beberapa langkah, dua pengawal itu sudah dilumpuhkan oleh segerombolan orang orang yang tak dikenal.
Elsie yang melihat kejadian itu, sontak saja menjadi ketakutan. Sejak dua pengawalnya keluar dari mobil, ia yang tinggal sendiri didalam sudah mengunci rapat pintu mobil.
"Ya Tuhan, ada apa dengan mereka? Dan siapa orang orang itu? " saat ini El benar benar merasa ketakutan, tubuhnya bergetar melihat dua pengawal yang bersamanya tadi, kini tergeletak dilantai dengan dar*h yang terus mengalir dari tubuh mereka, akibat luka tusukan.
"Buka.. " tok, tok, tok...
__ADS_1
Preman preman itu mengetuk kaca mobil dengan sangat kasar.
"Aduh... Bagaimana ini, aku gak bisa beladiri lagi. Aku takut banget... Kak Nev tolongin aku.. Hiks.. Hiks.. " air mata El jatuh semakin deras.
"Bukak..! Cepat buka atau saya pecah kacanya." preman itu terus saja menggedor kaca mobil.
Saat salah satu diantara mereka mencoba mengarahkan p*st*l ke kaca mobil, dan hendak menarik pelatuknya. Tiba tiba saja ada seorang lelaki yang menghalanginya.
Pria itu menoleh kearah Elsie, seketika ia sangat terkejut melihat siapa yang berdiri melindunginya, pikirnya El sih seperti itu.
"Sena! " El menatap pria yang menolongnya itu dari balik kaca mobil yang masih tertutup rapat.
Ansen memberi isyarat pada Elsie agar dia keluar dari mobil. Saat tau bahwa situasinya sudah dapat dikendalikan temannya itu, El dengan penuh keyakinan keluar dari dalam mobil.
Namun ia merasa ada yang aneh disitu, mengapa semua orang nampak dengan mudah tunduk dengan Sena (Ansen). Karna keadaan yang mendesak dan waktu yang cepat, sehingga Elsie tak dapat berfikir secara jernih.
Dengan modal kepercayaannya pada Sena temannya itu, ia mengikuti langkah Sena untuk menjauh dari tempat itu.
Saat ini mereka berdua sudah masuk kedalam mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi tadi.
"Huh huh huh... " nafas El terus menderu tak beraturan. Karna terus berlari dan rasa ketakutan yang amat besar.
"Minum dulu El. " Sena menyodorkan sebotol air mineral kepada Elsie.
El meraihnya, namun sebelum Elsie meminumnya ia baru terfikir akan pertanyaan yang sedari tadi bersarang dibenak nya.
"Sena, kenapa kamu bisa ada disini? " tanya El yang penuh dengan rasa penasaran.
Mendengar pertanyaan El barusan membuat Sena sedikit kaget. Ia juga tak terpikir akan ada pertanyaan seperti itu.
Sebab ia terpaksa muncul dihadapan Elsie dan menghadang preman yang akan menembak kaca mobil, itu semua karna rasa sukanya terhadap El membuatnya tak ingin melihat Elsie terluka.
Dengan sedikit gugup Sena menjawab.
"A aku berlibur disini El. Emm... Sudah lah minum saja dulu, nanti aku ceritakan semuanya. " ujar Sena dengan sedikit memaksa El untuk minum terlebih dahulu.
Perlahan El mulai meminum air mineral yang diberikan oleh Sena tadi. Setengah botol sudah habis ia teguk, saking lelahnya ia berlari membuat rasa haus ditenggorokan nya semakin dalam.
"Ahh... Terimakasih Sena. " ucap Elsie saat selesai minum, sambil menutup kembali botol itu.
"Sama sama El. " jawab Sena singkat.
Akan tetapi setelah itu, El merasakan pusing yang sangat hebat dikepala nya.
"Auwh.. Kenapa kepalaku mendadak pusing seperti ini? " ia terus saja memegangi kepalanya yang dirasa sangat pusing.
Beberapa detik kemudian Elsie tak sadarkan diri.
•
•
•
•
•
•
__ADS_1
•
Terimakasih temen temen udah mapir di novel pertama mamayo. Minta dukungannya ya buat klik like, coment, dan jangan lupa tap love 💙 untuk menambahkan ke rak favorit kalian. See you next episode.