MENIKAHI CALON SUAMI SAHABATKU

MENIKAHI CALON SUAMI SAHABATKU
BAB 51 TERLUKA


__ADS_3

Kemudian dari belakang Nev memukul Ansen hingga ia terjatuh. Senjata yang ia pegang terlepas, dan Elsie pun dapat berlari dengan digandeng oleh Nev.


Dengan cepat Ansen menyadarinya, lalu ia segera menyambar senjata yang terjatuh tadi. Ansen mengarahkan p*st*l itu kearah Nev dan Elsie yang sedang berlari menjauhinya. Tak lama terdengar suara.


Doorrr...


"Ratna... " teriak Agam dari bibir pintu.


Nev dan Elsie yang saat itu berlari, seketika menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang.


Ansen yang masih memegang senjata api itu, tiba menjadi lemas. Tubuhnya ambruk terduduk dilantai.


Air mata nya tiba tiba saja terjatuh, pandangannya kosong. Seolah olah ia enggan menggerakkan anggota tubuhnya.


Sedangkan semua orang segera mendekati Ratna yang tergeletak dilantai dengan tubuh yang bersimbah d*r*h.


"Pa, ayo segera kita bawa tante Ratna ke rumah sakit. " tutur Niv sambil hendak menggendong tubuh Ratna.


"Iya, ayo Niv. Bantu papa bawa tante Ratna ke mobil. " titah Agam.


Akhirnya mereka semua meninggalkan Ansen seorang diri diruangan itu. Sedangkan anak buah Ansen sudah banyak yang tumbang waktu melawan Agam dan komplotannya didepan tadi.


Rumah Sakit


"Suster, suster.. " Panggil Niv sembari menggendong Ratna. Dan disusul semuanya dari belakang.


Terlihat dari jauh tiga orang perawat mendorong brankar ke arah mereka.


"Suster tolong tante saya, dia terluka tembakan. " ucap Niven gugup.


"Baik tuan, letakkan disini. "


Dengan cepat mereka membawa tubuh Ratna ke ruang Instalasi Gawat Darurat.


"Mohon maaf, semuanya tunggu disini. Dan dimohon segera urus pendaftaran serta administrasi pasien. " ucap salah satu perawat itu.


"Baik sus, tolong berikan perawatan yang terbaik buat beliau. " sahut Agam.


"Pasti tuan, tolong bantu doanya. Saya tutup dulu. "


Perawat itu masuk kedalam ruangan lalu mereka segera melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan timah yang bersarang ditubuh Ratna.


Saat operasi tengah berjalan, tiba tiba saja Ansen datang kerumah sakit. Ia masih terlihat syok, pandangan matanya masih kosong.


Perlahan ia mendekati pintu ruang operasi, lalu dibelainya pintu itu. Sangat terlihat raut wajah penyesalan darinya.


Kemudian dia terduduk dilantai lalu menangis tersedu sedu. Semua orang yang sedang menunggu operasi Ratna pun merasa iba dengan Ansen.


Dengan langkah perlahan Agam mendekati Ansen yang masih duduk dilantai sambil terisak tangis.


"Putraku. " kata Agam untuk pertama kali menyapanya.


"Aku sama sekali tidak pantas menjadi anak siapapun. " jawab Ansen dingin.


"Maafkan papa nak. Maafkan semua kesalahan papa. Ampuni papamu ini yang sudah menelantarkan kalian. Maaf, hiks hiks hiks... " Agam sudah tak tahan lagi menahan kesedihan dihatinya, semenjak pengakuan Ratna tadi siang mengenai Ansen.


Agam bersimpuh disamping Ansen sambil terus mengeluarkan air mata, sambil melontarkan kata maaf dari bibirnya.


Ansen tak memberi respon pada setiap ucapan Agam. Malah dia pergi dari situ meninggalkan Agam yang masih bersimpuh, dan semua yang ada disitu menatap nanar kepergian Ansen.


Nev maju, meraih tubuh papa nya. Lalu ia tuntun untuk duduk dikursi yang disediakan rumah sakit itu.


Elsie ikut mendekati sang papa mertua, dia menenangkan papa mertuanya itu.

__ADS_1


Nev beralih ke Niven, ia menarik Niv menjauhi mereka semua.


"Niv, katakan padaku. Apa maksud dari perkataan papa tadi? " Nev merasa bingung dengan ucapan papanya tadi.


Karna tentang kisah Agam dan Ratna hingga menghasilkan Ansen, hanya Nev yang belum mengetahui semuanya.


"Jadi gini kak, tante Ratna itu dulunya kekasihnya papa dari semenjak mereka masih kuliah. Sebenernya papa sama tante Ratna mau nikah kak, tapi gak disetujuin sama oma opa. "


"Akhirnya, mereka melakukan hubungan terlarang. Agar mendapat restu dari oma opa, namun ternyata oma sakit. Jadi mau tak mau papa menerima perjodohannya sama mama "


"Setelah papa nikah sama mama, ternyata tante Ratna baru tau kalau dia itu tengah hamil Ansen. Yah, terpaksa tante Ratna membesarkan Ansen tanpa papa tau kebenarannya. Begitu ceritanya kak.. "


Niven menceritakan semuanya kepada Nev, saat semua orang terlarut akan kesedihannya. Tiba tiba pintu ruang operasi terbuka.


Terlihat dokter keluar dari ruang operasi sambil membuka masker yang menutupi wajahnya.


" Keluarga nyonya Ratna." kata dokter itu.


"Iya dok, kami kerabatnya. " ucap Agam yang saat itu berada tepat didepan pintu.


"Dimana suami nyonya Ratna? " tanya dokter itu lagi. Namun semua orang hanya terdiam.


"Emm,, suaminya tidak dok. " jawab Agam singkat.


"Owh.. Kalau begitu saya butuh perwakilan, untuk membicarakan tentang kondisi nyonya Ratna. " sahut dokter itu.


"Baik dok, saya saja kalau begitu. " pungkas Agam. Lalu mereka berjalan menuju ruangan dokter itu.


Elsie yang sedari tadi hanya diam saja, akhirnya melangkah mendekati pintu ruang operasi. Kemudian ia melihat Ansen sedang termenung di ujung lorong.


"Sayang, bolehkah aku menemuinya? " tanya Elsie pada Nev sambil menunjuk ke arah Ansen .


Nev menoleh, mengikuti arah telunjuk Elsie.


"Aku hanya ingin bicara dengannya sayang, seperti nya dia sangat terpukul. Walau bagaimana pun dia saudaramu juga sayang. Kita tidak bisa membiarkannya terpuruk sendiri. " jelas Elsie.


"Aku masih takut kalau dia akan menyakitimu lagi sayang. " raut wajah Nev terlihat kekhawatiran.


"Kalau begitu ikutlah dengan ku sayang, kau bisa mengawasiku. Karna saat ini yang dia punya hanya kita. Walaupun tindakan nya kemarin sudah sangat keterlaluan, tapi tidak seharusnya kita membiarkan dia sendiri seperti itu. " Elsie mencoba meyakinkan Nev.


Akhirnya Nev menyetujuinya, dengan syarat ia harus ikut dengan Elsie.


Ruang Dokter


"Bagaimana keadaan Ratna dok? Apakah operasinya berjalan dengan lancar? " tanya Agam penasaran.


"Operasinya berjalan lancar tuan, namun saat ini nyonya Ratna kondisinya masih belum stabil. "


"Sepertinya nyonya Ratna memiliki riwayat penyakit lain, yang membuat insiden ini menjadi memperparah kondisinya. "


"Jadi terpaksa harus saya sampaikan, bahwa kondisi nyonya Ratna saat ini sedang koma. Belum dapat dipastikan kapan beliau bisa siuman kembali. "


Mendengar penjelasan dokter membuat Agam menjadi lesu.


"Lalu apakah kami bisa melihatnya sekarang dok? " tanya Agam lagi.


"Setelah nanti dipindah keruang ICU keluarga boleh melihat kondisinya, namun hanya diperbolehkan satu persatu saja tuan. " tutur sang dokter.


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak dokter. " Agam berdiri lalu mengulurkan tangannya, dan disambut oleh dokter.


"Sama sama tuan. "


*

__ADS_1


*


Disudut lorong rumah sakit, Elsie tengah berjalan mendekati Ansen. Sedangkan Nev hanya mengawasi nya dari jarak yang tak terlalu jauh.


"Ansen. " panggil Elsie dengan sedikit menundukkan badannya, karna posisi Ansen duduk dilantai sembari membekap kedua kakinya.


Mendengar panggilan Elsie, Ansen mengangkat kepalanya lalu mengarahkan pandangan nya kepada Elsie.


"Ada apa kau kemari? " tanya nya ketus.


"Ansen, mami mu sudah selesai dioperasi. Sebentar lagi akan dibawa keruang ICU. Apakah kau tidak ingin melihatnya? " tanya Elsie dengan nada lembut.


"Aku tidak pantas menjadi seorang anak. Karna aku sudah melukai ibuku sendiri. Dan itu semua karna kau Elsie !!! " bentak nya dengan mengarahkan jari telunjuk kewajah Elsie.


Melihat perlakuan Ansen, Nev sudah ingin maju. Namun Elsie memberi kode dengan tangan nya. Bahwa dia baik baik saja. Akhirnya Nev mundur lagi.


"Maafkan aku kalau memang aku bersalah. Tapi saat ini tante Ratna sangat membutuhkan putra kesayangan nya. Dia pasti merindukanmu. " bujuk El kembali.


"Dia sudah bertemu dengan cinta lama nya. Sedangkan aku hanya bisa menyakitinya, mungkin saja dia sudah tidak ingin bertemu dengan ku lagi. " ucapnya putus asa.


"Jangan berbicara seperti itu Ansen. Walau bagaimanapun, tante Ratna itu ibumu. Ibu yang sudah melahirkan mu. Jadi tidak mungkin dia membencimu. "


Ansen tidak menanggapi perkataan Elsie justru ia memalingkan wajahnya. Sedetik kemudian Nev memanggil Elsie.


"Sayang, tante Ratna akan dipindah keruang ICU. Ayo kita lihat dulu. " ajak Nev pada istrinya, berharap Ansen mendengarkan lalu ikut keruang ICU.


Dengan berat hati Elsie melangkahkan kakinya meninggalkan Ansen seorang diri dilorong itu.


Saat mereka sampai didepan ruang ICU, terlihat RenDae dan Ruli sudah berada disana.


"Mama, bunda. " sapa Elsie lalu berhambur memeluk keduanya secara bergantian.


"Gimana keadaanmu sayang, kalian baik baik saja kan ? " tanya Ruli kepada putra putrinya itu.


"Kami baik bunda. Tapi tante Ratna jadi seperti ini karna Elsie. " sorot matanya menjadi sendu. Dan air matanya pun terjatuh.


"Sssstt.. Gak boleh ngomong kayak gitu sayang, semua ini sudah menjadi garis takdir nya Tuhan. Tante Ratna itu orang baik, mama yakin beliau akan lekas membaik. " tutur RenDae sembari menangkup wajah Elsie dengan kedua tangannya.


Mendengar hal itu, tangis Elsie pun pecah. Lalu RenDae merengkuh El kedalam pelukannya.


Tangisan El terhenti saat dokter keluar dari ruang ICU.


"Dokter apakah kami sudah bisa melihat tante Ratna? " Tanya Nev pada dokter.


"Boleh tuan, silahkan. Tapi satu satu saja ya, gantian. " ucap dokter tersebut.


"Baik dok, terimakasih. " sahut Nev.









...Terimakasih temen temen udah mapir di novel pertama mamayo. Minta dukungannya ya buat klik like, coment, dan jangan lupa tap love 💙 untuk menambahkan ke rak favorit kalian. See you next episode....

__ADS_1


__ADS_2