
Vindy baru saja keluar dari sebuah mini market, sepulangnya dari menjenguk Mesha tadi, ia sempat bertemu dengan teman kerjanya dulu. Setelah hendak pulang ia sempat berbelanja untuk kebutuhan dirumah. Ia berbelanja disalah satu mini market yang tak jauh dari rumahnya.
Namun saat ia keluar dan hendak mencari taksi, tiba tiba saja tasnya disambar dua orang yang berboncengan motor. Sontak saja ia teriak minta tolong.
"Tolong... Jambret... Tolong... " teriak Vindy, yang sudah kepalang panik. Entah dari mana asalnya, ada seorang laki laki menaiki motor sport, lalu mengejar jambret itu.
Sedangkan orang orang disekitarnya berkerumun lalu mendekati Vindy. Ada beberapa orang yang bertanya keadaan dan kronologi nya, namun saking paniknya Vindy ia menjawab seadanya.
Hingga tak berselang lama, pria bermotor sport tadi kembali kearah Vindy berada. Dilihatnya tas yang tadi diambil rampok sudah berada ditangan pria bermotor.
"Nona yang kehilangan tas ini bukan? " tanya pria itu sopan.
"I iya tuan. " jawab Vindy gugup, pasalnya pria yang menolongnya ini sangat tampan. Badan tinggi tegap, kulit putih dan wajah blasterannya, membuat Vindy terpesona.
"Kalau begitu ini tas anda nona, silahkan dicek dulu isinya. " tutur pria tersebut sembari menyerahkan tas yang ia bawa.
Kemudian Vindy menerima tas itu, lalu memeriksanya.
"Semuanya masih utuh kok tuan, terimakasih banyak ya. " ujar Vindy berseri seri.
"Iya, sama sama nona. "
"Bapak ibu, semuanya terimakasih ya. Ini tas saya sudah kembali dan isinya utuh. Terimakasih atas kepeduliannya. " ucap Vindy kepada warga sekitar yang memang masih berada disitu.
Setelah ucapan Vindy tadi, para warga yang berkumpul akhirnya membubarkan diri. Tinggallah Vindy dan pria bermotor sport tadi.
"Tuan, sekali lagi saya mengucapkan terimakasih banyak atas bantuannya. " Vindy setengah menundukkan badannya, tanda menghormati.
"Tidak usah sungkan nona. Saya senang bisa membantu anda. Oh ya perkenalkan nama saya Niven. " ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Vindy. " jawabnya sembari menerima uluran tangannya. Yah, pria itu adalah Niven hawk Nixon. Adiknya Nev, memang Vindy dan Nev belum pernah berjumpa sebelumnya. Jadi mereka tidak saling mengenal.
__ADS_1
"Anda akan kearah mana nona? "
"Saya mau pulang, rumah saya diperumahan dekat lampu merah situ, tidak jauh lagi kok."
"Biar saya antar saja kalau begitu. " tawarnya kepada Vindy.
"Ah, tidak perlu repot repot tuan. Saya bisa naik taksi saja. " tolak Vindy secara halus.
"Tapi tidak aman bagi perempuan cantik seperti anda ini bepergian sendiri malam malam begini. Apalagi setelah kejadian tadi." ucap nya sambil tersenyum kepada Vindy.
"E.. Tapi... " belum sempat Vindy membantah, tiba tiba saja ditarik paksa oleh Niven.
"Ayo.. Nona, tidak usah sungkan. Aku juga gak akan ngapa ngapain kamu kok. " kata kata Niv berusaha untuk akrab.
' Nih orang kenapa SKSD banget sih. Ganteng sih tapi kenapa harus suka maksa. '
Kata hati Vindy. Ia juga merasa sedikit takut, pasalnya mereka kan belum mengenal akrab. Toh juga ia tidak buru buru, tidak seperti tadi siang.
"Ya sudah, kalau begitu saya akan temani nona disini untuk menunggu sampai taksi datang. " rayunya lagi.
"Vindy tuan. Panggil saja Vindy. Hehe" senyum Vindy menunjukkan gigi rapinya.
"Oh iya, sampai lupa aku. " Niven tepok jidat. "Panggil aku juga Niven. Jangan tuan! " imbuhnya lagi.
"Em,, oya Vindy! Bolehkah aku meminjam handphone mu. Aku harus menelfon ibuku, masalahnya handphoneku lowbat." Niv berkata sambil menunjukkan benda pipih itu yang terlihat mati.
"Iya, boleh Niv. Ini silahkan. " menyerahkan handphonenya. Niv menekan beberapa nomer dan terlihat ia sedang menelfon. Setelah dirasa selesai, ia mengembalikan handphone itu kepada Vindy.
Dan setelah itu, tak lama kemudian taksi yang ditunggu pun datang. Lalu Vindy berpamitan kepada Niv. Niven pun kembali melanjutkan perjalanannya.
*Apartment Nev*
__ADS_1
Elsie yang tadi sudah janjian dengan Nev akan membicarakan sesuatu, ia pun mendekati suaminya itu saat Nev sedang berada diruang kerjanya.
"Kak.. " sapa El saat memasuki ruang kerja Nev terlihat Elsie tengah membawakan coklat panas untuk suaminya itu.
Nev yang mendengar suara istrinya itu langsung saja menoleh.
"Iya El, masuklah. "
"Ini aku buatin coklat panas untuk kak Nev. " sembari meletakkan coklat panas yang ia bawa diatas nampan.
"Terimakasih istriku. " Nev tersenyum manis kepada El.
"Emmt,, kak. Ada yang ingin aku bicarakan, apa kakak sedang sibuk? " tanya El basa basi.
"Yah, bicaralah El. Pekerjaanku sudah hampir selesai. "
•
•
•
•
•
•
•
Terimakasih temen temen udah mapir di novel pertama mamayo. Minta dukungannya ya buat klik like, coment, dan jangan lupa tap love 💙 untuk menambahkan ke rak favorit kalian. See you next episode.
__ADS_1