
Yang pertama masuk keruang ICU adalah Elsie. Didalam Elsie sempat berdoa untuk kesembuhan tante Ratna. Setelah Elsie, Nev pun mendapat giliran. Begitu pun yang lain nya.
Hanya Ansen saja yang pada hari itu belum mau melihat maminya. Namun berkat bujukan dari Elsie dihari berikutnya Ansen sudah mau menemui maminya diruang ICU.
" Mami, maafkan Ansen mi. Hiks hiks hiks.. " tangisannya pecah juga saat ia melihat kondisi maminya yang tak berdaya.
Berulang kali Ansen mengucapkan kata maaf, namun tak mendapatkan respon dari tubuh wanita yang telah melahirkannya itu.
Hingga waktu terus berjalan, Ansen terus setia mendampingi maminya. Bahkan perusahaan Ansen terbengkalai. Untung saja ia sudah mempunyai orang orang kepercayaan yang dapat membantu nya disaat saat seperti ini.
Sehingga perusahaan tetap berjalan walaupun tanpa kehadiran Ansen. Tak terasa sudah satu minggu lebih Ratna terbaring dirumah sakit dalam kondisi koma.
Hingga pada suatu pagi, Ansen memutuskan untuk mencari sarapan dikantin rumah sakit. Setelah selesai, dirinya segera bergegas menuju ruangan maminya kembali.
Namun ternyata ia bertemu dengan Elsie, Nev dan para keluarga nya. Ansen tidak menunjukkan respon apapun. Dia terus saja melangkah ke arah ruangan Ratna.
Saat tiba disana, bertepatan dengan dokter dan suster yang baru keluar dari ruangan Ratna.
"Keluarga nyonya Ratna? " tanya dokter yang bertugas hari itu.
"Iya dok, saya putranya. " sahut Ansen semangat.
"Nyonya Ratna sudah siuman tuan. Akan tetapi beliau ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Agam dan RenDae. "Jelas dokter itu.
Lalu Agam dan istrinya mendekat. Nampak raut kekecewaan dalam diri Ansen. Namun ia segera menepis nya, karna saat ini dia sedang bahagia mendengar maminya telah sadar.
"Ratna, bagaimana keadaanmu? " tanya RenDae. Saat mereka sudah didalam ruang ICU.
"A a aku bbaik baik ss saja. " Ratna menjawab dengan nada tersengal. Semua alat alat masih terpasang didalam tubuhnya itu.
"A aku, minta ma af sama ka lian. Maafkan An sen juga a tas semua ke sala hannya. "
"Tenanglah Ratna, kami sudah memaafkan Ansen. Kau tidak perlu khawatir. Sekarang fokus saja dengan kesehatanmu. "
__ADS_1
Agam mencoba memberi sedikit semangat untuk Ratna.
"A gam, Ren. K kalau aku sudah pp pergi. Apakah kk kalian mau menerima Ansen seb bagai putra kk kalian juga? "
Sebelum menjawab pertanyaan Ratna, Agam lebih dulu menoleh ke arah istrinya. Tanda ia meminta persetujuan pada sang istri.
Ren pun memberi anggukan, tanda ia menyetujui apapun keputusan suaminya.
"Kau jangan berputus asa Ratna, yakin saja bahwa kau akan sembuh. Dan sampai kapan pun, Ansen tetaplah putraku. Putramu, dan sekarang menjadi putra Ren juga. "
"Ansen adalah kakak nya Nevile dan Niven. Jadi kau tidak perlu menghawatirkan tentang Ansen. Kala kau koma kemarin, Ansen yang selalu mendampingimu. Jadi berjuanglah Ratna, untuk Ansen. " pungkas Agam.
"Tapi wak tu ku su dah tid dak lama lagi A gam. Aku i ngin melihat An sen se sekarang. "
"Baiklah, aku akan panggilkan. " sahut Ren namun tangan nya diraih Ratna.
"Ja jangan pp pergi Ren, a aku i ngin kk kalian bertiga di sini. "
Ren menganggukkan kepalanya. Lalu Agam memanggil Ansen.
"Mami, ini Ansen mi. Ansen minta maaf, karna Ansen mami jadi seperti ini. Mami harus sembuh. Agar mami bisa menghukum Ansen, seperti Ansen waktu masih kecil. Bila Ansen bersalah, maka mami akan menghukum Ansen hiks.. hiks.."
Ansen menggenggam tangan mami nya erat erat. Takut akan kehilangan mami nya. Ratna pun tersenyum mendengar perkataan Ansen.
"Ansen, de ngar kan ma mi nak. Waktu ma mi tak ll lama la gi. "
"No no no.. Mami jangan ngomong kayak gitu, mami harus sembuh. Mami udah janji akan temenin Ansen sampai Ansen punya istri dan anak kan. " ucap Ansen dengan perasaan takut.
"An sen gak pp perlu takut. Pap pa Agam dan mama Ratna, akan se lalu mendam pingi Ansen. Mu lai se karang teri ma lah mereka se mua se sebagai orang tua dan ke keluarga mu nak. Be berjanjilah pp pada ma mi, kk kau a kan me nuruti pp perkata an mami ya ss say yang. "
"Kenapa mami ngomong kayak gitu mi, mami harus berjuang. Ansen hanya mau mami, mami yang temanin Ansen. Please mi, ampuni Ansen. Jangan hukum Ansen dengan cara seperti ini. Hiks hiks hiks.. "
Isak tangis Ansen semakin menjadi, Ren dan Agam hanya bisa menenangkan Ansen.
__ADS_1
"Hhhaahh.. " suara nafas Ratna mulai terdengar kasar.
"Mami, mami kenapa mi. Cepat panggil dokter pa ! " teriak Ansen pada Agam.
Disaat itu Agam dan Ren begitu tercengang mendengar panggilan Ansen untuk Agam.
"A Ansen, berjan jilah pa da ma mi. Kk kalau Ansen a akan menuruti per minta an ma mi ya nak. " pinta Ratna kembali.
"Baiklah mi, Ansen berjanji. " sahut nya sembari mengusap air mata nya.
"Ber si kap bbaik lah de ngan sa udara saudara mu nak. Jj ja ngan kk kau sa kiti la gi mereka. "
"Baik lah mi. " jawab Ansen.
Kemudian Ratna menatap Agam dan Ren.
"A ku titip An sen ya.. " kemudian disambut anggukan dan senyuman oleh keduanya.
Tiba tiba saja alat pasien monitor berbunyi dengan nyaring.
Ttiiiiitttt......
•
•
•
•
•
•
__ADS_1
•
...Terimakasih temen temen udah mapir di novel pertama mamayo. Minta dukungannya ya buat klik like, coment, dan jangan lupa tap love 💙 untuk menambahkan ke rak favorit kalian. See you next episode....