
Seperti yang sudah dijanjikan Sena, ia akan mgengajak Elsie untuk liburan. Kali ini tujuannya adalah Amsterdam tulip museum. Karna kebetulan sedang musimnya bunga tulip bermekaran.
El sangat bahagia melihat banyaknya bunga tulip dengan berbagai macam warna.
"Makasih ya Sen, udah bawa aku kesini. Aku seeneng banget. Tempat ini sangat indah. " ucap Elsie yang terus saja menunjukkan binar diwajahnya.
"Iya, El sama sama. Karna aku gak mau lihat sahabat ku ini murung terus. Kamu harus selalu bahagia. Dan aku akan memastikan itu. " tutur Sena sambil tersenyum kepada Elsie.
"Tidak perlu seperti itu Sena, bertindak wajar saja. Takut orang lain berfikiran lebih tentang hubungan kita. " Elsie terlihat ragu mengatakan itu, namun ia terpaksa karna takut akan banyak orang berfikiran seperti kakaknya Richen.
"Ehmt,, iya El. Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman dengan sikapku ini. " Dalam hati Sena merasa sakit, ia merasa Elsie sedikit berubah.
'Kenapa kau berubah Elsie, kau tidak boleh berubah. Aku sudah sejauh ini melangkah. Dan kau sudah berhasil mencuri hatiku. Maka kau harus menjadi milikku, akan aku singkirkan suami payahmu itu. Hahahaahh' Sena terus saja bergemuruh dalam hati.
Memang semenjak perkataan kak Richen saat itu, Elsie mulai berfikir bahwa ia tidak boleh terlalu dekat dengan pria lain. Sebab saat ini pun hubungan rumah tangganya sedang tidak baik baik saja.
Setelah puas menikmati liburan mereka, El dan Sena memutuskan untuk kembali sebelum hari semakin gelap.
Diperjalanan pulang, suasana didalam mobil nampak hening. Tidak seperti biasanya, terlihat kecanggungan diantara keduanya. El terus saja menatap kecendela mobil disebelahnya. Sedangkan Sena fokus dalam berkendara.
Jarak tempuh kerumah Richen tidak jauh lagi, namun Sena tiba tiba saja berhenti di depan sebuah toko kue yang memang terkenal enak dikota itu.
Elsie yang kebingungan kenapa berhenti, langsung saja menatap Sena.
__ADS_1
"Ada apa Sen, kenapa berhenti? " Tanya Elsie yang terlihat masih bingung.
Sena melepas sabuk pengamannya terlebih dahulu, kemudian baru menjawab pertanyaan Elsie.
"Aku akan membeli kue terlebih dahulu El, kau mau ikut apa tunggu disini? " Sena bertanya. "Aku disini aja Sen. Tapi jangan lama lama ya. " jawab Elsie sembari membenahi tempat duduknya.
Sena hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan ringan. El terus saja menatap punggung Sena yang menghilang dibalik pintu toko itu.
Entah apa yang dibeli Sena di dalam sana. Tak terasa pikiran Elsie pun melayang, ia terlihat melamun.
'Apa kabarmu kak Nev? Apa kau tidak berusaha mencariku? Apakah kau sudah benar benar melupakanku? Mengapa aku sangat merindukanmu, salahkah jikalau aku sudah mulai mencintaimu? Tapi aku masih takut akan perasaan ini. Apakah kau masih mencintai Mesha? Egoiskah aku Tuhan, Kalau menginginkan suamiku sendiri? '
Elsie terus saja bermonolog dalam hati. Hatinya sangat perih bila mengingat akan kisah rumitnya ini.
Hingga tak terasa, Sena sudah memasuki mobil kembali. Dan itu membuat El tersadar dari lamunannya.
"Oh, ini kue untukmu dan kakak serta Naya. Dan yang ini untuk ibuku, saat ini ibuku sedang mengunjungiku El. Jadi aku sengaja membelikan ini untuk kalian semua. " terang Sena kepada Elsie.
"Tidak perlu repot repot Sen, kau selalu saja memberikanku dan keluargaku hadiah. Namun aku belum pernah memberikan apapun untukmu. Jadi jangan habiskan uangmu hanya untuk sahabatmu yang tak berguna ini. " Elsie langsung mengerucutkan bibirnya setelah berkata seperti itu.
Dan hal seperti itu, malah membuat Sena sangat gemas. Adrenalin Sena pun meningkat, ingin rasanya ia mencicipi b*b*r s*ksinya Elsie. Sekuat tenaga Sena menutupi gairahnya itu.
Entah mengapa Sena sangat menyukai setiap inchi tubuh lawan jenis yang ada dihadapannya ini.
__ADS_1
"Stop El, jangan berbicara seperti itu lagi. Please, because you is my best friend. Aku senang punya sahabat sepertimu, kau berteman tidak memandang status. Dan itu tidak ada pada setiap orang. Aku juga berterima kasih karna kau mau menerimaku sebagai temanmu, walaupun aku ini hanya karyawan biasa. Tidak sepertimu yang sebagai pemilik perusahaan besar. "
Elsie hanya bisa tersenyum mendengar perkataan lelaki dihadapannya ini.
Setelah puas berbincang, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Sena kembali menjalankan mobilnya ditengah padatnya jalannan kota Amsterdam.
Tak butuh waktu lama, mobil Sena terparkir sempurna dihalaman rumah Richen.
Saat Elsie dan Sena turun dari mobil, ternyata ada sepasang mata yang menatap tajam kearah mereka.
Saat El berbalik arah, betapa terkejutnya dia akan pemandangan dihadapannya itu.
•
•
•
•
•
•
__ADS_1
•
Terimakasih temen temen udah mapir di novel pertama mamayo. Minta dukungannya ya buat klik like, coment, dan jangan lupa tap love 💙 untuk menambahkan ke rak favorit kalian. See you next episode.