Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 100. Sindiran Kailla


__ADS_3

Pram baru saja menyelesaikan permasalahan Kailla, meminta maaf kepada pasangan suami istri sekaligus security demi tercapainya jalan damai. Sedangkan Kailla, masih saja tidak terima. Berkali-kali mendengus kesal, meskipun Pram sudah menyeretnya keluar dari ruangan.


Sam yang mengekor di belakang hanya bisa melakukan gerakan tutup mulut dari pada memperkeruh keadaan. Ia bukan Kailla yang selalu membuat Pram mengalah dan mengelus dada walaupun membuat kesalahan besar.


Semenit lagi, ia yakin akan mendapat hukuman seperti biasanya. Entah apa bentuk hukumannya, terlalu sering dihukum karena Kailla, ia sudah kebal.


“Sayang, kenapa meminta maaf padanya?” omel Kailla.


“Ssttt!” Sam merapatkan telunjuk di bibir, memberi kode pada majikannya supaya diam.


“Akan ada hukuman untukmu Sam. Jangan khawatir. Aku tidak bisa berteriak di sini,” omel Pram, menengok ke belakang sekilas dan menatap tajam pada asisten Kailla.


“Dan kamu ... kalau aku tidak minta maaf, kamu mau diseret ke kantor polisi. Mungkin sekali-kali harus dikirim ke sana!” gerutu Pram.


“Aku tidak mau,” rengek Kailla, manja. Ia berbalik merengkuh lengan suaminya dengan mesra.


“Maaf, aku hanya membela Bella. Wanita itu main serobot saja. Aku tidak suka dengan orang yang tidak sopan. Kalau dia sopan, aku juga sopan. Kalau dia cari masalah denganku, aku akan meladeni. Aku tidak bisa diinjak-injak!” lanjut Kailla.


“Aku tidak sebaik Bella, yang mau mengalah. Sampai suaminya saja semena-mena padanya,” lanjut Kailla kesal. Semakin membahas Bella, semakin ia meradang. Selama ini, Bella sering menceritakan tentang suaminya, berkeluh kesah setiap diabaikan Bara.


“Tidak perlu ikut campur masalah rumah tangga orang lain.” Pram berkata, sesekali melirik ke arah istrinya.


Namun, bukan Kailla kalau bisa diam dan menurut. Ia masih saja mengomel tidak berkesudahan. Apalagi mengingat tatapan tajam suami Bella yang ditujukan untuknya. Ingin rasanya ia mencakar laki-laki tidak tahu diri itu.


Kekesalan yang tadinya tertuju pada wanita lawan seterunya, berganti menjadi kekesalan pada Bara.


“Tempo hari Bella cerita, kalau suaminya jatuh dari pohon mangga. Aku bahagia sekali mendengarnya, Sayang. Harusnya sekalian patah kaki,” lanjut Kailla, mendengus kesal.


“Kai, sudah! Tidak boleh begitu. Itu rumah tangga mereka, tidak boleh menghakimi orang lain yang kita sendiri tidak tahu cerita sebenarnya.”


“Kalau suamiku ... seminggu menikah sudah aku talak tiga!”


“Kalau masih tidak mau diam, aku akan menggigitmu di sini. Ingat hukumanmu belum aku jelaskan. Tutup mulut dan diam, renungi kesalahanmu,” omel Pram.


***


Ketiganya sudah berada di basement, menuju ke arah mobil sesuai dengan informasi dari Bayu. Namun, belum sampai tempat yang dimaksud, mereka sudah disuguhkan pertunjukan smackdown kelas atas. Bara dengan setelan kerjanya yang rapi sedang menghajar Ricko yang terbaring tidak berdaya, tanpa perlawanan.


“Bar! Sudah!” teriak Pram, berlari dan menarik paksa sahabatnya agar bangkit dari tubuh Ricko.


“Dia bisa mati!” teriak Pram menyadarkan Bara yang emosi dan penuh amarah. Meski sudah dicekal paksa, Bara masih tetap melawan. Belum puas menghajar Ricko yang hampir hancur wajahnya.


“Kai, tutup matamu!” teriak Pram, sebelum menghajar rahang Bara supaya lelaki itu kembali sadar dari kemarahannya.


Kailla menurut, segera berbalik badan. Ia masih bisa melihat jelas Bella yang menangis tersedu di dekat mobil, menyaksikan suaminya berkelahi.

__ADS_1


“Suami macam apa itu. Berkelahi di depan istrinya, seperti anak kecil saja. Suamiku hanya memukul nyamuk saja, dia tidak mau aku melihatnya!” gerutu Kailla dalam hati.


Sesekali terdengar suara Bella yang menyerukan nama suaminya supaya berhenti bertengkar.


“Mas, Mas ... sudah. Jangan bertengkar lagi,” pinta Bella, bercucuran air mata.


Setelah berhasil ditenangkan, barulah Bara menemui istrinya. Memeluk erat tubuh Bella yang terguncang karena menangis.


“Maafkan aku, Bell. Aku emosi. Bagaimana dia bisa berada di sini?” tanya Bara dengan polosnya. Seolah lupa dengan status Ricko yang sekarang menjadi asisten Kailla. Bahkan, ia sendiri yang merekomendasikannya pada Pram. Cemburu yang tidak diakui membuatnya buta.


Ricko yang sudah babak belur, diamankan Sam ke dalam mobil, sesuai perintah Pram. Membawa lelaki itu pulang dan diobati. Wajahnya hancur tidak berbentuk.


“Dia itu asistenku, Om! Bukan selingkuhan istrimu!” omel Kailla tiba-tiba. Ia sudah berdiri di dekat pasangan yang sedang berpelukan.


“Sudah, Kai. Jangan ikut campur,” bisik Pram, menarik lengan istrinya, menjauh. Tidak mau istrinya mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk didengar.


“Tapi, Om Bara ini kelewatan. Istrinya sedang hamil, masih saja berpikiran buruk,” dengus Kailla kesal.


“Untung bukan suamiku. Kalau suamiku sudah aku titip ke pengadilan agama, nanti begitu keluar putusannya baru aku mengirim koper dan perlengkapannya,” gerutu Kailla, membuat Bara terbelalak. Gadis kecil nakal, istri sahabatnya ini mulutnya benar-benar pedas dan bicaranya blakblakan.


Bara ingin marah, tetapi diurungkannya setelah melihat Kailla yang tingginya hanya sebatas bahunya itu bertolak pinggang menatapnya penuh amarah.


“Sudah, Kai ... sudah,” bujuk Pram, menarik tangan istrinya.


“Hahaha.” Tawa Bara pecah. Masih dengan memeluk istrinya, sesekali menghapus air mata yang menetes di wajah cantik Bella.


“Kita cari tempat makan siang, Pram. Aku sepertinya harus menyelesaikan masalahku dengan istrimu,” ajak Bara, masih saja terkekeh.


“Mas ...." Terdengar suara Bella yang memanggil, meminta Bara untuk tidak melakukan hal yang berlebihan pada teman baiknya.


“Ya, Sayang. Aku hanya ingin mengenal teman baikmu itu lebih dekat. Aku tidak mungkin menitipkan istriku pada sembarangan orang,” jelas Bara. Meraih gagang pintu dan membawa istrinya masuk ke dalam mobil.


***


Keempatnya, sudah duduk mengelilingi meja bulat yang sudah tersaji menu-menu makan siang sesuai dengan pesanan. Pram yang duduk di samping istrinya, terlihat mengambil alih piring steak milik Kailla dan memotongnya kecil-kecil sesuai dengan ukuran mulut istrinya. Ia sendiri mengabaikan piring steak miliknya.


Bara dan Bella yang memesan menu yang sama sudah menikmati steaknya masing-masing, sesekali menatap heran ke arah Pram.


“Istrimu tidak bisa memotong steak?” tanya Bara heran, mengerutkan dahi tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Aku sudah melakukannya sejak dia mulai bisa mengunyah daging untuk pertama kalinya. Aku sudah terbiasa,” ucap Pram dengan santai, menyodorkan kembali piring steak siap makan itu ke depan Kailla.


“Ini rasanya enak, Sayang. Sesuai dengan seleramu,” bisik Pram, menyerahkan pisau dan garpu ke tangan istrinya.


Bara nyaris tersedak, mendengar jawaban sekaligus perlakuan Pram lalu menatap Bella.

__ADS_1


“Sweetheart, mau aku bantu potongkan?” tawar Bara pada istrinya.


“Tidak. Terima kasih, Mas.” Bella menjawab dengan sopan, tersenyum malu-malu, sekaligus bahagia. Kalau boleh mengeluarkan isi hatinya, ia iri dengan Kailla. Suami sahabatnya itu begitu manis dan perhatian.


“Hahaha. Tidak seperti itu juga Bara. Hubunganku dengan Kailla itu terbentuk sejak dia kecil. Bahkan aku orang pertama yang melihatnya lahir ke dunia, setelah dokter dan suster tentunya,” sahut Pram.


“Aku bahkan tahu semua selera makanannya, taste yang dia suka. Dia selalu makan makanan sisaku. Karena sejak kecil aku yang mencoba dulu semua makanannya setiap kita makan di luar. Aku tahu rasa yang disukainya atau pun tidak disukainya,” jelas Pram.


“Dia putri kesayangan Riadi, semua orang di rumah memperlakukannya seperti anak emas, termasuk aku,” jelas Pram lagi, sesekali melirik ke arah Kailla.


Bara menatap dua orang di hadapannya, beralih memandang istrinya yang menikmati steaknya dalam diam. Entah kenapa tiba-tiba ada rasa bersalah. Ia tidak memperlakukan Bella semanis itu. Padahal umur Bella lebih muda setahun dari umur Kailla.


“Dia suami terbaik,” ucap Kailla tiba-tiba, merengkuh lengan suaminya dengan manja. Sengaja memamerkannya pada Bara.


Ia bahkan sudah menanam pohon mangga di belakang rumah buat berjaga-jaga kalau aku mengidam saat hamil nanti,” celetuk Kailla, menatap sinis pada Bara.


“Apalagi kalau hanya memanjat pohon mangga berbuah semangka di lapangan dekat komplek rumah, pasti dia akan memanjatnya dengan senang hati. Ya kan, Sayang?” tanya Kailla pada Pram.


Pram yang tidak tahu menahu drama mengidam Bella, hanya mengangguk.


“Karena ikhlas, pasti dia tidak akan terjatuh dari pohon. Ya kan, Sayang,” lanjut Kailla mengulum tawanya, masih saja tidak puas menyindir.


Bella yang sejak tadi hanya tertunduk diam, makin tidak berani menatap suaminya. Ia khawatir Bara akan akan marah, karena dianggap mengadu masalah rumah tangganya pada Kailla.


“Mas, maafkan aku,” bisik Bella, meletakan tangannya di paha Bara. Kailla benar-benar mempermalukan suaminya secara tidak langsung. Ia tahu, sejak tadi Kailla menyindir suaminya terus-menerus.


***


T b c


Love You All


Terima kasih.


Kisah Pram dan Kailla disini hanya sebentar ya, bab selanjutnya akan bahas Bara dab Bella kembali.


Yang belum mengikuti kisah rumah tangga Pram dan Kailla bisa baca di judul


- Istri Kecil Sang Presdir - season 1


- Istri Sang Presdir - season 2


- The Love Story of Pram and Kailla - season 3


Masih di Noveltoon / Mangatoon juga.

__ADS_1


__ADS_2