
“Mas, Mbak Brenda sudah ....”
Bella tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, ia memilih menggeleng. Air matanya tumpah seketika teringat kembali pertemuan mereka beberapa hari yang lalu. Penyesalan yang tadinya sudah menghilang selama dua hari ini, dalam sekejap muncul kembali. Penyesalan yang berganti menjadi rasa bersalah.
“Ada apa, Bell?” tanya Bara, penasaran. Air mata Bella membuat laki-laki itu panik. Bara yakin bukan berita baik yang diterima Bella.
Tangan Bara segera mengambil alih ponsel dari genggaman istrinya, mencari tahu sendiri apa yang terjadi sampai Bella menangis tersedu-sedu.
Dad, Mommy baru saja meninggal.
Sepenggal pesan yang dikirim Rania. Singkat, tetapi menguncang siapa saja yang mendengarnya. Perasaan Bara campur aduk. Dengan gemetar, jemarinya menghubungi nomor ponsel Rania untuk memastikan kembali.
Terdengar nada sambung mengalun perlahan hingga beberapa kali, sampai akhirnya panggilan itu terhenti berganti suara isak tangis tertangkap jelas di indra pendengaran Bara.
“Ran, itu kamu Ran. Kamu baik-baik saja, Ran?” tanya Bara dengan tidak sabar.
“Ini Stella, Mas.” Terdengar suara wanita sesengukan dari seberang telepon.
“Apa yang terjadi, Ste?” tanya Bara.
“Kak Brenda sudah pergi, baru saja pergi, Mas.”
Hening sejenak.
“Kak Brenda sempat berpesan. Mohon Mas Bara bisa memaafkan semua kesalahannya. Kak Brenda merasa paling banyak bersalah sama Mas Bara.” Stella terisak pelan.
“Sudah beberapa hari ini, Kak Brenda ingin berbicara langsung ke Mas Bara, tetapi tidak ada kesempatan. Sebelum mengalami koma tadi pagi, sempat minta disampaikan maafnya ke Mas Bara,” lanjut Stella. Wanita itu sudah tidak sanggup bersuara, hanya bisa menangis.
Kaki Bara melemas seketika mendengar kalimat-kalimat yang disampaikan Stella. Kenangan-kenangannya bersama Brenda berputar kembali. Dari awal mereka bertemu, berpacaran, menikah sampai akhirnya berseteru dan memilih berpisah. Apalagi usia Brenda yang terbilang masih muda, seumuran dengannya. Rasanya ingin menolak untuk percaya, meskipun beberapa hari yang lalu sudah dihadapkan pada kenyataan kalau memang Brenda sakit keras dan sudah tidak memiliki harapan hidup.
__ADS_1
Bara memeluk erat istrinya. Menyalurkan perasaan terpukulnya lewat dekapan. Berbeda dengan Bella, ibu hamil itu menangis hebat, sampai tidak sanggup bersuara. Keduanya saling menguatkan, saling membagi beban.
“Aku ... aku belum meminta maaf padanya, Bell. Aku ... juga belum mengatakan padanya, kalau aku sudah memaafkannya. Padahal beberapa hari ini aku ingin berbicara dengannya, tetapi aku menahan. Aku tidak mau membuat banyak hati kecewa.” Bara menahan rasa sesal yang tiba-tiba menyerang pertahanan dirinya.
“Aku mengenalnya dengan baik. Belakangan ini setiap kali mengunjunginya, aku memilih tidak mendekatinya. Memilih menjauh, tetapi sekarang aku menyesal, Bell. Seharusnya aku menyapa, paling tidak menyapanya untuk terakhir kali.”
Berbeda dengan Bella, ia hanya menangis dan tidak bisa berkata-kata. Wanita hamil itu terpukul karena dihantam rasa bersalah. Di detik-detik terakhir Brenda, ia sudah mengecewakan. Ia menolak permintaan pertama sekaligus terakhir Brenda padanya.
***
Siang itu suasana duka di pemakaman Brenda begitu terasa. Baru saja turun dari mobil, Bara dan Bella sudah disuguhi isak tangis yang terdengar samar tetapi memilukan. Tangan kekar Bara menggandeng mesra istrinya dengan posesif, melewati pinggir makam yang tidak beraturan menuju ke titik keramaian pelayat berpakaian serba hitam.
Gerimis kecil menerpa kelopak bunga kamboja seolah berduka mengiringi kepergian Brenda menuju tidur panjangnya. Untaian doa dikirimkan para pelayat, mengantar almarhumah di tempat peristirahatan terakhir. Kesedihan itu semakin terasa, saat langkah kaki semakin dekat.
Sepasang suami istri itu sudah menyibak jalan, menuntun keduanya menuju pusara. Bara dan Bella sedikit terlambat, saat tiba di pemakaman prosesi itu hampir usai. Gundukan tanah sudah meninggi dengan nisan berdiri kokoh terukir nama Brenda di sana.
Tak jauh dari tempatnya berlutut, tampak Stella sedang memeluk mamanya yang melemas, nyaris tidak sadarkan diri. Tidak tampak Bapak Sutomo di sana. Entah ke mana kepala keluarga yang harusnya menjadi penguat para wanita-wanita ini.
“Mas, aku menemani Rania sebentar,” bisik Bella, melepas diri dari gengaman tangan suaminya. Iba menyerang relung hatinya. Bella seperti melihat dirinya sendiri di dalam sosok Rania. Saat ayahnya meninggal dunia, itulah yang dialaminya dulu. Itulah yang dilakukannya, bersimpuh di makam ayahnya dan tidak mau pulang.
“Ran," sapa Bella pelan, berdiri di samping Rania.
Gadis itu mendongak, menatap Bella dengan netra menganak sungai. Sedetik kemudian, Rania sudah menghambur, memeluk pinggang Bella. Mencari kekuatan dari dekapan Bella.
“Mommy,” ucapnya lirih, menumpahkan kesedihannya. Tangisnya kian pecah, seolah ingin mengeluarkan isi hatinya yang tertahan.
“Ya, Mommy datang. Ada Daddy juga. Jangan menangis lagi, Sayang,” ucap Bella, berusaha menghibur. Menjauhkan wajah Rania dari perut buncitnya, menghapus jejak air mata dari wajah sembab gadis itu.
“Maaf, Mommy baru bisa datang sekarang.” Kedua tangan itu sedang merapikan rambut Rania yang acak-acakan, menyelipkannya di belakang daun telinga. Rasanya tidak tega melihat kondisi Rania yang tidak memiliki siapa-siapa. Pemandangan di pemakaman ini semakin membuatnya berpikir ulang akan permintaan terakhir Brenda.
__ADS_1
“Mas ....” Tiba-tiba Bella menoleh ke belakang, saat mendapati lengan Bara sedang merengkuh pundaknya.
“Kasihan," bisik Bella tanpa suara, hanya gerak mulut saja.
Bara hanya mengangguk. Lelaki itu sudah berjalan mendekat ke arah makam. Bersimpuh di samping makam Brenda yang masih basah dan bertabur kelopak bunga mawar merah.
“Love, aku datang. Maaf, belakangan ini aku sengaja menghindarimu. Kamu tentu tahu, kalau aku sudah menikah lagi. Aku harus menjaga perasaan istriku.”
“Aku tidak membencimu lagi. Aku sudah memaafkanmu. Sejak menikahi Bella, aku sudah belajar menerima dan melepas masa lalu kita. Maaf, aku membuka hatiku kembali. Dan saat ini, aku mencintanya, aku benar-benar mencintai istriku, Love.”
Laki-laki itu menghela napas berat, dengan tangan menyentuh nisan sederhana, tertulis nama Brenda di sana.
“Love, aku baru bisa mengungkapkannya sekarang. Mungkin terlambat. Aku minta maaf selama pernikahan kita sudah membuatmu menangis dan kecewa. Aku sadar, bukan hanya aku saja yang terluka dalam pernikahan kita. Kamu juga pasti terluka. Kamu juga pasti kecewa padaku. Aku bukan suami yang baik untukmu saat itu.”
Mata lelaki itu mengembun, menahan rasa yang bergejolak di dadanya. Ada banyak kata yang sebenarnya ingin disampaikannya, tetapi sekarang sudah percuma. Brenda sudah tidak bisa menjawabnya.
“Love, terima kasih sudah pernah hadir dan mengisi hidupku. Aku akan menjaga Rania dan keluargamu sama seperti dulu kamu menjaga Mama dan papaku saat aku di Amerika,” ucap Bara dalam hati.
***
TBC
Note : Author cuma mau infoin, novel yang author tulis ini saling berhubungan antara judul yang satu dengan judul yang lain. Tokoh Bara dan Bella ini juga sering muncul di novelku yang lain, terkadang ada bocoran kisah mereka di novel lain.
Bisa intip-intip mereka di novelku yang lain :
- Istri Sang Presdir ( Pram dan Kailla )
- Crazy Rich mencari Cinta ( Ditya dan Frolline )
__ADS_1