Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 177- Extra chapter 1


__ADS_3

Sepanjang malam Bara tidak bisa tidur. Hari pertama baby Real di rumah, bayi laki-laki itu sudah pintar berulah. Kalau di rumah sakit ada perawat yang membantu, harusnya sampai di rumah lebih banyak lagi yang membantu. Pasangan suami istri itu bisa istirahat dengan tenang. Namun, semua tak sejalan dengan kenyataan yang ada.


Masalahnya baby Real tidak mau dipegang siapapun. Sepanjang malam, menjerit, menangis tak berkesudahan membuat gaduh seisi rumah. Semua penghuni digilir untuk mencoba mendiamkannya. Dari pengasuh sampai Ibu Rosma, semuanya kebagian membuatnya tertidur.


Denting bunyi jam di ruang tengah terdengar sebanyak dua belas kali. Nyanyian malam menyatu dengan desiran angin di musim kering. Bella sejak tadi tertidur di ranjang empuknya, sesekali terbangun. Menjadi ibu untuk baby Real, membuat jam tidur Bella belum teratur dan terjadwal sempurna.


Cerita berbeda yang dialami Bara. Laki-laki itu masih sibuk menimang, bersenandung dengan suara serak tak bernada. Salivanya hampir kering sudah.


Sepanjang malam menangis, bayi mungilnya baru mau diam, begitu berada di dalam gendongannya, pelukan hangatnya. Bagai sihir, jerit tangis baby Real perlahan mengecil dan akhirnya tertidur pulas saat berada di dekapannya.


“Sssttt ...” Bara menimang putranya sambil berdiri. Bergoyang ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama malam. Dengan tangan kanan menepuk pelan bokong mungil yang terbungkus bedong.


Lima belas menit menimang tanpa henti, senyap mengundang kantuk. Tampak Bara menguap berulang kali, bantal bulu angsa berselubung sutra ungu itu seolah memanggil dirinya, minta ditiduri.


Senyum terukir di wajah mengantuk Bara, mengendap perlahan mengantar sang jagoan di peraduannya. Ranjang bayi dari kayu jati bercat putih di sudut kamar, Bara menurunkan baby Real perlahan. Pelan, bahkan Bara harus menahan napasnya, seolah tarikan napas kecil pun sanggup membangunkan sang putra mahkota.


Bibir itu kembali tersenyum untuk kedua kali, Bara sudah ingin meloncat kegirangan. Kembang api meletup-letup di dalam hati, saat geliat kecil The Real Wirayudha diakhiri kelopak mata kian melekat rapat.


“Good night, baby Real,” bisik Bara tanpa suara. Hanya bahasa bibir, mengulum senyum. Kebahagiaan Bara saat ini bagai menang tender miliaran rupiah.


Berjalan mengendap menuju ke ranjang empuknya. Gaya Bara sudah seperti maling kesiangan. Melangkah tanpa suara, dengan gerak tubuh melambat. Semua demi apa, demi Baby Real tidak terusik lagi.


Tepat di langkah ke lima, jerit tangis bayi mungil itu kembali menggelegar. Sontak membuat Bara dan Bella tersentak. Bara berlari, menghampiri dan membawa kembali ke dekapannya.


Sang mommy berdiri, tertatih-tatih berjalan menuju ranjang bayi.


“Biarkan aku saja, Mas.” Bella mengambil alih baby Real dari gendongan Bara. Berusaha membujuk bayinya untuk berhenti menangis.


“Mas tidur saja,” pinta Bella. Ada sejumput iba saat melihat Bara yang hampir tumbang, belum tidur sekejap pun karena kerewelan putra mereka.

__ADS_1


“Mungkin adek lapar,” ucap Bella, sudah mengambil posisi menyusui, membawa bayinya duduk di sofa.


Hangat menyelimuti perasaan Bella saat ini. Selama bersama Bara, dia baru melihat sisi lain dari Barata Wirayudha. Merangkai cerita demi cerita sebelumnya. Bella baru mengetahui di balik arogan dan pemarahnya Bara, lelaki itu sosok penyabar pada anak kecil. Terbukti bagaimana Issabell dan Rania, dua putri mereka yang selalu ingin menempel pada daddynya.


Setelah kenyang, The Real kembali berulah. Lepas dari susunya, jerit tangis itu kembali terdengar memekikan telinga. Bahkan dibujuk dengan apa pun, baby Real tetap tidak mau. Ditimang, disenandungkan, di tepuk-tepuk pelan, hanya bisa membuat senyap sejenak. Beberapa detik kemudian, tangisnya kencang kembali.


“Mas, aku bawa adek keluar saja.” Bella akhirnya mengalah, membiarkan Bara tidur sejenak.


Berpindah ke ruang depan, baby Real langsung ditangani pengasuh. Hasilnya tetap sama, tangis itu semakin menjadi. Memecah keheningan malam, mengusik lelap semua penghuni rumah. Setengah jam berlalu, Bara akhirnya mengalah. Menyeret tubuh lelahnya, keluar kamar.


“Bell, aku saja,” ucap Bara. Laki-laki dengan kaos tidur hitam itu sudah menyusul ke ruang depan dan mengambil alih putranya.


“Biarkan aku saja, Mas. Sejak tadi Mas itu belum tidur sama sekali,” tolak Bella.


“Aku tidak bisa tidur kalau adek menangis seperti ini.” Bara menjelaskan, sembari mengambil alih putranya.


Dan benar saja, baru sebentar di gendongan Bara, putranya itu berhenti menangis. “Benar-benar putra Barata Wirayudha. Tidur pun harus digendong daddy, ya.” Bara memaksa tersenyum dan membuka mata.


“Ah ...!” Bara menjatuhkan tubuh lelahnya, menelungkup di atas ranjang empuknya. Bahkan baby Real tidak mengizinkannya duduk. Setiap laki-laki itu duduk di sofa empuk, Baby Real langsung menjerit. Pengalaman pertamanya menjadi seorang ayah, benar-benar tidak akan terlupakan sepanjang masa.


“Akhirnya Bell,” ucap Bara, menoleh sekilas pada istrinya.


Tak sampai lima menit, dengkuran halus Bara terdengar memecah pagi. Nada teratur yang mengandung kelelahan dan kantuk itu terdengar menyayat hati.


***


Kalau penghuni rumah yang lain memulai pagi dengan senyuman, tidak dengan Bara. Laki-laki itu memulai paginya dengan kantuk dan kantong mata. Baru bisa tertidur pukul lima pagi, Bara harus kembali terjaga saat denting sendok dan garpu terdengar di meja makan.


Setengah menyeret kaki, memaksa matanya terbuka. Bara membasuh tubuhnya dengan air dingin. Berharap kantuk itu segera hilang, dia ada meeting di pagi hari.

__ADS_1


“Bell, aku mengantuk.” Laki-laki yang sudah rapi dengan setelan kerja, merebahkan kepalanya di pundak Bella tanpa malu-malu. Istrinya sedang sibuk mengurus dua putrinya di meja makan.


“Mas, mau sarapan dengan apa?” tanya Bella, menepuk pelan wajah Bara yang sedang bermanja-manja dengannya.


“Denganmu.” Bara hampir tertidur lagi.


“Mas, aku serius.”


“Aku mengantuk Bell. Baby Real benar-benar mengerjaiku semalaman,” adu Bara, menarik kursi dan menjatuhkan tubuhnya.


“Dad, kenapa matamu seperti panda?” celoteh Issabell. Sontak membuat seisi meja makan terbahak.


“Benarkah Bell?” Bara bertanya dengan polosnya.


“Ya, Mas. Tidak perlu ke kantor hari ini. Aku akan membawakan sarapanmu ke kamar.” Bella memberi ide. Terlalu kasihan melihat suaminya yang menahan kantuk sejak tadi.


***


Bella masuk ke dalam kamar dengan sepiring nasi uduk buatan asisten rumah. Meletakannya di atas nakas, kemudian membangunkan Bara yang tidur dengan setelan kerja, lengkap. Bahkan tidak melepas sepatunya.


“Mas, sarapanmu.” Bella mengguncang kecil tubuh suaminya.


“Bell ....” sapa Bara dengan suara parau.


“Cukup Real saja, ya. Aku tidak mau menambah anak lagi,” Bara berucap dengan mata terpejam.


“Ha? Kamu kenapa, Mas?” tanya Bella pelan.


“Aku tidak sanggup kalau harus mengurusnya setiap malam. Aku menyerah, Bell.”

__ADS_1


***


__ADS_2