Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 119. Laki-laki misterius


__ADS_3

Jakarta.


Keesokan harinya.


Bara baru saja tiba di kantornya. Lelaki tampan dengan setelan jas hitam itu terlihat mengeluarkan ponsel dari saku celana saat masuk ke dalam ruangan, melakukan panggilan video dengan istri dan anaknya di Surabaya.


“Bell, kamu sedang apa?” tanya Bara, menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerja.


“Baru saja menemani Icca jalan-jalan keliling komplek,” cerita Bella, mengusap keringat yang menetes di dahinya.


“Ini masih duduk di teras samping,” lanjut Bella. Ia mengarahkan ponselnya ke arah taman, menunjukan keberadaannya pada sang suami.


“Icca mana?” tanya Bara lagi. Di layar ponselnya hanya dipenuhi wajah Bella, tidak terlihat putrinya sama sekali.


“Icca sedang dimandikan mbaknya,” sahut Bella.


“Kamu sudah mandi? Mau dimandikan juga?" tanya Bara menaikan alis untuk menggoda istrinya. Seperti biasa, mulai melemparkan rayuan maut lengkap dengan pikiran kotornya.


“Mas!" seru Bella kesal.


“Tunggu aku ke sana, ya,” goda Bara lagi.


“Kapan Mas ke sini?” tanya Bella.


“Sudah tidak sabar mau dimandikan?” Bara kembali usil.


“Mas, aku serius,” keluh Bella.


“Besok sore, ya. Hari ini aku harus bertemu dengan klien. Aku dapat proyek baru, membangun villa di Puncak. Pemiliknya berasal dari Surabaya juga. Kenalanku ... pengusaha mebel,” cerita Bara.


Untuk pertama kali Bara menceritakan pekerjaan pada istrinya. Bukan hanya Bella, dulu sewaktu dengan Brenda, ia tidak pernah melakukannya. Obrolan mereka lebih banyak untuk hal-hal yang ringan, tidak sedikit pun membahas pekerjaan.


“Oh ya? Mas mulai sibuk lagi? Bolak balik Jakarta - Puncak?” tanya Bella, memastikan. Terlihat otaknya berpikir, dahi berkerut dengan bibir mengerucut, membuat Bara menertawai ekspresi menggemaskan Bella.


“Makanya ... ayo kembali ke Jakarta. Jadi kita bisa bersama setiap hari,” bujuk Bara. Ia masih saja berjuang melunakan hati Bella.


“Aku pikir-pikir dulu, Mas.”


“Kalau kita berdekatan, Mas selalu mengajakku bertengkar,” celetuk Bella.


“Kamu ...." Bara tidak menyelesaikan kata-katanya.


Perhatiannya teralihkan saat pintu ruang kerjanya yang dibuka pelan. Muncul sekretarisnya yang cantik dengan rok mini dan sepatu tinggi.


“Pagi, Pak. Ada yang minta bertemu dengan Bapak,” ucap sang sekretaris dengan ragu-ragu. Ia merasa tamunya sedikit tidak sopan, berkunjung pagi-pagi sekali, tanpa membuat janji terlebih dulu.


“Bell, aku akan menghubungimu lagi setelah tamuku pulang,” ucap Bara, memutuskan panggilan videoanya.

__ADS_1


***


Bara menatap sekretarisnya, menunggu informasi apalagi yang akan disampaikan gadis manis yang sudah mendampinginya selama dua tahun ini.


“Siapa yang begitu sopannya meminta bertemu denganku di pagi buta ini?” tanya Bara, sarkas.


Belum sempat sekretaris itu menjawab, muncul sesosok laki-laki dengan postur besar tinggi dan berwajah oriental dari balik pintu.


“Bara,” sapanya dengan suara berat yang penuh wibawa.


“Roland?” Bara nyaris tidak percaya dengan kehadiran klien baru sekaligus kenalan yang baru saja dibicarakannya dengan Bella.


“Bukannya kita janji bertemu nanti siang?” tanya Bara heran, mengerutkan dahinya.


“Aku harus buru-buru kembali ke Surabaya. Besok adalah peringatan setahun meninggalnya almarhumah istriku. Aku harus mempersiapkan segala sesuatunya,” jelas Roland.


Bara menganguk, pertanda mengerti.


“Bagaimana? Apa bisa langsung ditandatangani?” tanya Roland.


“Oh ya. Silakan duduk dulu. Kenapa buru-buru sekali?” tanya Bara, mempersilakan.


Sekretaris Bara yang masih mematung segera mengambil inisiatif, menawarkan secangkir teh hangat atau kopi hangat pada atasan dan tamunya.


“Maaf, minumnya teh atau kopi, Pak?” tawarnya.


“Apa semua sudah oke? Tidak ada masalah lagi?” tanya Bara, memastikan lagi sebelum tanda tangan kontrak itu terjadi.


“Aku percayakan semua padamu,” sahut Roland, duduk bersandar dengan santai dan kaki terlipat.


“Baiklah, aku akan meminta asistenku membawa kontraknya ke sini, jadi kita bisa selesaikan secepatnya,” ujar Bara.


Keduanya terlibat obrolan ringan, sesekali bercanda sambil menunggu kedatangan Kevin. Mereka bukanlah baru kenal. Sebelumnya, sewaktu Bara tinggal di Surabaya, mereka pernah beberapa kali bertemu di club golf meskipun bukan sahabat yang akrab.


“Bagaimana kabar keluargamu, Bar? Aku dengar kamu sudah menikah lagi,” tanya Roland, sembari menyeruput kopi hitam dari cangkir keramik putih yang baru saja dihidangkan sekretaris Bara.


“Baik. Istri dan anakku sedang di Surabaya,” cerita Bara.


“Oh ya. Kapan kamu akan ke Surabaya, menyusul istrimu?” tanya Roland lagi, terlihat antusias.


“Aku belum tahu. Mungkin besok aku. Aku belum yakin ... harus melihat jadwal pekerjaanku dulu,” sahut Bara.


Roland terlihat mengangguk tanda mengerti. Tidak melanjutkan pembahasan mengenai keluarga Bara lebih jauh.


Tak lama, Kevin muncul dengan sebuah map hitam di tangan, meletakan kontrak kerja itu dan mempersilakan keduanya untuk menandatanganinya.


Kesepakatan itu berjalan lancar, Roland pun berpamitan untuk mengejar penerbangannya ke Surabaya.

__ADS_1


“Terima kasih, Bar. Nanti kabari aku kalau kamu ke Surabaya. Aku mau mengundangmu dan keluargamu berkunjung ke tempatku,” ucap Roland, sebelum berpamitan dan berjabat tangan dengan Bara.


***


Sore harinya, di Surabaya.


Bella baru saja selesai mandi saat terdengar suara pengasuh berteriak memanggil sambil menggedor pintu kamar.


“Ya. Ada apa, Mbak?” teriak Bella heran, membuka pintu dengan rambut masih digelung handuk dan berbalut piyama mandi.


“Nyonya, aduh ... bagaimana menceritakannya, ya. Di luar sana ada lelaki berewokan, tinggi, hitam pokoknya menyeramkan.” Mbak pengasuh menceritakan dengan napas memburu, wajah panik dan ketakutan. Tangannya menunjuk ke arah luar rumah.


“Ada apa, Mbak?” tanya Bella heran. Masih belum paham arah pembicaraan sang pengasuh.


“Ayo, ada apa? Bicarakan dengan tenang,” ajak Bella. Menarik tangan pengasuh putrinya itu agar duduk di sofa, di ruang keluarga yang tidak terlalu jauh dari kamarnya di lantai dua.


“Begini Nyonya. Aku tadi 'kan mengajak Icca jalan-jalan keliling komplek.”


Bella mengangguk. “Ya. Lalu masalahnya?” tanya Bella heran. Melepas handuk yang melilit kepalanya dan mengeringkan rambutnya sambil mendengarkan.


“Nah, laki-laki yang tampangnya mengerikan itu membuntuti aku dan Icca. Aduh, aku jadi takut,” adu sang pengasuh, bergidik.


“Yang benar saja? Mungkin perasaan Mbak saja,” komentar Bella, mencoba menenangkan dan berpikiran positif.


“Tidak, Nyonya. Aku lihat sendiri. Dia mengekor ke mana saja aku dan Icca melangkah. Senyumnya saja menyeramkan. Mana dia sempat mendekati dan mengajak Icca mengobrol lagi.”


“Aduh, Mbak. Jangan terlalu sering menonton sinetron. Jadinya 'kan begini.”


“Mana Icca?” tanya Bella lagi. Memandang ke sekitar, mencari keberadaan Issabell yang tidak terlihat.


“Icca aku titipkan dengan Ibu. Bermain di halaman depan,” sahut sang pengasuh.


“Tapi, ini serius, Nyonya. Aku takut laki-laki itu mau menculik Icca,” adunya lagi.


“Ya sudah, bawa masuk Icca ke dalam,” pinta Bella.


“Jangan terlalu sering main di luar rumah. Aku tidak mau diomeli suamiku kalau sampai kamu lalai menjaga Icca,” lanjut Bella lagi, bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya.


Bella masih tidak terlalu menanggapi cerita pengasuhnya. Selama tinggal di sini, tidak ada hal yang aneh-aneh. Para security yang berjaga di pintu masuk perumahan juga tidak mungkin sembarangan mengizinkan orang asing dan mencurigakan masuk ke dalam komplek.


***


T b c


Love You all


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2