
Roland berpamitan setelah merasa Issabell tidak mau berdekatan dengannya. Hanya dengan melihat dari dekat, itu sudah lebih dari cukup untuknya. Hanya bisa berdoa, suatu hari, putrinya bisa benar-benar menerima keberadaannya meskipun hanya berstatus orang lain.
Wajar saja, Issabell tidak mau bersamanya. Selama ini ia hanya orang asing bagi putrinya sendiri. Mungkin ini adalah bentuk hukuman atas dosanya dulu saat Rissa hamil dan ia menolak untuk menikahi dan memberi status pada anaknya sendiri.
Setelah ada orang lain yang mengambil tanggung jawabnya, rasanya tidak adil kalau ia masih ngotot dan memaksa.
Sebelum berpamitan, lelaki itu memberanikan mengecup paksa rambut Issabell yang beraroma khas sampo anak-anak, menikmati sentuhan langsung pada darah dagingnya. Ini adalah kali pertama ia menyentuh putrinya. Sebelum hasil tes DNA itu keluar, ia sama sekali tidak mau dekat dengan Issabell, meskipun saat penculikan yang didalanginya, ia memiliki kesempatan.
Rasa tidak percayanya pada Rissa, membuat Roland menolak mengakui putrinya sendiri, dan sekarang setelah semua jelas keadaan tidak di pihaknya. Issabell menolak keberadaannya. Hatinya kecewa saat merasakan Issabell yang ketakutan saat bersentuhan dan menjerit kencang.
"Ya, Om cuma mau sayang ...." Roland tidak melanjutkan perkataannya, bingung harus memanggil Issabell dengan sebutan apa.
"Kami biasa memanggil Icca," jelas Bella, membuang pandangannya.
Ada rasa sungkan ketika harus berdekatan dengan lelaki asing yang baru dikenalnya.
"Om pamit, ya," lanjut Roland.
"Saya pamit," ucapnya, tersenyum hangat pada Bella.
***
Sepanjang perjalanan menuju bandara, bibir Roland terus tersenyum. Gambaran putrinya di dalam gendongan Bella terus membayang di wajahnya. Tidak jarang lelaki itu bicara sendiri di kursi belakang, menggambarkan betapa menggemaskannya sang putri.
Kalau keadaan mendukung, ingin sekali membawa Issabell pulang ke Surabaya dan mengenalkan gadis kecil itu pada kedua orang tuanya.
"Ini, Pak," ucap sopir pribadi Roland selama tinggal di Jakarta. Tiba-tiba, laki-laki setengah abad itu menyodorkan ponselnya pada sang majikan.
Sewaktu Roland mengobrol di teras rumah, ia sempat mendokumentasikannya dengan kamera ponsel dari jauh. Lumayan untuk mengobati kerinduan sang majikan yang belakangan memilih tinggal di Jakarta sejak istrinya meninggal. Hanya ke Surabaya sesekali menjenguk kedua orang tuanya yang sudah renta.
Senyum terukir di wajah tampan Roland. Pria matang usia 45 tahun itu, mengusap layar ponsel dengan bibir melengkung ke atas. Menatap Issabell dan Bella tanpa berkedip. Di dalam sana ada sebuah kehangatan keluarga yang selama ini tidak didapatkannya.
"Putriku cantik sekali," bisiknya pelan. Membeku, menatap Issabell sampai akhirnya tatapan itu berpindah pada wanita muda dengan gaun hamil dan perut mulai membuncit seiring usia kandungannya yang kian membesar.
__ADS_1
"Aku bisa lega, setidaknya putriku diurus tantenya sendiri."
Jeda sejenak.
"Wanita ini masih muda, terlihat berbeda dibandingkan kakaknya," lanjut Roland. Bibirnya tidak berhenti berkata. Entah kalimat berita itu ingin dibagi dengan siapa, hanya ada dirinya dan sopir di dalam mobil.
"Rencananya, kapan Pak Roland kembali ke Jakarta?" tanya sang sopir lagi.
"Secepatnya. Untuk saat ini, aku ingin mengambil hati putriku. Aku berharap Bara mengizinkan. Suatu saat aku ingin mengenalkan Issabell pada kedua orang tuaku. Pasti mereka senang sekali," jelas Roland.
Tangannya dengan cekatan mentransfer foto dari ponsel sopir ke ponsel pribadinya. Dari sekian banyak foto Issabell yang tersimpan di ponsel pintarnya, hanya visual yang baru saja diambil, yang menggambarkan kedekatan Issabell bersama dengan Bella
***
Di sisi lain, Bella yang baru saja ditinggal tamunya, tampak mencari ponselnya. Masih dengan menggendong putrinya, Bella menghubungi suaminya, mengabarkan kedatangan Roland yang tiba-tiba di rumah mereka.
Tentu menjadi kejutan untuk Bara, lelaki itu bahkan langsung berpikiran negatif. Kedatangan Roland ke rumahnya, sedikit banyak membuatnya khawatir.
"Berapa lama dia di sana, Bell?" tanyanya setelah mendengar cerita istrinya panjang lebar, berusaha menutupi pikiran buruknya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Bara lagi. Laki-laki itu masih fokus dengan kemudi di tangan. Melajukan mobilnya sembari berbicara dengan istrinya di ponsel.
"Tidak ada. Hanya basa basi, Mas. Aku kasihan, sepertinya dia sangat menyayangi Icca, tetapi putri kecilmu ini menolak, tidak mau di dekati," cerita Bella.
Bara tersenyum. Meskipun ia sadar Issabell bukan putri kandungnya dan Roland adalah ayah biologis dan seharusnya lebih berhak atas Issabell. Namun, saat mendengar Issabell menolak Roland, ada semburat bahagia terlihat di wajah tampan Bara.
Sebut saja ia cemburu, dan benar adanya. Kalau bisa ia tidak ingin berbagi status ayah dengan orang lain. Sejak kecil Issabell bersamanya. Tiba-tiba, Roland datang membawa fakta tidak terbantah kalau Issabell putrinya. Sungguh berat rasanya untuk Bara. Belum siap menerima putrinya memanggil Daddy pada laki-laki lain.
Ia berharap bisa menjadi Daddy Issabell selamanya.
"Kalian tidak membahas hal lain bukan?" tanya Bara lagi. Rasanya ia ingin tahu semua hal. Kalau boleh jujur selain alasan Issabell, is sedikit tidak rela ketika istrinya dikunjungi laki-laki lain.
"Tidak ada, Mas," sahut Bella, belum paham arti dari pertanyaan suaminya yang menyimpan bibit-bibit cemburu.
__ADS_1
Cemburu tersembunyi karena Bara belum siap mengakui perasaannya sendiri. Selama ini, ia berusaha membantah. Baik di depan Bella atau pun dirinya sendiri. Laki-laki itu menolak mengakui perasaannya sendiri, yang sampai sejauh ini dirasakannya untuk Bella.
Getar-getar cinta yang entah saja kapan tumbuh, tetapi ia mulai merasakan kembali gairah yang dulu sempat dirasakan.
"Kamu tidak mengundangnya masuk ke dalam rumah kita, kan?" Bara kembali melempar tanya. Rasanya belum puas.
"Tidak, Mas."
"Jangan biarkan dia memandangmu, ya!" titah Bara, seperti anak kecil.
"Mas."
"Apa-apaan sih!" gerutu Bella, sudah ingin mematikan sambungan ponselnya. Kesal bercampur bahagia dengan pertanyaan Bara yang tidak berkesudahan.
"Maaf, tetapi kalau dia mengunjungi kalian lagi di rumah. Tolong kabari. Aku tidak mau istri dan putriku berduaan dengan lelaki lain di belakangku," jelas Bara.
Bella mengerutkan dahi. Masih dengan ponsel menempel di telinganya. "Jangan katakan Mas cemburu pada Roland," ucap Bella tiba-tiba.
Bara tergagap kali ini, kakinya tiba-tiba menginjak pedal rem. Seketika laju mobilnya terhenti.
"Ti ... tidak bukan seperti itu. Aku ... aku hanya ...." Bara berusaha mencari alasan.
"Aku hanya takut dia menculikmu dan Icca. Apalagi kamu sedang hamil, aku tidak mau terjadi sesuatu pada kalian," elak Bara.
"Baiklah kalau begitu, aku matikan dulu panggilannya, Mas."
Begitu sambungan itu terputus, Bella tersenyum menatap Issabell.
"Daddymu itu gengsinya tinggi sekali. Cemburu saja tidak mau mengakui. Padahal Mommy begitu berharap dia mengatakannya di depan Mommy," gerutu Bella.
***
T B C
__ADS_1
Love you all
Terima kasih.