Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 58. Ricko Ke Jakarta


__ADS_3

Dengan ragu dan penuh pertimbangan, akhirnya penjaga rumah alias security di gerbang depan mengizinkan laki-laki yang mengaku bernama Ricko itu masuk.


Masih dengan langkah sedikit sempoyongan karena jetlag lokal akibat perjalanan panjang dengan bus dari Surabaya menuju Jakarta, Ricko masuk ke pekarangan rumah ditemani security. Ricko mengedarkan pandangan ke sekeliling. Menatap kagum, bangunan mewah bertingkat seakan masih tidak percaya Bella si gadis sederhananya tinggal di sini.


“Mas, diketuk saja pintunya,” ucap security mengajarkan pada sang tamu tutorial berkunjung yang baik dan benar setelah melihat Ricko yang hanya bengong.


“Saya mau kembali ke pos security, takut ada maling kesiangan,” lanjut security setengah menyindir tamu majikannya yang datang di pagi buta. Bahkan ayam pejantan saja, belum keluar mencari nafkah.


“Baik, Bang,” sahut Ricko dengan santai. Masih memikul tas ransel yang terlihat berat dan terisi penuh di dalamnya.


Tok ... tok ... tok.


Ketukan ketiga, pintu megah dan gagah itu terbuka. Tampak asisten rumah berusia 30an muncul di balik pintu dengan mulut ternganga, nyaris tidak percaya.


“Pagi, Mbak,” sapa Ricko, tersenyum semanis mungkin. Berharap senyumannya yang tidak lekang dimakan waktu itu bisa meloloskannya, melenggang masuk ke dalam rumah.


“Pagi, Mas Tampan,” sapa asisten rumah tangga Bara yang sudah lama menjanda, mengedipkan kedua matanya berkali-kali.


“Mbaknya sakit mata,” batin Ricko.


Ricko sudah khawatir melihat raut wajah siap menggoda Mbak asisten. Setelah menguasai situasi, sang tamu tampan pun membuka suara.


“Mbak, Bellanya ada?” tanya Ricko, tiba-tiba menghentikan kedipan mata sang pembantu seketika.


Mbak pembantu langsung terkejut, mundur teratur tidak mau berharap lebih. Laki-laki gagah di depannya adalah tamu sang majikan. Mana berani ia yang seorang pembantu biasa menggoda tamu sang Nyonya rumah.


“Masuk, Mas.”


“Sebentar saya panggilkan Nyonya Bella,” lanjutnya serius. Bergegas masuk, meninggalkan sang tamu yang lupa dipersilakan duduk. Mbak Surti terlanjur patah hati.


Tidak butuh waktu lama, Bella muncul dari dalam dengan raut wajah pucat pasinya. Menggandeng Issabell yang tidak mau ditinggal sendirian di dalam kamar.


“Kak Ricko?” sapa Bella, ragu dan tidak percaya melihat tamunya kemudian mempersilakan Ricko duduk.


“Bell, apa kabar?” tanya Ricko tersenyum menatap pujaan hati yang hampir dua bulan tidak ditemuinya di kampus.


“Baik. Bagaimana bisa sampai ke sini, Kak Ricko?” tanya Bella heran.


“Oh, aku mendapatkan alamatmu dari Rissa,” sahut Ricko dengan santainya. Menatap gadis kecil yang menggengam erat tangan Bella. Tatapannya tajam dan terlihat tidak suka.

__ADS_1


Bagaimana Issabell bisa menyukai Ricko. Gadis kecil itu sedang bermanja dan bercanda dengan mommy-nya disaat pembantu mengetuk pintu kamar dan mengacaukan kesenangannya.


“Kak Rissa? Bagaimana bisa?” tanya Bella heran, ikut duduk di hadapan Ricko. Dunianya berputar kembali, kalau tidak cepat duduk, bisa saja langsung ambruk.


“Rissa di Surabaya. Aku sempat bertemu Rissa beberapa kali.”


“Hah!” Bella terkejut. Tidak menyangka selama sebulan ini kakaknya menghilang, ternyata sedang berada di Surabaya, tanah kelahirannya.


Sekarang berganti Ricko yang keheranan. Bagaimana dua saudara kandung ini tidak saling bertukar kabar. Bukankah Rissa sudah hampir sebulan ini kembali ke Surabaya.


“Aku juga kaget, sudah lama aku tidak bertemu dengan Rissa. Dan saat aku menanyakan kabarmu, Rissa memberi alamat ini. Dan menyuruhku menyusul saja,” cerita Ricko dengan polosnya.


Bella terkejut kembali dengan penuturan Ricko. Untuk apa sang kakak menyuruh Ricko menyusulnya ke Jakarta. Padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.


“Kak Ricko, serius mau bekerja di Jakarta?” tanya Bella. Itu yang terpikir di otaknya atas niat Ricko ke Jakarta. Ia masih mengingat jelas, telepon Ricko tiga minggu yang lalu, bercerita tentang niat laki-laki itu untuk mengadu nasib di ibukota.


Ricko mengangguk. Tujuannya ke Jakarta untuk mengadu nasib, selain itu dia juga mau mengejar cintanya pada Bella. Selama di Surabaya, Rissa banyak bercerita tentang adiknya dan itu menambah keyakinan Ricko untuk mendekati Bella. Walau sebelumnya ia pernah pacaran ala abg dengan Rissa, tetapi kali ini ia serius ingin menjalin hubungan dengan Bella.


“Kak Ricko, tinggal di mana?” tanya Bella lagi.


“Aku baru sampai ke Jakarta, makanya langsung mencarimu, Bell. Aku sudah mengirim pesan di ponselmu, tetapi kamu belum membacanya dari semalam,” cerita Ricko kembali.


Bella memang beberapa hari ini sedang tidak enak badan. Jadi tidak fokus fengan ponsel yang masih tersimpan di dalam tasnya.


“Maaf, aku belum sempat melihatnya, Kak,” ucap Bella.


“Oh ya ... Kak Ricko mau minum apa?” tanya Bella.


“Tidak perlu, Bell. Aku hanya minta ditemani mencari indekos saja. Aku belum paham Jakarta. Bisa?” tanya Ricko.


Hubungannya dengan Bella dulu di Surabaya terbilang dekat. Sering mengobrol dan bertemu hampir tiap hari, setiap Bella ke kampus.


Bella diam, menimbang apa yang harus dilakukannya. Rasanya tidak pantas dengan statusnya sekarang pergi berdua dengan Ricko. Bahkan menerima Ricko di ruang tamunya saja, ada rasa bersalah pada suaminya.


"Maaf, Kak ... aku tidak bisa," ucap Bella.


Bella menolak, menatap putrinya Issabell yang sekarang duduk manis di pangkuannya.


"Maaf, Kak Ricko, aku sudah meni ... kah ...."

__ADS_1


Ricko tidak mendengar kalimat Bella sampai selesai, kemunculan sosok gagah yang tiba-tiba sudah berdiri di pintu, menatap tajam keduanya, mengejutkan Ricko dan Bella.


"Mas," sapa Bella, saat pandangannya bertemu dengan tatapan mengerikan suaminya.


"Daddy," panggil Issabell, meloncat turun dari pangkuan dan menghambur, memeluk kedua kaki Bara yang terpaku di tengah pintu.


"Sayang, tolong bawa putri kita ke dalam," perintah Bara, mengangkat Issabell, menyerahkannya pada Bella.


Ricko terkejut, ada rasa tidak enak karena terlalu pagi sudah bertamu. Ia tidak tahu jelas, siapa laki-laki yang mendadak muncul di tengah pintu.


Namun, mendengar panggilan Bara pada Bella, sepertinya laki-laki ini bukan orang sembarangan. Jantung Ricko langsung berdetak kencang, saat langkah kasar kaki Bara makin mendekat. Jantungnya makin berdegup.


"Mas, maaf," bisik Bella, saat mengambil alih Issabell dari gendongan Bara.


"Masuk Bell!" perintah Bara sedikit melembut.


"Mas, Kak Ricko tidak tahu apa-apa tentang hubungan kita. Aku belum sempat bercerita," jelas Bella, berusaha menahan Bara agar tidak murka dan bertengkar dengan tamunya.


"Masuk sekarang Bell!" perintah Bara sekali lagi. Lebih keras dan penuh penekanan.


Setelah memastikan Bella dan Issabell masuk ke dalam rumah, Bara mengalihkan pandangannya pada Ricko. Tajam dan mengintimidasi.


"Pagi, Pak," sapa Ricko, mengulurkan tangannya. Mencoba menjaga kesopanannya. Walau ia tidak tahu jelas siapa laki-laki yang berdiri tegak di hadapannya, tetapi mereka pernah bertemu di Surabaya, saat Bella datang ke kafe, mengurus proses kepindahan kuliahnya ke Jakarta.


"Pagi ...." Bara menerima uluran tangan Ricko.


Sudah lama ia ingin berhadapan langsung dengan Ricko, tetapi niat itu diurungkan setelah ia kembali ke Jakarta.


Namun, saat ini laki-laki itu menyusul istrinya sampai ke rumahnya. Mau tidak mau, ia harus mengenalkan diri dan statusnya di depan Ricko.


"Maaf, ada keperluan apa dengan istriku, Bella?" tanya Bara.


***


T B C


love you all


terima kasih

__ADS_1


Om Pram hari ini up 1 bab, agak malam. aku lagi ada kerjaan🙏🙏


__ADS_2