
"Astaga Mas. Aku kira apa yang Mas catat di sini. ini persiapan untukmu semua, Mas." Bella menggeleng-geleng kepala.
Dibawah poin-poin yang ditulis Bara, ada beberapa perlengkapan yang juga harus disiapkan. Manik hitam ibu hamil itu tentu saja membulat hebat saat memastikan kalau semua barang yang didata suaminya adalah barang-barang pribadi untuk Bara sendiri.
"Ini apalagi, Mas?" tanya Bella, menunjuk di bagian bawah kertas.
"Oh ya, hampir lupa. Tolong sekalian dilipat juga pakaianku, Bell. Buat jaga-jaga, takutnya panik membuat otakku buntu." Bara sudah berlalu, bergegas menuju walk in closet. Mengeluarkan kaos-kaos mahal dan bermereknya dari lemari. Sebotol parfum masih lengkap dengan kotak. Ditambah dengan perlengkapan mandi seperti sabun, sikat gigi, odol dan shampo lengkap dengan conditioner.
"Mas, kamu tidak salah?" tanya Bella. Memandang tak percaya pada setumpuk barang yang dijatuhkan Bara di tempat tidur.
"Ayolah Bell, jangan bawel Sayang. Tinggal masukan saja ke dalam tas itu!" ucap Bara menunjuk pada tas yang sudah terisi dengan perlengkapan bayi dan pakaian ganti untuk Bella.
"Tidak muat, Mas. Coba Mas lihat sendiri, barang-barang Mas ini kalau diadu dengan barangku dan adek bayi masih jauh lebih banyak punyamu, Mas," keluh Bella.
Pupil matanya kian membesar saat melihat Bara memeluk handuk dan celana panjang yang siap ditumpuknya, menyusul perlengkapan mandi.
"Apa aku pakai koper sendiri, ya." Bara tampak berpikir. Sedangkan Bella hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Mas, ini juga pengalaman pertamaku. Sama sepertimu, tetapi tidak perlu seperti ini. Aku melahirkan di Jakarta, dua meter dari rumah. Bukan di luar negri."
"Kenapa harus menyiapkan koper segala. Lagi pula untuk apa Mas membawa semua ini?" tanya Bella, kesal.
"Aku ingin tampil sempurna menyambut jagoanku. Kesan pertama itu akan diingat seumur hidup oleh anak kita, Bell." Bara beralasan.
"Huh! Saat jagoanmu lahir ke dunia, matanya saja belum terbuka sempurna, Mas. Dia tidak akan melihatmu pakai sarung atau tanpa alas kaki. Anak kita tidak tahu apa-apa," omel Bella semakin kesal.
"Aku tidak peduli, aku mau menyambut putraku dengan penampilan sempurna.
Sejak HPL Bella semakin dekat, Bara semakin menjadi. Tiap malam sebelum tidur, laki-laki itu berdandan klimis, menyemprotkan minyak wangi di sekujur tubuhnya. Kumur-kumur dengan pengharum mulut setiap saat. Calon ayah itu sangat menjaga penampilannya, demi bertemu sang buah hati dalam keadaan sempurna.
"Terserah padamu saja, Mas. Ini! Masukan sendiri ke dalam kopermu!" Tas ini sudah tidak bisa menampung barang-barangmu, Mas," gerutu Bella.
__ADS_1
"Ini lagi! Apa maksudnya kaca mata hitam tidak boleh ketinggalan. Mas mau menungguku lahiran atau mau piknik!" omel Bella, menunjuk tulisan paling bawah di kertas coretan Bara.
"Itu buat jaga-jaga, Sayang. Kalau kurang tidur, pasti mataku menghitam. Jadi aku bisa menutupi lingkar hitam dan kantung mataku, Sayang."
Bella kembali menggeleng kepala. "Mas, aku pusing denganmu. Kamu urusi sendiri saja keperluanmu. Perutku bisa mulas kalau disuruh mengurusimu yang kurang kerjaan."
Bella melempar pakaian dan perlengkapan Bara ke permadani yang terhampar di lantai kamar.
"Eitss ... Bell. Kenapa barang-barangku dibuang?" tanya Bara tidak terima, menatap sedih barang-barangnya teronggok pasrah di lantai.
"Bukan dibuang, Mas. Tempatnya memang di sana. Aku mau istirahat sebentar." Bella merapikan kembali tasnya dan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Baru lima menit berbaring telentang, Bella sudah memiringkan tubuhnya ke kanan. Tak lama berganti ke kiri. Hamil besar membuatnya tidak nyaman. Tidur pun tidak pernah lelap. Ada saja keluhan setiap malam.
"Mas, bisa tolong pijatkan pinggangku sebentar?" pinta Bella.
Bara yang sedang memasukan barang-barangnya ke koper, langsung berhenti. "Pegal lagi, Bell?" tanya Bara. Ibanya membuncah saat melihat raut tidak nyaman istrinya.
“Mas, kalau kacamata hitam itu dipakai sekarang, sepertinya pas,” ucap Bella asal. Menggoda sang suami yang tampak serius.
“Maksudmu, Bell?” tanya Bara masih belum paham.
“Biasanya pemijat profesional selalu indentik dengan kacamata hitamnya, Mas. Aku yakin kalau Mas mengenakannya sekarang, Mas akan mendapat banyak pelanggan.” Bella tergelak hebat setelah meledek sang suami.
***
Tengah malam, Bara baru saja kembali dari kamar putri-putrinya. Memastikan keduanya sudah terlelap, merapikan selimut dan mematikan lampu kamar. Laki-laki itu terkejut, saat mendapati tempat tidurnya kosong tak berpenghuni.
“Bell, kamu di mana, Sayang?” Panik tiba-tiba menyerang.
Mengedar pandangan ke sekeliling, Bara segera menuju ke kamar mandi setelah mendengar suara gemericik air dari luar pintu.
__ADS_1
“Bell, kamu baik-baik saja? Kamu sedang apa?” tanya Bara, mengetuk pelan pintu kamar mandi.
Lima menit menunggu dalam was-was, muncul wajah lega Bella, mengulas senyuman tipis pada suaminya. “Perutku sakit , Mas.” Bella berkata.
“Kenapa tidak menungguku? Aku bisa menggendongmu ke kamar mandi,” keluh Bara.
“Aku baik-baik saja, Mas. Hanya perutku mulas saja,” sahut Bella santai, tetapi memercik kepanikan pada suaminya.
“Hah! Kamu sudah sakit perut, Bell? Apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?” tanya Bara, memberondong Bella dengan banyak pertanyaan.
“Sudah baikan, Mas. Hanya sakit perut biasa,” sahut Bella santai. Melenggang santai menuju tempat tidur. Daster dengan motif bunga kemerahan itu melambai-lambai saat Bella berjalan dengan perut besarnya.
“Kamu serius? Bukan sakit perut karena mau melahirkan, Bell? Jangan membuatku panik, Sayang,” ucap Bara, lembut. Mengusap perut istrinya. Laki-laki itu ikut naik ke atas tempat tidur, duduk tegak memandang perut istrinya.
“Tidak Mas, ini hanya sakit perut karena kebanyakan makan rujak buah pedas, tadi siang,” sahut Bella.
Jawaban Bella tetap membuat Bara ragu. Setelah memastikan istrinya tidur, laki-laki itu masih menatap perut besar Bella, menikmati perut besar yang kadang bergelombang karena tendangan bayi mereka.
Senyum merekah sembari mengusap pelan. Bara menempelkan bibirnya, berbisik pelan. “Hai jagoan daddy. Ayo cepat keluar. Daddy sudah tidak sabar ingin melihat mahakarya pertama daddy. Pasti sesempurna daddy,” ucap Bara dengan bangga.
Sampai subuh menjemput, laki-laki itu masih terjaga. Dengan mata mengantuk, Bara yang hampir terlelap segera terjaga lagi saat merasakan pergerakan sang istri.
“Bell, sakit perut lagi?” tanya Bara, dengan suara melemas menahan kantuk, Ini sudah pertanyaan ke sekian kalinya sejak tengah malam.
“Hmmmm,” gumam Bella, masih terlelap.
“Bell, beneran tidak sakit perut?” tanya Bara lagi.
“Tidak Mas, tidur saja. Kenapa kamu berisik sepanjang malam. Menganggu tidurku saja!” omel Bella dengan mata terpejam.
***
__ADS_1
TBC