
Bella mengekor masuk ke dalam bersama Rania. Terlihat di luar kamar perawatan, kedua orang tua Brenda sedang duduk dengan wajah lesu dan kurang tidur.
“Oma, Opa.” Gadis kecil itu menyapa kakek neneknya yang terkejut dengan kedatangan mereka. Bella yang berjalan di belakang Rania, tersenyum.
“Pak, Bu.”
Bella ikut menyapa pada sepasang suami istri yang usianya di atas setengah abad. Yang lelaki, Pak Sutomo terlihat heran, mengerutkan dahi. Ekspresi berbeda tunjukan Ibu Sutomo, berusaha memamerkan senyuman ramah di wajah sembab dan kurang tidurnya.
“Ini istrinya Bara, Pak.” Ibu Sutomo menjelaskan, sembari memeluk cucunya, Rania.
Pak Sutomo mengamati dengan seksama. Sedikit terkejut di pertemuan pertama mereka. Selama ini ia sudah mengetahui pernikahan kedua Bara, tetapi tidak menyangka sosok istri Bara yang jauh lebih muda dari bayangannya.
“Oma, Rania mau menjenguk Mommy di dalam. Boleh?” tanya gadis itu setelah melepas pelukannya.
“Tentu.” Ibu Sutomo mengandeng masuk cucunya supaya bisa bertemu langsung dengan mommy-nya. Ia berharap kedatangan Rania bisa membuat Brenda jauh lebih bersemangat untuk melawan penyakitnya.
Bella sendiri, menjatuhkan tubuhnya di bangku stainless steel yang tadinya diduduki Ibu Sutomo. Memilih menunggu di luar, ia menemani Pak Sutomo.
“Maaf ... em ...." Pak Sutomo menatap ke arah Bella.
“Bella ... panggil Bella saja,” sahut Bella yang mengerti kebingungan lelaki tua yang diperkirakan usianya sekitar 60an.
“Maaf, Nak Bella. Membuatmu terlibat dalam masalah keluarga kami,” ucapnya pelan, terkandung penyesalan.
“Tidak apa-apa, Pak.”
Lelaki itu kembali memandang Bella. Entah apa yang ada di pikirannya, sampai tiba-tiba ia membuka suara.
“Maaf, sudah lama menikah dengan Bara?” tanya Pak Sutomo.
“Dua tahun, Pak.” Pak Sutomo terkejut. Bara sudah membuka hatinya kembali.
Berbeda dengan Brenda, masih berkutat dengan masa lalunya. Perceraiannya dengan Bara membuat Brenda berubah.
“Kami kehilangan jejaknya sejak perceraian dan baru bertemu kembali beberapa bulan belakangan. Itu pun tanpa sengaja,” ucapnya.
“Ya, Mas Bara tinggal di Surabaya.”
__ADS_1
Pak Sutomo menghela napas. Melihat betapa besar cinta Bara pada putrinya dulu, besar harapannya keduanya kembali bersama. Apalagi ia melihat sendiri, Brenda yang terpuruk dan sadar akan perasaannya pasca perceraian. Mulai menata hidupnya, kembali ke jalan yang benar. Bahkan Brenda memilih tidak menikah lagi.
Sejauh ini, ia masih bingung dengan sikap Brenda yang selalu membenci saat bertemu Bara. Namun, apa yang ditangkapnya, Brenda menyembunyikan perasaan cintanya pada Bara di balik kebencian itu. Entahlah, yang sebenarnya hanya Brenda yang paling tahu isi hatinya sendiri.
“Silakan kalau mau masuk ke dalam. Brenda sudah melewati masa kritisnya. Sempat drop kemarin,” cerita Pak Sutomo dengan tatapan menerawang.
“Tidak, Pak. Saya menunggu di sini saja,” sahut Bella. Ia sendiri bingung, bagaimana harus bersikap di dalam posisinya saat ini. Bertemu dengan keluarga dari mantan istri suaminya.
Tidak lama, Rania keluar dengan menggandeng tangan Omanya.
“Mommy Bella, ikut denganku ke dalam,” pintanya. meraih tangan Bella dengan manja.
Mendengar panggilan Rania pada Bella, membuat sepasang suami istri itu terkejut, termasuk Bella yang mematung di tempatnya duduk.
Ia bingung dengan sikap gadis ini. Biasanya Rania akan memanggilnya Tante, tetapi kenapa di depan kakek neneknya, Rania memanggilnya seperti itu.
Ada rasa tidak enak, mendengar Rania memanggilnya seperti itu. Ia khawatir, kedua orang tua itu menganggapnya akan mengambil alih Rania dari mereka, dari mama kandunganya.
Berusaha bersikap setenang mungkin, Bella mengikuti ajakan Rania untuk masuk menemui mommy-nya. Gerak langkah diiringi tatapan ketidaksukaan dari Ibu Sutomo. Sebagai perempuan, perasaannya lebih sensitif dibanding suaminya.
“Pak, tampangnya saja lugu dan baik-baik. Aslinya menghanyutkan. Beraninya dia meminta Rania kita memanggilnya Mommy,” celetuk Ibu Sutomo. masih saja memandang sinis.
***
Saat Bella masuk, terlihat Brenda sedang tertidur. Rania dengan wajah sembabnya menarik kursi dan duduk di samping mommy-nya. Kembali menangis sembari mengengam tangan Brenda yang melemas di atas brankar.
“Tante, tidak bisakah meminjamkan Daddy untukku dan Mommy,” ucapnya tiba-tiba, di tengah isak tangisnya.
“Kami lebih membutuhkan Daddy sekarang,” lanjutnya lagi.
Bella terperanjat. Tidak menyangka sedikit pun akan mendengar permohonan seperti ini dari seorang anak kecil. Pandangannya beralih menatap wajah Brenda yang pucat dan kurus. Jauh dari tampilan di saat pertemuan mereka di kantor Bara.
Wanita itu sangat cantik, membuatnya iri dan cemburu. Namun, kecantikan itu seperti tidak bersisa. Brenda pucat, kurus dengan tulang pipi menonjol. Semburat iba dan kasihan menyusup di dalam hatinya.
Perasaan iba itu semakin menjadi saat mendengar isak tangis Rania yang begitu memilukan. Perlahan, ia mengusap perut ratanya. Kepalanya pusing, dunia berputar tiba-tiba. Buru-buru mencari pegangan untuk menjaga keseimbangan supaya tidak ambruk dan terjatuh.
Tiba-tiba, dari arah luar kamar ia mendengar suara berisik. Teriakan kasar dan kemarahan dari suara yang terdengar familiar.
__ADS_1
“Mas ...."
Berusaha menguatkan diri, Bella berjalan tertatih untuk memastikan asal keributan. Berharap itu bukan suaminya yang menyusul. Pasti Bara akan memarahinya, kalau sampai tahu ia menemani Rania ke rumah sakit.
Deg—
Sosok yang dikhawatirkannya benar-benar nyata. Bara dengan setelan kerja, berdiri kaku di hadapannya. Tatapan yang penuh amarah.
“Mas,” sapa Bella pelan. Ketakutan lebih mendominasi di dalamnya.
“Apa-apaan kamu, Bell!” omel Bara di kalimat pertamanya.
“Maafkan aku, Mas,” bisik Bella, merasa bersalah sudah pergi ke rumah sakit, menemui Brenda tanpa mengantongi izin dari suaminya.
“Kita pulang sekarang. Jangan ikut campur lagi. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.” Bara berkata, meraih tangan Bella dan mengajak istrinya pulang.
Bapak dan Ibu Brenda hanya mematung di tempat, tidak mau terlibat lebih jauh pertengkaran rumah tangga mantan menantunya.
“Rania masih di dalam, Mas,” bisik Bella.
“Aku akan mengurusnya nanti. Kamu menunggu di mobil saja,” ucap Bara sedikit lebih lembut dari sebelumnya.
Setelah memastikan Bella sudah kembali ke mobil ditemani Pak Rudi, sopir mereka. Bara kembali menemui mantan ayah dan ibu mertuanya.
“Apa yang Brenda butuhkan? Aku akan memenuhi semua permintaannya, tetapi jangan mengganggu rumah tanggaku,” ucap Bara dengan suara keras.
“Uang? Mau seberapa? Katakan saja!” lanjut Bara.
Pak Sutomo yang terlanjur kesal dengan ketidaksopanan Bara, langsung bersuara.
“Brenda masih mencintaimu. Kalau mau membantu, kembalilah pada Brenda dan Rania. Mereka membutuhkanmu!” Pak Sutomo berkata dengan tidak tahu malunya.
***
T b c
Love You All
__ADS_1
Terima kasih