
Bara menelan saliva ketika masuk kembali ke ruang perawatan sang ibu mertua. Mata memerah dan melotot mengikuti pergerakan kakunya. Ya, Bella menatap tajam ke arahnya, meski tanpa suara omelan, Bara yakin saat ini istrinya siap meletup.
Hanya saja Bella masih menjaga wibawanya sebagai seorang suami di depan Ibu Rosma, kalau tidak Bara yakin letusan demi letusan itu takkan terelakan, meluncurkan magma panas yang siap menghancurkannya.
Berjalan pelan, mengikis jarak dengan wanita hamil bergaun sederhana. Bara menjatuhkan tubuh kekarnya di sofa, tepat disebelah sang istri. Tanpa suara, tanpa ekspresi menyimpan khawatirnya di dalam hati. Setidaknya, selama Ibu Rosma masih terjaga, nyawanya masih aman sentosa. Bella tidak akan mengaum dan menunjukan taringnya. Tidak akan mencabik cabik tubuhnya.
Ketika singa jantan menikah dengan seeokor kelinci betina yang imut, disitulah sang raja hutan kehilangan kekuatannya. Bahkan untuk bersuara pun sudah tidak mampu. Yang bisa dilakukan hanya menurut dan menjadi singa jantan yang manis.
“Sayang.” Lelaki itu berbisik lirih. Ringan dan pelan, sembari menautan jemarinya pada jemari lentik istrinya dengan setengah memaksa. Bella belum rela menyudahi peperangan yang belum dimulai.
“Jangan coba-coba merayuku, Mas. Kesalahanmu kali ini tidak termaafkan,” gerutu Bella.
“Bell, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu. Hanya saja ....”
“Berbohong tetap berbohong, Mas. Bermaksud atau tidak, semua sudah terjadi. Sebaiknya, Mas kembali ke Jakarta, lanjutkan lagi drama dan kebohonganmu!” potong Bella, dengan wajah dipenuhi amarah.
Bara menghela nafas berat. Pekerjaannya sekarang tidak bisa dikatakan mudah. Untuk melunakan hati Bella, pasti butuh perjuangan panjang.
“Brenda koma. Kemarin pagi, Rania menghubungiku, Bell. Aku tidak mau membuatmu terbebani, jadi aku putuskan mencari tahu terlebih dulu sebelum membagi cerita ini denganmu,” jelas Bara. Berharap masih tersisa kesempatan untuknya, setelah melanggar kepercayaan Bella untuk kesekian kalinya.
“Aku tidak masalah dengan Mbak Brenda. Mas mau membantu, mau menjenguk, mau menjaganya, aku tidak keberatan, tetapi aku tidak suka dengan semua kebohonganmu, Mas.”
“Harusnya Mas jujur sejak awal. Jadi tidak membuatku kecewa.” Bella melepaskan tautan jarinya. Terlanjur kesal dengan sikap Bara yang seenaknya.
Ibu Rosma yang melihat keduanya berbisik-bisik di sofa, krasak-krusuk sejak tadi, sudah bisa membaca kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan putri dan menantunya. Raut cemberut yang menghiasi wajah Bella menjawab semuanya.
“Ehemmm! Bell, bisa tolong belikan ibu roti di lobi,” pinta Ibu Rosma, dengan tampang memelasnya. Menggunakan cara ini supaya memiliki waktu berbicara dari hati ke hati dengan menantunya.
“Iya Bu.”
__ADS_1
Bella tidak protes, segera beranjak mencari dompetnya. Melihat Bella mengobrak-abrik tas tangannya, Bara dengan sigap mengeluarkan dompet dari kantong celana. Lelaki itu tahu, istrinya kehilangan dompetnya lagi, yang entah diletakan dimana.
“Bawa dompetku saja, Bell,” ucap Bara, menyodorkan dompet kulit berwarna hitam kepada istrinya.
Meraih dompet Bara tanpa bicara, Bella melangkah keluar kamar. “Bu, Bella jalan dulu,” pamitnya, melirik ke arah suaminya.
Sepeninggalan Bella, Ibu Rosma memanggil Bara. Meminta lelaki itu duduk di samping tempat tidurnya.
“Ada apa lagi, Bar?” tanya Ibu Rosma. Menatap lekat, siap menunggu jawaban.
Helaan nafas kasar menandakan seberapa berat untuk membuka masalah rumah tangganya kepada orang lain, meskipun itu ibu mertuanya sendiri.
“Bella marah padaku karena aku menemui Brenda dan Rania lagi, Bu.” Lelaki itu membuka cerita. Ada sesal yang sulit diungkapkan dari nada bicaranya.
Ibu Rosma menggeleng. “Bukankah sudah sering Ibu katakan, cobalah terbuka. Bella terkadang memang masih kekanak-kanakan, tetapi ada masanya dia akan menjadi dewasa dan memahami masa lalumu. Cobalah jujur padanya tentang semua masa lalumu. Suatu saat Bella pasti mengerti,” jelas Ibu Rosma.
“Ibu tidak bisa membantu. Hanya kamu yang bisa menyelesaikannya, Bar.”
Bara tertunduk. Di usianya yang tidak muda lagi, kembali harus berurusan dengan rumitnya masalah rumah tangga yang tidak ada habis-habisnya. Terkadang lelah, tetapi dia bisa apa.
Setiap rumah tangga pasti ada masalahnya. Menyatukan dua kepala dengan dua pemikiran yang berbeda di atas biduk yang sama itu tidak mudah. Apalagi dia dan Bella terpaut umur yang lumayan jauh, cara berpikirnya pun jauh berbeda. Cara memandang masalah pasti dari sudut yang berbeda.
Harus banyak mengalah, baik dirinya dan Bella, baru bisa menyatukan semua perbedaan pandangan. Dan sejauh ini, Bara sadar dia memiliki karakter yang cukup keras dan mudah terpancing emosi. Ini juga yang menjadi pemicu awal kegagalan rumah tangganya dulu bersama Brenda.
Kalau diposisinya, selalu menuntut istrinya untuk bisa berpikir dewasa seperti yang diharapkannya. Dan tentunya dari sisi Bella, ingin suaminya bisa mengerti perasaannya yang masih di usia butuh pengertian dan perhatian lebih.
Bahkan belakangan Bara baru paham, bagi istrinya pernyataan cinta melalui ucapan itu tidak kalah pentingnya dibanding pernyataan cinta yang ditunjukan dengan perbuatan.
***
__ADS_1
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Ibu Rosma diizinkan pulang ke rumah. Bella yang masih menabuh genderang perang, sama sekali tidak bisa di ajak bicara. Memilih duduk menjauh setiap Bara mendekat.
Sampai di rumah pun keadaan masih sama, tidak ada perubahan. Segala bujuk dan rayu dilontarkan Bara, mengulang kata maaf dan menjelaskan berkali-kali, hasilnya tetap sama. Bella tetap belum mau berbaikan.
Dua hari berada di Surabaya, usaha Bara bisa dikatakan sia-sia. Hubungannya dengan sang istri belum membaik. Meskipun di depan Ibu Rosma, Bella bisa tersenyum, tetapi saat di belakang, Bella akan melakukan gerakan tutup mulut dan tutup telinga. Tidak mau didekati, bahkan tidur pun Bara hanya diizinkan menatap punggung istrinya.
Sore itu seperti biasa, Bara akan menemani Issabell bermain di halaman. Gadis kecilnya paling suka bermain lari-larian. Sedangkan Bella duduk menatap dari kejauhan sembari mengusap perut besarnya, sesekali mengajak bayinya berbincang.
Melihat istrinya duduk sendirian, Bara kembali mengambil kesempatan. Kakinya baru saja akan melangkah mendekati istrinya, tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar. Lelaki itu mengerutkan dahinya saat mendapati nama Stella muncul di layarnya.
Sedikit kesal, tetapi dia tidak bisa apa-apa. “Iya Ste, ada yang bisa dibantu?” tanya Bara, begitu ponsel hitam itu menempel di telinganya. Matanya tak lepas memandang istrinya.
“Mas, apa bisa berkunjung ke rumah sakit? Kak Brenda baru saja sadar dari koma, minta bertemu dengan Mas Bara dan Mbak Bella,” cerita Stella.
Lelaki itu tertegun di tempat, sebelum akhirnya menjawab. “Bicara dengan istriku saja. Aku tidak bisa membuat keputusan,” sahut Bara, berjalan mendekat ke arah Bella.
Ketika tertinggal jarak beberapa langkah, Bella menoleh ke arahnya dengan pandangan penuh tanda tanya.
“Bell, Stella ingin bicara denganmu. Boleh?” tanya Bara, menyodorkan ponselnya pada sang istri.
Bella yang tidak tahu apa-apa, hanya menatap dalam diam.
“Kalau tidak mau, tidak apa-apa. Aku akan menolaknya, Bell,” lanjut Bara. Baru saja lelaki itu akan menyampaikan pada Stella, Bella menahan tangannya. Menarik suaminya itu duduk di sisinya.
“Ada apa?” tanya Bella dengan gerak mulut tanpa suara. Bara menggeleng, pertanda di juga tidak tahu untuk apa Brenda ingin bertemu dengannya dan Bella.
***
TBC
__ADS_1