
Dalam penerbangan GA 342 tujuan Surabaya - Denpasar, Bara terlihat sibuk dengan laptop menyala di depannya. Berbeda dengan Bella, ibu hamil itu sibuk membolak-balik majalah di tangannya. Bukannya membaca, Bella hanya menatap lembaran demi lembaran tulisan bergambar yang tidak menarik minatnya sama sekali.
“Sweetheart, kenapa tidak dimakan?” tanya Bara, tersenyum menatap Bella dengan wajah anehnya. Bibir istrinya mengerucut aneh. Senyum Bara hilang, berganti menatap sajian dari pihak maskapai yang masih utuh tanpa tersentuh.
Bella menggeleng. Melihat isi di dalam kotak bukannya membuat nafsu makannya bertambah, tetapi malah sebaliknya. Kudapan di dalam kotak, membuat selera makannya hilang.
“Mau dipesankan jus?” tawar Bara, menggenggam tangan istrinya.
Kembali Bella mengeleng. “Mas, masih lama?” tanya Bella, mulai kebosanan di dalam pesawat. Bara sejak tadi sibuk dengan urusannya sendiri, terlalu larut dengan pekerjaan dan mengabaikannya.
“Kemarilah!” Bara meraih kepala Bella dan menyandarkannya di pundaknya.
“Kenapa?” tanya Bara, membuka genggaman tangannya, berganti menautkan jemari-jemarinya yang panjang dengan jemari lentik istrinya.
“Tidak ada Icca, rasanya lama sekali waktu berlalu. Sewaktu terbang ke Surabaya kemarin, ada ibu menemaniku mengobrol.”
“Kamu mulai pintar menyindir suamimu,” celetuk Bara.
Lelaki itu cukup mengerti arti ucapan Bella, tanpa bertanya lebih jauh lagi, Bara menutup laptop di hadapannya. Memilih mencurahkan perhatian lebih pada istrinya. Kepergian Bella ke Surabaya dengan membawa Issabell tanpa pamit, cukup memberi efek untuknya. Lumayan membuatnya tersadar akan sikapnya selama ini yang mungkin tanpa sengaja telah menyakiti Bella.
Ditambah nasehat dan petuah dari Ibu Rosma, sang mertua. Membuat mata dan pikirannya terbuka, akan arti berumah tangga yang diinginkan Bella. Gadis sembilan belas tahun yang dinikahinya tanpa cinta, yang dipilihnya tanpa perhitungan matang.
Menikahi gadis yang jauh di bawah usianya, belum matang sepenuhnya membuatnya ia sadar kebih cepat, Bella belum sepenuhnya bisa mengikuti alur pikirannya. Ketika umur dan pengalaman menuntutnya bisa berpikir dengan menggunakan logika, menunjukan segala sesuatu dengan tindakan, tetapi tidak berlaku untuk istrinya.
Istrinya lebih banyak menggunakan perasaan, menilai segala sesuatu tidak jauh dari apa yang didengar. Di saat pemikiran dewasanya lebih mementingkan tindakan dibanding perkataan, tetapi tidak dengan istrinya. Bella hanya dengan mendengar kata Love tanpa makna saja akan kebakaran jenggot, meskipun sayang dan perhatiannya ke Bella sudah ditunjukan dengan begitu besarnya. Itu seakan tidak cukup, Bella butuh pernyataan bukan hanya tindakan.
Dulu, Bara mengira dengan memilih Bella dibanding Rissa, akan lebih memudahkan jalannya. Gadis lugu itu akan menurut dan tidak protes dengan banyak hal, tetapi dugaannya salah. Bella berubah, mengeluarkan taringnya. Burung merpati itu berubah menjadi elang betina dan siap mencabik-cabiknya saat ia melakukan sedikit saja kesalahan.
“Aku tidak bermaksud begitu,” sahut Bella, mulai terlihat kesal.
“Sebentar lagi kita tiba di Ngurah Rai,” sahut Bara, menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya sekilas.
Dan sesuai yang diucapkan Bara, tidak lama keduanya sudah menginjakan kaki di Bali. Senyum tidak pernah lepas dari wajah cantik Bella, ini adalah pengalaman pertamanya.
“Mas, aku boleh pinjam ponselmu,” pinta Bella.
Bara mengerutkan dahinya. Terdengar aneh, tetapi buru-buru ia mengeluarkan dan menyerahkannya pada Bella. Pengalaman membuatnya banyak belajar. Pertengkaran mereka sebelum ini berhubungan dengan ponselnya.
“Ini!” sodor Bara. Meskipun heran, lelaki itu memilih bungkam. Terlalu banyak bertanya, Bella makin berpikiran buruk padanya.
Begitu ponsel mahal milik suaminya itu sampai di tangan, Bella segera menghubungi Ibu Rosma, mengabari keadaan mereka yang sudah tiba di Bali. Menyempatkan video call dengan putrinya. Ada rasa iba saat mendengar tangis gadis kecil yang menjerit di pelukan omanya saat melihatnya dan Bara bersama.
“Mommy," jeritnya histeris. Mulai menangis, berteriak membuat Ibu Rosma kewalahan.
“Mas, aku ingin pulang saja,” ucap Bella, buru-buru memutuskan panggilannya.
__ADS_1
“Baru saja akan menikmati babymoon, kenapa kamu sudah memikirkan pulang,” keluh Bara kesal.
“Aku tidak tega meninggalkan Icca di sana sendirian, Mas. Kasihan Ibu.”
Bara tersenyum. “Kamu tenang saja, pengasuh Issabell dalam perjalanan ke Surabaya. Aku sudah meminta Kevin mengurusnya. Jadi kamu bisa berlibur dengan tenang,” jelas Bara, melingkarkan tangannya di pinggang Bella.
***
Bara mengajak Bella ke sebuah toko ponsel sesaat setelah keluar dari bandara Ngurah Rai, begitu mendengar cerita Bella, kalau ponselnya rusak oleh oknum tidak dikenal. Ia sempat kehilangan momen ini, meskipun mengikuti Bella sejak turun dari mobil di pintu keberangkatan.
“Nanti di Surabaya aku akan membelikanmu ponsel baru,” ucap Bara, menatap ponsel baru istrinya yang biasa-biasa saja. Bukan merk ternama dengan harga luar biasa. Hanya ponsel sederhana, yang terpenting bisa untuk telepon dan mengirim pesan.
Baru saja ponsel baru yang baterainya hanya segaris itu dimasukan Bella ke dalam tasnya. Tiba-tiba ponsel itu berbunyi, mengagetkan Bella yang terheran dengan nomor tidak di kenalnya.
Tes.
Begitulah pesan yang terbaca yang membuat Bella mengerutkan dahinya.
“Kenapa, Sweetheart?” tanya Bara tertegun melihat istrinya yang tiba-tiba membeku di tempatnya berdiri.
“Tidak, Mas,” sahut Bella seadanya, membuang jauh rasa penasaran, memilih menikmati acara liburannya dengan mengekor Bara menuju ke mobil. Melempar kembali ponselnya ke dalam tas.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang ditumpangi sepasang suami istri itu akhirnya tiba juga di tempat menginap mereka yang lagi-lagi membuat Bella berdecak kagum. Lupa sudah dengan semua kekesalannya selama ini pada Bara.
“Kamu suka, Sweetheart?” tanya Bara, sesaat setelah mereka tiba di dalam kamar.
Kelelahan membuat Bella menghempaskan tubuh mungilnya ke atas tempat tidur empuk.
“Suka, Mas,” sahut Bella, merentangkan tangannya di tengah kasur sembari memejamkan matanya. Pemandangan yang membuat Bara tergoda. Jiwa lelakinya yang belakangan hanya disuguhkan kemarahan Bella padanya, tiba-tiba terpancing saat istrinya bisa bersikap semanis ini.
“Sweetheart, jangan marah lagi padaku. Maafkan aku,” bisik Bara.
Lelaki itu tiba-tiba sudah berada tepat di atas Bella, mengunci tubuh mungil kelelahan itu dengan senyuman menyeringai.
“Mas, mau apa?” tanya Bella. Bukannya ia tidak tahu dengan arti senyuman Bara. Beberapa bulan kebersamaan mereka, Bella mulai menamatkan banyak hal tentang suaminya, termasuk arti senyuman-senyuman nakal Bara.
“Aku akan melupakan pertengkaran kita selama berada di sini. Mas pindah sekarang,” lanjut Bella lagi. Mendorong kecil tubuh suaminya, sehingga terguling di sampingnya.
“Aku minta maaf untuk banyak hal yang sengaja ataupun tidak, yang sudah membuatmu sakit hati dan menyerah,” ucap Bara pelan. Menoleh ke samping, tempat istrinya berbaring.
Tangan kekar itu berpindah, mengusap lembut perut Bella. Selama beberapa hari ini ia kehilangan momen-momen indah bersama Bella dan calon bayi mereka. Dan sekarang ia akan membayarnya sampai tuntas.
Dalam hitungan detik, Bara sudah berpindah arah, wajahnya sudah berada tepat di perut Bella. Menyingkap kaus putih sederhana yang dikenakan Bella, sembari berbicara dengan penghuni kecil yang bersembunyi di dalam sana.
“Hai, Bara junior. Apa kabarmu?” bisiknya pelan. Mengecup perut rata itu perlahan sembari melukis dengan jarinya di sana, membuat istrinya kegelian.
__ADS_1
“Mas, jangan begini!” pekik Bella saat merasakan sensasi beda di area perut bawahnya.
“Aku sedang bermain dengan anakku, Bell,” sahut Bara, menaikan ke atas kaus yang melekat di tubuh Bella, supaya ia leluasa menggoda anaknya.
“Dear, katakan pada Mommy. Jangan meninggalkan Daddy lagi seperti kemarin,” bisik Bara, kembali fokus berbincang dengan calon anaknya. Lelaki itu menggunakan alasan itu untuk mengungkapkan perasaannya yang hampir hancur berantakan untuk kedua kalinya, saat mengetahui Bella meninggalkannya.
“Daddy tidak bisa hidup tanpa kalian,” lanjut Bara lagi, mengecup pelan perut rata, membuat istrinya mengelinjang sembari memekik kaget.
“Mas, jangan seperti ini!” protes Bella, saat Bara tidak berhenti mengecup di perutnya, membuat sensasi geli yang luar biasa.
Namun, bukan Bara namanya. Lelaki itu bukan menurut tetapi makin menjadi, bahkan sekarang pakaian atas Bella sudah keluar dari tubuh pemiliknya. Mempertontonkan keindahan yang menggoda tidak kalah dengan keindahan alam di sekitar resort tempat mereka menginap.
Bara baru saja akan melanjutkan kesenangannya, menikmati babymoon-nya di tengah protes istrinya yang menolak melayaninya dengan berbagai alasan, tiba-tiba ponsel dengan nada dering tidak biasa berbunyi nyaring mengganggu konsentrasinya, meruntuhkan hasrat yang sudah melayang di awan.
Keduanya terkejut, saling memandang sampai akhirnya Bella tersadar.
“Ponselku, Mas,” ucap Bella, segera bangkit dengan penampilannya yang hampir polos.
Tangan Bara lebih sigap, meraih tas Bella yang teronggok di kaki tempat tidur dan mengeluarkan ponsel baru istrinya. Dahinya berkerut saat melihat nomor penelepon yang tidak tersimpan.
“Siapa, Mas?” tanya Bella heran dengan ekpresi Bara.
“Biarkan aku saja. tidak ada namanya,” sahut Bara, menempelkan benda pipih milik istrinya itu di telinga.
“Hallo.,"
“Hallo."
Dua kali Bara menyapa dan hanya disambut keheningan. Baru saja lelaki itu akan mematikan panggilan telepon itu, tiba-tiba pendengarannya menangkap suara dari ponsel baru Bella.
“Maaf, Pak ... ini nomor ponsel Nona Bella, kan?” tanya seseorang dengan suara maskulin dari seberang.
Deg—
“Kamu siapa?” tanya Bara dengan mata melotot menahan cemburunya yang terpancing saat ada laki-laki yang menyebut nama istrinya.
***
T b c
Love you all
Terima kasih masih setia menunggu.
Maaf terlambat up beberapa hari ini.
__ADS_1