Menikahi Majikan Ibu

Menikahi Majikan Ibu
Bab 153 : Titip salam untuk Pram


__ADS_3

“Rissa?” Bara terkejut kali ini.


Bella mengangguk. Ada rasa bersalah menyergap relung hatinya. Bagaimana tidak? Pernyataan Brenda seperti menampar wajahnya. Sang kakak benar-benar sudah kelewatan. Tidak seharusnya Rissa berbuat sejauh itu.


Rissa sengaja datang menemui Brenda, dan mengajak mantan istri suaminya itu untuk bekerjasama menghancurkan Bara dan menghancurkan rumah tangganya. Padahal, sejauh ini Bara sudah bersikap baik padanya. Meskipun, Bella akui, Bara bukanlah orang yang suci. Ketika mengambil paksa Issabell dari tangan Rissa, suaminya menggunakan cara licik dan menyakitkan.


“Untuk apa Rissa menemui Brenda?” tanya Bara, tidak sabar menunggu istrinya bercerita.


“Mengajak Mbak Brenda bersekongkol, menghancurkan rumah tangga kita, Mas.” Ada rasa malu disembunyikan Bella. Mendengar kebenaran yang diceritakan Brenda, Bella terpukul. Tidak menyangka kakaknya sanggup melakukan hal seburuk itu.


Ibu hamil itu tertunduk, tangannya saling meremas, menutupi kecewanya pada Rissa yang sekarang menghuni jeruji besi.


“Pantas saja. Kamu ingat Bell. Rissa pernah memasukan nama Love di ponselku. Berarti dia tahu semua ceritaku dan Brenda. Sampai panggilanku saja dia tahu,” ucap Bara, pikirannya sedang menerawang kemana-mana. Merangkai kisah demi kisah yang terlewati.


“Ya, satunya love, satunya Han. Beberapa kali mbak Brenda terpeleset setiap menyebut namamu, Mas,” gerutu Bella, memperlihatkan kecemburuannya.


“Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu. Sejak kamu protes, aku tidak pernah lagi menyapanya. Aku tidak terbiasa menyapanya dengan panggilan lain. Aku yakin Brenda juga seperti itu.”


Bella mengangkat pandangannya, kali ini kedua netranya menatap lekat suaminya. “Dulu mungkin aku cemburu, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Aku mulai paham,” ucap Bella.


“Sama seperti saat aku memanggil kedua orang tua Brenda papa dan mama sampai sekarang. Aku sudah terbiasa, Bell. Maafkan aku, kalau panggilan itu terdengar menyakitkan.”


“Setelah berbincang lama dengan Mbak Brenda, aku mengerti banyak hal.”


“Oh ... Kenapa kamu terlihat manis sekali sekarang, Bell.” Bara merengkuh tubuh Bella, dan membawanya ke dalam dekapan.


“Biasanya aku tidak manis, Mas?” tanya Bella, menatap tajam pada suaminya.


Ditodong seperti itu, Bara langsung menelan ludah, kehabisan kata-kata. Perlu beberapa detik untuk laki-laki matang itu mencari jawaban.


“Biasanya manis juga, Bell, tetapi sekarang jauh lebih manis dan menggemaskan.” Kecupan ringan mendarat di pelipis Bella, suaminya menghadiahkan kecupan manis seperti seorang pencuri kesiangan.


“Dasar!” gerutu Bella kesal.


Mata berbinar itu meredup, kembali terngiang dengan ungkapan dan permohonan Brenda. Wajah memelas wanita diiringi kernyitan menahan sakit selalu melintas di ingatannya. Ada rasa bersalah saat mengingat ucapan memelas Brenda. Apalagi saat kalimat menyayat hati yang terucap bibir kering tampak gemetar menahan rasa


Senyuman getir Brenda masih membayang di pelupuk mat, dengan kalimat menyayat yang sanggup menggetarkan hati Bella.


“Aku mohon Bell, aku tidak menuntut lebih, cukup rawat putriku sampai dia bisa menjaga dirinya sendiri. Sampai dia tahu mana yang benar dan salah. Jangan biarkan jejak-jejak kelamku menghiasi masa depannya yang masih panjang dan cerah.”


Sepenggal kalimat yang tak sanggup Bella tepis saat ini. Kian membuatnya dihantui rasa bersalah saat penolakan itu sanggup keluar dari bibirnya.

__ADS_1


“Bersama keluargaku, masa lalu itu pasti akan menghantui langkah Rania. Aku tidak mau putriku menjadi sepertiku. Aku tahu, kamu orang baik, bersamamu Rania akan menjadi anak baik. Cukup izinkan putriku mengirim doa di pusaraku setahun sekali. Untukku cukup itu saja, aku tidak menuntut lebih.”


Dua bulir cairan bening itu jatuh, meninggalkan jejak basah di kedua pipi ibu hamil lima bulan itu. Bara tentu saja terkejut. Tidak ada kisah apa-apa, istrinya tiba-tiba menangis dalam diamnya,


“Ada apa, Bell? Kamu kenapa?” tanya Bara penasaran.


“Kenapa menangis?” tanya Bara, memaksa menghapus ait mata Bella dengan ujung jarinya.


Bella merengkuh leher suaminya tiba-tiba, mengunci lelaki itu dengan kedua tangannya dengan erat. Menangis sesengukan, menumpahkan semua rasa bersalah yang ditahannya sejak tadi.


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Bara kebingungan.


Telapak tangan itu sudah mengusap pelan punggung Bella yang bergetar hebat. Menyalurkan kekuatan agar istrinya berhenti menangis tanpa jelas seperti ini.


“Aku ... aku ... apa keputusanku menolak Rania itu sudah benar, Mas?” tanya Bella, di sela pelukan yang semakin erat.


“Aku tidak tahu, Bell. Apapun keputusanmu, aku akan mendukungnya.” Bara memberi pendapat.


“Ayo kita pulang. Aku masih harus mengecek email yang dikirim Kevin.”


Setelah menghentikan tangisnya, Bella akhirnya menggandeng mesra tangan suaminya kembali ke mobil.


***


“Ma ... mi!” pekik kecilnya, sembari berlari merentangkan kedua tangannya ke arah Bella, meminta naik ke gendongan.


Bara yang baru turun dari mobil sportnya, berteriak dari kejauhan. “Bell, aku saja yang menggendongnya.” Lelaki itu berlari menjemput putrinya dan menyambut Issabell. Sejak awaal kehamilan, dia tidak mengizinkan Bella menggendong Issabell. Takut terjadi sesuatu dengan kandungan Bella.


“Apa kabar anak daddy? Sudah makan?” tanya Bara menghadiahkan kecupan di kedua pipi gembul Issabell.


“si ... yo .. mai,” Issabell mengeja makanan yang tadi disuapi pengasuhnya.


Mendengar kata siomai, langkah kaki Bella yang berjalan mendahului ayah dan anak itu terhenti. Terbayang makanan berbumbu kacang dengan saos tomat dan kecap manis menggugah selera.


“Mas, aku mau siomai,” ucap Bella berbalik menatap Bara.


“Makanan apalagi itu, Bell? Masih satu aliran dengan rujak cingur, kah?” tanya Bara. Setelah sekian lama tidak meladeni permintaan aneh Bella, sekarang dia harus menghadapinya lagi.


“Ayo Mas, kita cari sekarang. Aku mau yang gerobakan warna coklat,” lanjut Bella lagi. Tiba-tiba keinginan itu muncul begitu saja, terbayang penjual siomai yang sering mangkal di depan kampusnya. Mang Usep, lengkap dengan gerobak coklatnya.


“Hah! Apa aku tidak salah dengar?” tanya Bara memastikan.

__ADS_1


Bella mengangguk dengan wajah memelasnya. Sudah terbayang nikmatnya makanan yang diucapkan Issabell.


“Di mana aku harus mencarinya, Bell?” tanya Bara lagi.


“Mas memang selalu begitu, setiap kali aku meminta sesuatu pasti Mas sudah keberatan terlebih dulu,” gerutu Bella, meneruskan langkahnya masuk ke dalam rumah.


“Bukan begitu, Bell. Ayo kita cari bersama ....” Suara Bara terhenti, Bella tidak mengubris lagi perkataannya. Istrinya memilih masuk ke dalam rumah menahan kesal.


“Mommy aneh-aneh saja, Ca. Mau makan siomai tetapi harus menyesuaikan dengan warna gerobaknya,” ucap Bara menggelengkan kepala. Lelaki itu ikut menggendong masuk putrinya, menyusul Bella yang sudah masuk duluan dengan kekesalannya.


Laki-laki itu masih menyempatkan bercanda dengn Issabell sebentar, sebelum naik ke kamarnya menyusul Bella. Tepat saat pintu kamarnya terbuka terdengar suara cempreng Kailla keluar dari ponsel istrinya yang sedang melakukan video call-an.


“Boo, aku sudah mengirim Ricko. Nanti setelah dari Mang Usep, dia langsung mampir ke rumahmu,” ucap Kailla.


“Aduh Kai, tidak perlu sekarang. Besok pulang kampus juga tidak apa-apa,” jelas Bella sungkan. Duduk di depan meja rias menatap wajah Kailla yang memenuhi layar ponselnya.


“Sudah. Ricko sudah on the way, tunggu saja di depan teras rumahmu.”


Bella mengangguk. Terbayang nikmatnya siomai panas Mas Usep yang sudah teruji warna gerobaknya.


“Hai Om Bara.” Tiba-tiba terdengar suara Kailla menyapa, melambaikan tangannya.


“Hmmmm,” gumam Bara dengan wajah kecutnya, mendengar nama Ricko disebut komplotan para istri membuat emosi Bara mencuat.


Bella tentu saja terkejut. Tidak mendengar langkah kaki, tiba-tiba suaminya sudah berdiri di belakang.


“Kamu mengirim apa ke rumahku, Kai?” tanya Bara, membungkuk. Menatap sinis pada Kailla.


“Ah ... Om Bara. Matanya jangan seperti itu, nanti kalau tidak bisa kembali normal lagi, bagaimana?” ledek Kailla.


“Mana suamimu?” tanya Bara, bersiap melancarkan serangan pada Kailla.


“Masih sore, suamiku masih di kantor, Om.”


“Pantas saja! Istrinya mengirim kekacauan ke rumahku, dia tidak tahu,” celetuk Bara.


Kailla menelan saliva.


“Sudah, aku matikan dulu, ya. Titip salam untuk Pram, besok aku akan membuat perhitungan dengannya kalau malam ini aku bertengkar dengan istriku.”


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2